๐ Karya Seni sebagai
Syarat Kenaikan Jabatan: Peluang bagi Dosen Seni
| Karya Seni sebagai Syarat Kenaikan Jabatan |
Halo Sobat Dosen Seni! ๐จ๐จ๐ฉ๐จ
Siapa di antara kamu yang sering merasa bingung soal bagaimana karya seni bisa “berbicara” di dunia akademik formal seperti kenaikan jabatan dosen? Kalau selama ini kamu pikir publikasi ilmiah di jurnal adalah satu-satunya jalan untuk naik jabatan, kamu perlu tahu: karya seni sekarang ikut mendapat pengakuan sebagai salah satu syarat kenaikan jabatan akademik dosen — khususnya bagi dosen yang memang berkecimpung di bidang seni dan kreativitas ๐ญ๐จ.
Di artikel ini, kita akan mengulas secara lengkap, santai, tapi
tetap bergizi, tentang bagaimana karya seni diakui, apa saja
contohnya, dan bagaimana hal ini menjadi peluang besar bagi dosen seni dalam
merancang strategi karier akademik mereka. Yuk kita mulai! ๐
๐ฏ Seni dan Akademik: Dari Dua Dunia Jadi Satu
Selama ini, dunia akademik Indonesia sangat kental dengan budaya publikasi
ilmiah: artinya penelitian dituangkan dalam artikel yang dimuat
di jurnal nasional atau internasional. Tradisi ini sahih dan penting dalam
sebagian besar disiplin ilmu.
Tapi bagi dosen seni — seperti seni rupa, seni pertunjukan, seni media,
kriya, desain, atau sastra — banyak karya terbaik tidak bisa “ditulis”
sebagai artikel ilmiah biasa. Lalu bagaimana perannya dipandang
di dunia akademik? Ini yang sekarang dimulai era barunya:
karya seni dipandang bukan hanya sekadar “output kreatif”, tetapi juga “hasil
akademik yang bernilai” apabila memenuhi beberapa kriteria
tertentu.
๐ Dasar Aturan Baru: Pengakuan Karya Seni dalam
JAD
Dalam revisi Petunjuk Teknis kenaikan jabatan akademik dosen (JAD) yang baru
— misalnya di Kepmen Nomor 63/M/KEP/2025 — hasil
karya seni diakui sebagai salah satu syarat khusus untuk kenaikan jabatan
akademik selain publikasi ilmiah.
Singkatnya, aturan terbaru mengakui bahwa:
๐ Karya seni yang diakui
oleh perguruan tinggi, nasional, atau internasional bisa
dipakai sebagai salah satu syarat khusus
untuk urusan kenaikan jabatan akademik dosen — terutama untuk dosen di bidang
seni dan desain.
Artinya, kalau kamu seorang dosen seni yang selama ini fokus berkarya —
membuat pameran, pentas, instalasi, publikasi karya visual atau performatif — karyamu
bisa dihitung sebagai output akademik setara dengan artikel ilmiah,
asalkan karya itu memenuhi kriteria tertentu yang bisa dibuktikan secara
administratif dan substansial.
Ini jelas jadi angin segar banget buat
kamu yang selama ini berkutat di studio atau panggung — karena selama ini karya
seni sering dianggap hanya ekspresi kreatif tanpa
bobot formal di dalam portofolio kenaikan jabatan.
๐ ️ Apa Saja yang Termasuk “Karya
Seni” yang Diakui?
Sebelum kita bicara strategi, penting banget memahami apa
saja yang diperhitungkan sebagai karya seni dalam konteks
kenaikan jabatan. Berdasarkan petunjuk teknis terbaru tentang kriteria hasil
karya seni sebagai syarat kenaikan JAD yang dirilis kementerian pendidikan,
karya seni yang bisa diakui meliputi beberapa hal berikut:
๐จ 1. Seni Rupa
·
Pameran
karya pribadi atau kelompok di forum lokal, nasional, atau
internasional.
·
Kriteria ditentukan
berdasarkan level pameran: misalnya pameran nasional harus diikuti peserta dari
minimal 5 provinsi; pameran internasional diikuti peserta dari beberapa negara.
·
Dokumentasi pameran (foto
karya, katalog, undangan resmi, dan bukti apresiasi yang tertulis atau
terekam).
๐ญ 2. Seni Pertunjukan
·
Pertunjukan
teater, tari, musik, atau multimedia dengan rekaman resmi dan
bukti penilaian atau ulasan dari kurator atau kritikus.
·
Bukti undangan atau
keterlibatan dalam festival atau festival internasional yang diakui.
๐ฅ 3. Kriya dan Media Rekam
·
Karya kriya yang
dipamerkan, direkam, atau dibahas secara resmi dalam forum pameran atau
publikasi kreatif yang terakui.
·
Dokumentasi yang memadai
menandakan bahwa karya itu punya nilai tambah selain estetika, seperti inovasi
atau relevansi budaya.
๐ 4. Seni Sastra dan Media
·
Hasil karya sastra
(misalnya buku puisi, novel, esai kreatif) yang mendapatkan pengakuan kritis
dan/atau nominasi penghargaan.
·
Media rekam yang mendapat
pengakuan luas (festival film, publikasi multimedia berpengaruh).
๐ Kriteria Penting Agar Karya Seni Diakui
Supaya karya seni kamu diakui sebagai syarat khusus JAD,
bukan hanya asal karya yang dipajang di Instagram. Ada kriteria
penting administratif dan substansial yang perlu dipenuhi:
๐งพ Bukti
Administratif yang Harus Disiapkan
✔ Bukti undangan resmi dari pameran atau festival
(surat tertulis)
✔ Foto/video dokumentasi karya
✔ Katalog pameran atau program pertunjukan
✔ Deskripsi karya lengkap dengan gagasan/konsep
kreatifnya
✔ Bukti apresiasi atau pemaparan karya oleh pihak
ketiga (kritikus, media massa, diskusi ilmiah, review publik)
✔ Surat penilaian atau sertifikat dari
kurator/panitia pameran ๐
Dokumen-dokumen ini penting karena tim asesor JAD perlu
bukti kuat bahwa karyamu bukan sekadar karya personal, tetapi karya yang punya
resonansi luas di komunitas seni dan/atau publik.
๐ก Contoh Karya Seni yang Bisa Dipakai untuk JAD
Berikut beberapa contoh nyata jenis karya yang bisa memenuhi syarat (dengan
catatan: perlu dokumentasi lengkap):
๐จ Pameran tunggal di
galeri nasional — misalnya pameran solo di galeri seni besar di
ibukota atau kota provinsi, dengan katalog resmi dan liputan media.
๐ญ Pertunjukan sandiwara
atau tari yang terrekam dan direview oleh media seni di
festival nasional atau internasional.
๐ฅ Film pendek atau media
video eksperimental yang masuk seleksi festival internasional —
bukan sekadar unggahan di kanal pribadi.
๐ Karya sastra yang
memenangkan penghargaan dan diterbitkan oleh penerbit besar
yang diakui secara nasional atau internasional.
๐ Kenapa Ini Jadi Peluang Besar buat Dosen Seni?
Dosen seni selama ini sering berada pada posisi unik: karya mereka punya nilai
estetika atau budaya yang tinggi, tetapi secara tradisional
penilaian akademik sangat menekankan publikasi ilmiah teori atau riset
kuantitatif. Perubahan pengakuan karya seni sebagai bagian dari
JAD berarti:
๐ฏ Kamu tidak lagi harus “dipaksa” menulis
artikel ilmiah di jurnal ilmiah ketika justru karya unggulan kamu adalah komposisi
musik, pameran seni, atau film karya pribadi.
๐จ Karya kreatif kamu sekarang terhitung
sebagai hasil akademik yang punya angka kredit, asalkan ada
bukti formal yang kuat.
๐ Ini juga memberi peluang mengurangi
tekanan dosen seni mengejar publikasi ilmiah teoretis, yang
kadang bukan bidang kekuatan utamanya.
๐ง Strategi Cerdas untuk Memaksimalkan Karya Seni
dalam JAD
Supaya karya seni kamu benar-benar diakui dan bernilai tinggi untuk kenaikan
jabatan, berikut strategi yang bisa kamu terapkan:
๐ 1. Rencanakan Karya dengan Dokumentasi
Lengkap
Saat menciptakan karya seni, pikirkan juga pengakuan formalnya
— misalnya:
✔ Siapkan portofolio foto/video
✔ Dapatkan katalog pameran resmi
✔ Sertakan deskripsi gagasan karya yang kuat
✔ Kumpulkan bukti review atau ulasan yang bisa jadi
lampiran administratif
๐ 2. Targetkan Pameran atau Festival yang
Diakui
Tidak semua pameran punya bobot yang sama. Usahakan karya kamu:
✔ Diundang dalam pameran dengan peserta dari beberapa
provinsi atau negara
✔ Dipublikasikan atau dibahas oleh pihak ketiga
(media seni, jurnal seni)
✔ Disertai katalog atau dokumentasi kuratorial yang
profesional
๐ 3. Kombinasikan Seni dengan Penulisan
Ilmiah bila Perlu
Walaupun karya seni diakui, tetap baik kalau kamu bisa memadukan karya
tersebut dengan esai ilmiah singkat yang menjelaskan
konteks teoretisnya — ini bisa memperkuat alasan asesor dalam
menilai karyamu sebagai output akademik serius.
๐ Penutup: Seni Itu Akademik Juga
Perubahan ini merupakan moment monumental bagi
dosen seni di Indonesia. Selama ini karya seni sering dianggap berada “di luar
sistem”, tetapi sekarang — karena regulasi JAD menetapkan karya seni sebagai
komponen yang diakui — kamu tidak perlu lagi merasa karya kreatifmu kurang
dihargai dalam kerangka akademik formal.
Ini bukan hanya soal memenuhi syarat administratif,
tetapi juga tentang pengakuan bahwa seni itu adalah wujud
pengetahuan dan kontribusi akademik yang sah. Menjadi dosen
seni sekarang berarti kamu bisa membawa jejaring estetika,
budaya, dan ekspresi kreatif ke meja penilaian karier akademik kamu
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar