Standar Jurnal Nasional dan Internasional untuk Kenaikan Jabatan Dosen

 

Standar Jurnal Nasional dan Internasional untuk Kenaikan Jabatan Dosen

Halo, Sobat Akademik! ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿซ๐Ÿ‘จ๐Ÿซ
Kalau kamu seorang dosen yang sedang mengejar kenaikan jabatan fungsional — entah dari Asisten Ahli ke Lektor, Lektor ke Lektor Kepala, atau bahkan Lektor Kepala ke Profesor — salah satu komponen yang paling menentukan adalah publikasi ilmiah di jurnal nasional atau internasional. Tapi seperti apa sih standar jurnal itu? Apa bedanya jurnal nasional dengan internasional? Dan jurnal seperti apa yang benar-benar “diakui” untuk kenaikan jabatan dosen? Yuk kita bahas lengkap, dari definisi sampai kiat memilih tempat publikasi yang tepat! ๐Ÿ“š✨

Standar Jurnal Nasional 

 

๐Ÿ“Œ Kenapa Publikasi Jurnal Itu Penting untuk Dosen?

Dalam sistem kenaikan jabatan fungsional dosen di Indonesia, angka kredit (AK) dari publikasi karya ilmiah menjadi salah satu komponen penting dalam memenuhi syarat administratif dan substansial. Publikasi bukan sekadar “tambah nilai”, tapi sering diatur secara spesifik dalam pedoman penilaian angka kredit. Artinya: kalau kamu salah pilih jurnal, bisa saja angkanya kecil atau bahkan tidak diakui untuk kenaikan jabatan.

Itu sebabnya kamu perlu paham standar jurnal yang diakui — baik nasional, nasional terakreditasi, maupun internasional atau internasional bereputasi — agar publikasi kamu benar-benar “berharga” dalam proses administratif dan penilaian angka kredit. ๐Ÿ˜Ž

 

๐Ÿง  1. Jurnal Nasional — Apa Itu dan Standarnya?

๐Ÿ“Œ Definisi Singkat

Jurnal nasional adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan di dalam negeri. Tidak semua jurnal nasional otomatis diterima untuk kenaikan jabatan — berasal dari pedoman penilaian angka kredit dosen, yang membedakan lagi antara “nasional biasa” dan “nasional terakreditasi”.

Menurut pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), syarat minimal jurnal nasional mencakup:
Ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika akademik
Memiliki ISSN
Mempunyai versi online
Diterbitkan oleh badan ilmiah atau institusi akademik
Memuat artikel dari penulis yang berasal dari minimal dua institusi berbeda
Dewan redaksi terdiri dari para ahli yang kredibel
Bahasa yang digunakan bisa Indonesia atau Inggris (dengan abstrak terjemahan sesuai kebutuhan)

Sederhananya, jurnalnya harus bener-bener merupakan wadah ilmiah, bukan sekadar buletin kampus atau kumpulan artikel tanpa standar peer review yang jelas.

 

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional Terakreditasi

Nah, ini yang paling sering jadi favorit dalam proses kenaikan jabatan: jurnal nasional terakreditasi, biasanya berdasarkan SINTA (Science and Technology Index).
Jurnal yang sudah terakreditasi SINTA 1 atau 2 biasanya diakui memberikan nilai angka kredit yang lebih tinggi dibanding jurnal yang masih SINTA 3–6 atau jurnal nasional biasa.

๐Ÿ“ Contohnya:

·         Jurnal terakreditasi SINTA 1 atau 2 — nilai angka kredit tertinggi.

·         Jurnal terakreditasi SINTA 3–6 — masih diakui, tapi poinnya lebih kecil.

·         Jurnal nasional tanpa akreditasi — tetap bisa dihitung, tapi bobotnya sering lebih rendah atau kadang tidak cukup memenuhi syarat publikasi wajib.

๐Ÿ‘‰ Karena itulah banyak dosen “ngejar” publikasi di jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 atau 2 — supaya angka kreditnya lebih tinggi dan lebih efektif untuk kenaikan jabatan.

 

๐ŸŒ 2. Jurnal Internasional — Standar yang Lebih Global

Kalau jurnal nasional berbasis di dalam negeri, jurnal internasional punya cakupan yang jauh lebih luas dan biasanya menjadi nilai tambah besar dalam kenaikan jabatan, khususnya dari Lektor ke Lektor Kepala atau Lektor Kepala ke Profesor.

๐Ÿ“Œ Apa Syarat Jurnal Internasional?

Menurut pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), artikel yang diterbitkan di jurnal internasional harus:

Ditulis mengikuti kaidah ilmiah dan etika akademik
Memiliki ISSN
Ditulis menggunakan bahasa resmi PBB (misalnya Inggris, Perancis, Spanyol, dll.)
Dipublikasikan secara online
Editor Editorial Board-nya mencerminkan pakar dari berbagai negara
Artikel dari jurnal itu terindeks dalam basis data yang kredibel (misalnya Scopus, WoS, atau basis data lainnya yang diakui)
Tidak termasuk dalam daftar jurnal yang diragukan kredibilitasnya oleh Ditjen Dikti atau lembaga terkait

Ini artinya: jurnal internasional harus bersifat peer-review, terhubung dengan komunitas ilmiah global, dan bukan “jurnal hitam” yang terbitkan artikel secara massal tanpa review yang ketat.

 

๐ŸŒ Jurnal Internasional Bereputasi — Levelnya Lebih Tinggi

Kalau jurnal internasional biasa sudah bagus, jurnal internasional bereputasi adalah standar tertinggi yang diincar banyak dosen yang mengejar jabatan fungsional tinggi (misalnya Lektor Kepala atau Profesor).

๐Ÿ”น Ciri jurnal internasional bereputasi:

·         Terindeks di basis data bereputasi tinggi seperti Scopus atau Web of Science (WoS).

·         Memiliki metric atau impact indicator yang jelas (misalnya SJR atau impact factor).

·         Editor board dan publikasi akademik yang diakui secara global.

๐ŸŽฏ Biasanya, publikasi di jurnal internasional bereputasi diberi angka kredit lebih tinggi dibanding non-bereputasi, dan juga jadi syarat wajib untuk kenaikan ke jenjang atas seperti Profesor/Guru Besar.

 

๐Ÿ“Š Standar Mana yang “Lebih Berarti” untuk Kenaikan Jabatan?

Jika kita lihat konteks sistem penilaian angka kredit dan kenaikan jabatan akademik dosen di Indonesia, standar publikasi jurnal ini bisa dibagi dalam beberapa tingkatan nilai:

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional Terakreditasi (SINTA 1/2)
→ Memberikan angka kredit besar yang mendukung kenaikan jabatan.

๐Ÿ“Œ Jurnal Internasional (terindeks resmi dengan ISSN dan standar ilmiah)
→ Diperhitungkan dan biasanya punya bobot lebih tinggi daripada jurnal nasional biasa.

๐Ÿ“Œ Jurnal Internasional Bereputasi (Scopus/WoS)
→ Dikenal memiliki bobot angka kredit terbesar — dan cenderung jadi “gold standard” dalam pengajuan jabatan tinggi seperti Profesor.

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional atau Internasional yang tidak memenuhi syarat peer review/indeks resmi
→ Nilai angka kreditnya lebih rendah atau bahkan tidak memenuhi syarat publikasi wajib.

 

๐Ÿ“Œ Contoh Penerapan: Apa yang Perlu Kamu Siapkan?

Kalau kamu sedang mempersiapkan publikasi untuk kenaikan jabatan, pertimbangkan poin-poin ini supaya tidak salah pilih jurnal:

๐Ÿงช 1. Pastikan jurnal punya ISSN

Ini sangat penting — tanpa ISSN, artikelmu bisa jadi tidak diakui dalam penilaian angka kredit.

️ 2. Cek apakah terakreditasi SINTA (untuk jurnal nasional)

Gunakan label SINTA untuk pilih jurnal nasional supaya angka kreditnya lebih tinggi.

๐ŸŒ 3. Prioritaskan jurnal internasional bereputasi (Scopus/WoS)

Kalau kamu mengejar jabatan tinggi, publikasi di jurnal internasional bereputasi biasanya lebih efektif dan diakui lebih luas.

๐Ÿ“ 4. Pahami peran penulis utama (first author)

Dalam banyak pedoman, penulis pertama atau penulis korespondensi sering mendapatkan sebagian besar angka kredit dari publikasi.

 

๐Ÿ“Œ Penutup: Pilih Jurnal dengan “Mata yang Tajam”

Jurnal nasional dan internasional bukan sekadar tempat kamu mencetak karya — dalam konteks kenaikan jabatan dosen, publikasi itu menjadi mata uang akademik ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ”ฌ๐Ÿ’ฐ yang harus dipilih dengan cermat. Pahami standar, kenali cirinya, dan pilih jurnal yang benar-benar punya nilai tambah tinggi — bukan hanya asal terbit. Dengan cara itu, proses kenaikan jabatan kamu akan jadi lebih lancar dan berbasis bukti ilmiah yang kuat.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar