✍️ Penulis Pertama atau
Korespondensi? Ini Dampaknya pada Penilaian JAD
| Penulis Pertama atau Korespondensi |
Halo teman-teman dosen! 👋
Kalau kamu lagi berjuang buat kenaikan jabatan akademik (JAD) — entah dari Asisten Ahli ke Lektor, Lektor ke Lektor Kepala, atau Lektor Kepala ke Profesor — pasti pernah mendengar istilah penulis pertama dan penulis korespondensi (corresponding author). Dua istilah ini sering banget bikin pusing, terutama saat menyusun publikasi jurnal agar maksimal bernilai angka kredit dalam penilaian PAK.
Nah, artikel ini bakal bantu kamu memahami perbedaan
peran kedua jenis penulis itu, cara kerja penilaian
angka kreditnya, dan strategi supaya
publikasi kamu “menguntungkan” secara administratif.
🧠 Pertama-tama: Siapa Sih Penulis
Pertama, Penulis Korespondensi, dan Penulis Utama?
Agar kita punya bahasa yang sama, berikut
definisi singkat dari istilah-istilah penting dalam publikasi jurnal yang
diakui dalam Pedoman Operasional Penilaian Angka
Kredit Kenaikan Jabatan Akademik Dosen:
📌 Penulis Pertama
Orang yang namanya tertera pertama dalam daftar penulis artikel. Biasanya
dianggap sebagai kontributor utama dalam riset dan penulisan.
📌 Penulis Pendamping
Nama-nama penulis berikutnya setelah penulis pertama dalam naskah jurnal.
📌 Penulis Korespondensi
Orang yang bertanggung jawab terhadap korespondensi dengan
jurnal (submission, komunikasi revisi, strategi publikasi, dan
publikasi akhir).
📌 Penulis Utama
Istilah teknis dalam penilaian angka kredit yang mencakup penulis
pertama atau penulis korespondensi. Jadi kalau kamu berperan
sebagai salah satu dari dua peran ini, kamu disebut penulis
utama.
Artinya: tidak semua penulis punya “kekuatan”
angka kredit yang sama dalam penilaian JAD. Itu sebabnya penting
banget tahu mana peran yang benar-benar bernilai tinggi saat dinilai oleh
asesor PAK.
📊
Mengapa Posisi Penulis Itu Penting dalam Penilaian Angka Kredit?
Sistem penilaian dalam JAD bukan hanya soal “ada publikasi atau tidak”.
Dalam Pedoman Operasional PAK,
kunci nilai angka kredit dari publikasi ilmiah dihitung berdasarkan
peran penulisnya — bukan semata jumlah penulis.
👉 Jadi publikasi artikel yang kamu tulis bisa
saja punya angka kredit besar kalau:
• Kamu jadi penulis pertama, atau
• Kamu menjadi penulis korespondensi,
atau
• Kamu berperan sebagai penulis utama (yakni salah satu dari dua
peran tadi).
Tetapi peran kamu dalam daftar penulis akan sangat memengaruhi berapa
persentase angka kredit yang bisa kamu klaim.
📌 Cara Penilaian Angka Kredit Berdasarkan Peran Penulis
Menurut Pedoman Operasional PAK (yang juga dipakai dalam penilaian JAD),
skema pembagian kredit untuk publikasi jurnal adalah sebagai berikut:
📌 1. Kamu adalah Penulis Pertama sekaligus
Penulis Korespondensi
➡️ Kamu berhak atas 60%
dari total angka kredit karya ilmiah itu.
🧠 Ini seringkali merupakan posisi paling menguntungkan,
karena kamu mengambil dua peran utama sekaligus — sebagai kontributor inti
sekaligus orang yang bertanggung jawab melayani semua komunikasi dengan jurnal.
📌 2. Kamu adalah Penulis Koordinasi tetapi
Bukan Penulis Pertama
➡️ Dalam hal ini penulis pertama
dan penulis korespondensi masing-masing berhak 40%
dari total angka kredit.
➡️ Sisanya (20%) dibagi kepada penulis pendamping
lainnya.
👉 Jadi kalau kamu berada di posisi
korespondensi tapi bukan penulis pertama, angka kreditmu tetap besar — namun tidak
sebesar yang mendapatkan peran ganda sebagai penulis pertama + korespondensi.
📌 3. Hanya Ada Dua Penulis dalam Artikel —
Penulis Pertama dan Penulis Korespondensi
➡️ Kedua penulis masing-masing berhak 50%
dari angka kredit publikasi.
Situasi ini sering terjadi ketika artikel ditulis hanya oleh dua orang, di
mana satu jadi penulis pertama dan satu lagi penulis korespondensi.
📌 4. Kamu “Cuma” Penulis Pendamping
➡️ Angka kredit kamu lebih kecil
karena mayoritas nilai dibagi kepada penulis pertama dan/atau korespondensi.
👉 Jadi perhatikan: posisi di daftar penulis itu
bukan sekadar etiket — itu berpengaruh langsung pada angka
kredit yang kamu dapatkan untuk JAD.
🧠 Apa Makna dari Penilaian Ini
Secara Praktis?
Kalau kamu baru mulai ngejar publikasi untuk memenuhi syarat kenaikan
jabatan, ini beberapa hal yang perlu kamu tahu:
🧩 1. Jangan Anggap Sama Semua
Nama Penulis
Dalam banyak budaya jurnal internasional atau nasional, sering dianggap:
·
Penulis pertama adalah yang
paling banyak kontribusinya
·
Penulis korespondensi
adalah yang mengatur proses publikasi
Tapi dalam JAD di Indonesia, kedua
posisi ini dinilai sebagai “penulis utama”— dan angka kreditnya
dibedakan berdasarkan apakah kamu melakukan kedua peran itu atau hanya satu
dari keduanya.
🧩 2. Penulis Pertama Tidak
Otomatis Memberi Kamu Kredit Maksimal Selalu
Banyak orang berpendapat “kalau aku penulis pertama, kredit pasti maksimal”.
Itu tidak sepenuhnya benar:
✔ Kalau kamu jadi penulis pertama dan
juga korespondensi, kamu dapat bagian terbesar.
✔ Kalau kamu penulis pertama tapi
bukan korespondensi, maka kamu dan korespondensi saling berbagi
(masing-masing 40%).
Artinya: strategi penetapan siapa yang jadi korespondensi juga memengaruhi
angka kredit yang kamu klaim.
🧩 3. Dokumen Pendukung Penting!
Kalau kamu mengklaim sebagai penulis korespondensi,
bukti yang kamu lampirkan harus kuat. Ini termasuk:
✔ Bukti submission
artikel (mis. konfirmasi ke jurnal)
✔ Acceptance letter
✔ Bukti proses review yang menunjukkan artikel layak
dipublikasikan
🔎 Surat pernyataan dari redaksi jurnal saja tidak
cukup untuk menjadikan kamu sebagai penulis korespondensi.
📍
Kontroversi Akademik: “Apakah First Author & Corresponding Sama Nilainya?”
Dalam literatur internasional juga sering dibahas bagaimana posisi
penulis memengaruhi evaluasi karier akademik secara global.
Beberapa riset menunjukkan bahwa penulis yang berada
dalam posisi pertama atau penulis utama cenderung dipandang
lebih menonjol dalam evaluasi karier, karena diasosiasikan dengan kontribusi
inti terhadap penelitian.
Namun konteksnya bisa berbeda antara disiplin ilmu dan budaya penulisan:
✔ Di beberapa disiplin, peran corresponding
author (meski bukan pertama) dipandang sebagai kepemimpinan
proyek.
✔ Di bidang lain, first author
lebih dipandang sebagai yang paling banyak bekerja dalam riset.
Tapi dalam konteks penilaian angka kredit JAD di Indonesia,
instrumennya jelas: penulis utama (first author atau corresponding) yang
diakui, dengan ketentuan pembagian grafik seperti yang telah dijelaskan.
🧠 Strategi Pintar Supaya Publikasi Kamu “Bernilai”
Maksimal
Berikut strategi yang bisa kamu terapkan ketika merencanakan publikasi untuk
kenaikan jabatan:
🎯 1. Diskusikan Peran Penulis dari Awal
Sebelum menulis, diskusikan siapa yang akan menjadi first
author dan corresponding author. Ini
penting karena:
✔ Penulis pertama biasanya yang paling banyak bekerja
di artikel
✔ Penulis korespondensi bukan selalu orang yang
paling banyak tulis — tetapi bertanggung jawab secara administratif terhadap
publikasi
Dengan rencana terang sejak awal, kamu bisa mengatur siapa yang akan mendapatkan
angka kredit terbanyak berdasarkan kontribusi nyata.
📋 2. Mainkan Peran yang Meningkatkan Nilai
Kamu
Kalau kamu ingin mengoptimalkan angka kredit untuk JAD:
✔ Jadi penulis pertama dan
korespondensi kalau memungkinkan
✔ Atau setidaknya jadi salah satu dari dua peran
utama itu dalam beberapa publikasi
Karena penulis pertama sekaligus korespondensi mendapatkan bagian terbesar
dari angka kredit (60%).
🗂 3. Dokumentasikan Segala Bukti Proses
Kalau kamu mengklaim sebagai korespondensi, ingat:
📌 Surat pernyataan dari
jurnal saja tidak cukup
📌 Kamu harus punya bukti
korespondensi dan proses submission yang jelas.
🧠 Penutup: Pilih Peranmu dengan Bijak!
Dalam dunia akademik, publikasi bukan hanya soal ibadah
ilmiah, tetapi juga strategi karier
— terutama saat kamu mengejar kenaikan jabatan. Mengetahui perbedaan antara penulis
utama (first author & corresponding) dan penulis
pendamping bukanlah sekadar kursus etik penulisan, tetapi juga perhitungan
angka kredit yang real dalam proses penilaian JAD.
🤓 Jadi kalau kamu sedang menyusun artikel dan mulai memikirkan siapa
yang akan jadi penulis pertama atau korespondensi — pikirkan juga:
“Siapa dari kita yang ingin mendapatkan angka kredit maksimal
untuk memenuhi syarat kenaikan?”
Karena dalam skema JAD Indonesia, itu bukan
sekadar soal urutan nama — tetapi tentang berapa kredit yang bisa
kamu klaim demi karier akademikmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar