Strategi Dosen Berprestasi Mengajukan Kenaikan Jabatan
Ekspres
| STRATEGI DOSEN BERPRESTASI |
Di dunia dosen, ada dua tipe orang ketika bicara soal kenaikan jabatan akademik.
Tipe pertama: “Yang penting ngajar dulu, urusan jabatan nanti saja.”
Tipe kedua: “Saya mau karier akademik jalan, tapi tetap realistis dan terukur.”
Nah, dosen berprestasi yang berhasil mengajukan kenaikan
jabatan ekspres biasanya masuk tipe kedua. Mereka bukan cuma
rajin, tapi strategis. Mereka tidak
sekadar menunggu waktu, melainkan mengelola karier
akademik secara sadar.
Pertanyaannya:
π Apa sebenarnya yang dimaksud dengan
kenaikan jabatan ekspres?
π Apakah ini jalan pintas?
π Dan strategi apa yang benar-benar dipakai
dosen berprestasi di lapangan?
Mari kita bahas pelan-pelan, tanpa jargon
berlebihan.
Apa
Itu Kenaikan Jabatan Ekspres?
Istilah kenaikan jabatan
ekspres sebenarnya bukan istilah resmi dalam
regulasi, tapi populer di kalangan dosen. Maksudnya adalah:
Kenaikan jabatan akademik yang ditempuh dalam
waktu relatif cepat, tanpa melanggar aturan,
karena dosen sudah siap secara angka kredit, karya ilmiah, dan kinerja.
Contohnya:
·
Asisten Ahli → Lektor dalam
waktu singkat
·
Lektor → Lektor Kepala
tanpa “parkir” lama
·
Bahkan dalam kasus
tertentu, siap untuk kenaikan loncat
Jadi, ekspres di sini bukan
instan, tapi hasil persiapan matang sejak awal.
Mitos yang
Harus Diluruskan
Sebelum bicara strategi, kita luruskan dulu
beberapa mitos yang sering beredar di grup dosen:
❌ “Kenaikan cepat itu
karena orang dalam”
❌ “Yang penting dekat pimpinan”
❌ “Tergantung kebijakan kampus”
Faktanya:
✔ Penilaiannya berbasis angka
kredit dan kualitas karya
✔ Asesor bekerja dengan instrumen
nasional
✔ Dokumen bicara lebih keras daripada relasi
Dosen berprestasi paham satu hal: sistem
bisa dinegosiasi, tapi standar akademik tidak bisa dibohongi.
Strategi 1: Bangun Mindset
Karier Sejak Awal
Dosen yang naik jabatan cepat tidak
menunggu disuruh.
Sejak awal mereka sadar bahwa:
·
Jabatan akademik bukan
formalitas
·
Tapi cerminan kompetensi
dan reputasi keilmuan
Mereka bertanya:
·
“Kalau saya mau Lektor
Kepala, apa syaratnya?”
·
“Karya apa yang dinilai
paling kuat?”
·
“Saya mau dikenal sebagai
pakar di bidang apa?”
π Strategi
kunci:
Jangan bekerja dulu baru mengecek aturan.
Cek aturan dulu, baru bekerja secara terarah.
Strategi 2:
Fokus pada Angka Kredit Bernilai Tinggi
Dosen berprestasi tidak asal mengumpulkan
angka kredit. Mereka tahu bahwa:
·
Tidak semua kegiatan
bernilai sama
·
Tidak semua publikasi
dihitung setara
·
Kualitas jauh lebih
menentukan daripada kuantitas
Contoh konkret:
·
1 artikel di jurnal
bereputasi bisa “mengalahkan” 5 artikel jurnal biasa
·
Menjadi penulis utama lebih
strategis daripada penulis pendamping
·
Penelitian berkelanjutan
lebih kuat daripada proyek sporadis
Mereka bertanya:
π “Kegiatan ini membantu
kenaikan jabatan saya atau hanya bikin capek?”
Strategi
3: Publikasi sebagai Investasi, Bukan Beban
Bagi dosen yang kariernya ekspres, publikasi
bukan momok.
Mereka memperlakukan publikasi sebagai:
·
Investasi jangka panjang
·
Portofolio akademik
·
Alat legitimasi keilmuan
Yang menarik, mereka tidak
menunggu ‘siap sempurna’. Mereka:
·
Menulis sambil mengajar
·
Meneliti sambil membimbing
·
Mempublikasikan hasil
kegiatan nyata
π Prinsip mereka
sederhana:
Done is better than perfect, asal sesuai
standar.
Strategi
4: Pahami Detail Regulasi (Bukan Sekadar Judulnya)
Ini pembeda utama dosen biasa dan dosen
strategis.
Dosen berprestasi:
·
Membaca Permendikbud/Permendikbudristek
·
Memahami PO
PAK
·
Mengikuti kebijakan terbaru
Ditjen Dikti
Mereka tahu:
·
Batas minimal dan maksimal
angka kredit
·
Syarat khusus setiap
jenjang
·
Kapan uji kompetensi
dibutuhkan
·
Karya apa yang bisa dan
tidak bisa dinilai
Banyak dosen tertunda naik jabatan bukan karena kurang
karya, tapi karena:
❌ Salah komposisi
❌ Salah kategori
❌ Salah tafsir aturan
Strategi 5: Menyiapkan Dokumen
Sejak Jauh Hari
Kenaikan jabatan bukan lomba dadakan.
Dosen yang ekspres biasanya:
·
Menyimpan bukti kegiatan
sejak awal
·
Mengarsipkan SK,
sertifikat, dan karya
·
Merapikan data di SISTER
secara berkala
Mereka tidak panik ketika:
π£ “Pengusulan dibuka bulan depan!”
Karena dokumen mereka sudah
siap, bukan baru dicari.
Strategi 6:
Memanfaatkan Uji Kompetensi sebagai Panggung
Uji kompetensi sering dianggap momok. Padahal
bagi dosen berprestasi, ini justru panggung akademik.
Mereka melihat uji kompetensi sebagai:
·
Kesempatan menunjukkan
konsistensi keilmuan
·
Ajang validasi karya
·
Sarana menunjukkan kematangan
akademik
Karena sejak awal:
·
Bidang keilmuannya jelas
·
Publikasinya linear
·
Karyanya relevan
Mereka tidak perlu “mengarang jawaban”, cukup menjelaskan
apa yang memang sudah dikerjakan.
Strategi
7: Bangun Reputasi, Bukan Sekadar Jabatan
Ironisnya, dosen yang naik jabatan cepat jarang
terobsesi pada jabatan.
Fokus utama mereka adalah:
·
Kualitas keilmuan
·
Dampak akademik
·
Kontribusi nyata
Justru karena reputasi itu:
·
Jabatan mengikuti
·
Rekomendasi mengalir
·
Pengusulan lebih meyakinkan
π Jabatan itu efek samping
dari kerja akademik yang benar.
Kesalahan
yang Membuat “Ekspres” Jadi “Ekstra Lama”
Beberapa kesalahan klasik yang justru menghambat:
❌ Baru aktif ketika mau naik
jabatan
❌ Terlalu banyak kegiatan bernilai rendah
❌ Publikasi tidak linear
❌ Tidak update kebijakan
❌ Menganggap semua dosen diperlakukan sama
Padahal sistem penilaian sangat
kontekstual dan berbasis bukti.
Penutup:
Ekspres Itu Soal Strategi, Bukan Keberuntungan
Kenaikan jabatan ekspres bukan hadiah, bukan pula
jalan pintas. Ia adalah hasil dari kesadaran karier, disiplin
akademik, dan kecerdasan membaca sistem.
Dosen berprestasi tidak bekerja lebih keras dari
yang lain—mereka bekerja lebih terarah.
Kalau hari ini jabatan Anda belum naik, mungkin bukan karena kurang pintar,
tapi karena:
π strategi belum tepat
π arah belum jelas
π regulasi belum dipahami utuh
Dan kabar baiknya: semua itu bisa
dipelajari dan diperbaiki.
Referensi
·
Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
·
Permendikbud Nomor 92 Tahun
2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penilaian Angka Kredit Jabatan
Akademik Dosen
·
Permendikbudristek Nomor 44
Tahun 2024 tentang Jabatan Akademik Dosen
·
Pedoman Operasional
Penilaian Angka Kredit (PO PAK) Dosen, Ditjen Dikti
·
Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi. Panduan Kenaikan Jabatan Akademik Dosen
![]() |
| PENERBIT BUKU |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar