Tampilkan postingan dengan label SERDOS 2025. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERDOS 2025. Tampilkan semua postingan

Strategi Penyusunan Dokumen Pernyataan Diri Dosen dalam Unjuk Kerja Tridharma Perguruan Tinggi (PDD-UKTPT)


 Strategi Penyusunan Dokumen Pernyataan Diri Dosen dalam Unjuk Kerja Tridharma Perguruan Tinggi (PDD-UKTPT)

Pengantar

Sertifikasi dosen (serdos) merupakan bagian penting dalam pembinaan karier akademik seorang pendidik di perguruan tinggi. Salah satu komponen penting dalam proses sertifikasi dosen tahun 2025 adalah penyusunan Pernyataan Diri Dosen dalam Unjuk Kerja Tridharma Perguruan Tinggi (PDD-UKTPT). Dokumen ini tidak hanya menjadi syarat administratif, tetapi juga mencerminkan komitmen dan rekam jejak seorang dosen dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi.

PDD-UKTPT mencakup tiga unsur utama, yaitu pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dosen Yang Disertifikasi (DYS) perlu merinci kontribusi utamanya di antara ketiga unsur tersebut, disertai bukti-bukti digital yang bisa diverifikasi.

Melalui artikel ini, penulis membagikan strategi menyusun dokumen PDD-UKTPT yang efektif, sesuai dengan panduan dan semangat "Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM)".

 

1. Memahami Hakikat dan Fungsi PDD-UKTPT

PDD-UKTPT bukan sekadar rangkuman kegiatan tridharma, tetapi narasi reflektif yang menunjukkan bagaimana dosen mengembangkan dirinya sebagai pendidik profesional.

Dalam sistem SISTER (Sistem Informasi Sumberdaya Terintegrasi), PDD-UKTPT menjadi alat ukur untuk menilai komitmen, konsistensi, dan kontribusi dosen terhadap tridharma. Oleh karena itu, dokumen ini harus disusun secara sistematis, jujur, dan berbasis bukti.

 

2. Menentukan Mission Statement 

Langkah awal dalam menyusun PDD-UKTPT adalah merumuskan mission statement, yakni pernyataan yang menunjukkan pilihan fokus tridharma yang paling dikembangkan.

Misalnya:

  • Jika dosen lebih aktif meneliti dan mempublikasikan karya ilmiah, maka penelitian bisa dijadikan sebagai pusat kontribusi.
  • Jika dosen terlibat dalam pengabdian masyarakat berbasis riset, maka pengabdian bisa menjadi unggulan.

Dalam sistem SISTER, mission statement wajib mencerminkan semangat MBKM serta passion dan kompetensi dosen. Perlu diingat, bobot minimum untuk tiap unsur tridharma adalah 10%, dan total harus 100%.

Contoh:

  • Pengajaran: 30%
  • Penelitian: 50%
  • Pengabdian: 20%

 

3. Strategi Penyusunan Dokumen Tiap Unsur

a. Unsur Pengajaran

Penilaian unsur pengajaran meliputi:

  • Rencana Pembelajaran Semester (RPS)
  • Video pembelajaran
  • Tautan bahan ajar online
  • Kegiatan inovatif dalam pembelajaran

Tips Penulisan:

  • Sajikan narasi tentang metode pembelajaran, pendekatan yang digunakan, serta integrasi MBKM.
  • Sertakan link publik (Google Drive, YouTube, OER, dsb.) yang bisa diakses tanpa izin login. Pastikan tautan bisa dibuka dan video bisa diputar.
  • Hindari plagiasi, tuliskan pengalaman nyata.

Contoh kalimat narasi:

“Saya menerapkan metode flipped classroom untuk mata kuliah Psikolinguistik, dengan menyediakan video pengantar konsep melalui YouTube sebelum sesi tatap muka…”

b. Unsur Penelitian

Penelitian menjadi unsur penting, terutama jika DYS memiliki rekam jejak dalam hibah, publikasi jurnal, atau buku ajar.

Strategi penulisan:

  • Tulis dengan struktur: latar belakang, fokus penelitian, hasil, dan dampak.
  • Panjang narasi antara 250 – 300 kata.
  • Lampirkan link publikasi (SINTA, jurnal OJS, Google Scholar, atau e-book).
  • Jika ada hibah, sebutkan nama program dan tahun.

Contoh:

“Penelitian saya yang berjudul ‘Pengaruh Media Visual dalam Pembelajaran Bahasa’ memperoleh hibah Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi tahun 2023. Hasilnya telah dipublikasikan pada Jurnal ABC terakreditasi SINTA 2...”

c. Unsur Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)

Unsur ini menunjukkan kontribusi dosen dalam menyebarluaskan ilmu kepada masyarakat luas.

Tips:

  • Fokus pada kegiatan berbasis hasil riset atau berbasis masalah nyata di masyarakat.
  • Sertakan bukti seperti dokumentasi kegiatan, laporan, atau publikasi media.
  • Cantumkan link yang bisa diakses publik (bukan folder privat atau yang meminta izin).

Contoh:

“Pada tahun 2024, saya melaksanakan pelatihan penyusunan modul ajar bagi guru SMP di Kabupaten Polewali Mandar. Kegiatan ini berbasis hasil penelitian saya tentang pendekatan pembelajaran kontekstual…”

 

4. Syarat Teknis: Wajib Diperhatikan!

Berdasarkan himbauan resmi dari sistem SISTER (seperti pada tangkapan layar), berikut ketentuan teknis penting:

  • PDD-UKTPT harus sesuai CV.
  • Jangan melakukan plagiarisme.
  • Link pengajaran wajib bersifat publik dan bisa diputar.
  • Link RPS harus berupa open access (tanpa perlu permintaan akses).
  • Minimal 250 kata, maksimal 300 kata untuk bagian penelitian dan pengabdian.

Gunakan platform terbuka seperti:

  • Google Drive (pastikan akses dibuka untuk siapa saja dengan link)
  • YouTube (video pembelajaran)
  • Repositori institusi (jika tersedia)

 

5. Evaluasi dan Penyuntingan

Setelah semua unsur ditulis:

  • Baca ulang untuk memastikan kesesuaian antara narasi dan bukti/link.
  • Gunakan tools seperti Turnitin atau Grammarly untuk menghindari plagiasi dan kesalahan tata bahasa.
  • Mintalah rekan sejawat untuk membaca dan memberi umpan balik.

 

6. Refleksi: PDD-UKTPT sebagai Cermin Profesionalisme

Lebih dari sekadar dokumen administratif, PDD-UKTPT adalah cermin profesionalisme dosen. Melalui narasi yang jujur, terstruktur, dan berdampak, dosen dapat menunjukkan komitmen terhadap pengembangan ilmu, pendidikan, dan masyarakat.

Penyusunan PDD-UKTPT juga menjadi momentum reflektif: Apa yang telah saya lakukan? Apa yang ingin saya kembangkan ke depan?

 

Penutup

Penyusunan PDD-UKTPT adalah bagian penting dari proses sertifikasi dosen yang menuntut integritas, keterbukaan, dan dedikasi. Dengan strategi yang tepat, narasi yang kuat, dan bukti yang sahih, dosen tidak hanya akan lolos serdos, tetapi juga semakin berkembang sebagai pendidik profesional yang memberi manfaat luas bagi institusi dan masyarakat.

Mari kita siapkan PDD-UKTPT dengan sebaik mungkin. Bukan sekadar untuk memenuhi syarat, tetapi untuk menegaskan eksistensi kita sebagai dosen yang berkarya nyata dalam tridharma perguruan tinggi.

 

Mengenal Instrumen Penilaian Persepsional DYS pada Serdos 2025: Panduan bagi Calon Dosen Bersertifikat



Mengenal Instrumen Penilaian Persepsional DYS pada Serdos 2025: Panduan bagi Calon Dosen Bersertifikat

Sertifikasi Dosen (Serdos) merupakan salah satu instrumen strategis Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk menjamin mutu pendidik di perguruan tinggi. Dalam proses ini, setiap calon peserta sertifikasi (DYS – Dosen Yang Disertifikasi) harus melalui serangkaian tahapan penilaian, salah satunya adalah Penilaian Persepsional.

Penilaian persepsional bertujuan untuk memperoleh gambaran objektif tentang kompetensi seorang dosen berdasarkan persepsi dirinya sendiri, atasan, dan sejawat. Pada artikel ini, kita akan membahas instrumen penilaian persepsional oleh DYS yang digunakan dalam Serdos Tahun 2025 Sesi ke-1.

 

Apa Itu Instrumen Penilaian Persepsional oleh DYS?

Instrumen ini merupakan lembar penilaian yang diisi langsung oleh dosen yang sedang mengikuti proses sertifikasi. Penilaian dilakukan secara jujur, objektif, dan penuh tanggung jawab, dengan menilai dirinya sendiri berdasarkan aspek-aspek kompetensi yang telah ditetapkan.

Instrumen ini terbagi dalam empat dimensi kompetensi utama:

  1. Kompetensi Pedagogik
    Mengukur kemampuan dosen dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran.
  2. Kompetensi Profesional
    Menilai penguasaan keilmuan, refleksi akademik, serta keterlibatan dalam pengembangan profesi.
  3. Kompetensi Kepribadian
    Menilai sikap tanggung jawab, kedewasaan emosional, dan keteladanan.
  4. Kompetensi Sosial
    Menggambarkan kemampuan dosen dalam berinteraksi, berkomunikasi, dan menerima kritik dari lingkungan sekitar.

 

Contoh Indikator Penilaian

Beberapa butir penilaian yang terdapat dalam instrumen, antara lain:

  • Menggunakan materi pembelajaran yang konsisten tiap tahun
  • Menyelenggarakan perkuliahan sesuai kalender akademik
  • Memanfaatkan media dan teknologi secara maksimal
  • Melakukan refleksi dan diskusi ilmiah dengan kolega
  • Kesiapan menerima kritik dan saran
  • Pergaulan dengan kalangan sejawat dan masyarakat

Setiap butir dinilai dalam skala tertentu, misalnya:

  • Skala frekuensi: Tidak Pernah – Selalu
  • Skala intensitas: Rendah – Tinggi
  • Skala jangkauan: Terbatas – Luas

 

Pentingnya Pengisian Instrumen Ini

Penilaian diri (self-assessment) menjadi refleksi awal dalam proses sertifikasi. Melalui instrumen ini, dosen dapat menilai secara jujur bagaimana kualitas pembelajaran, profesionalisme, integritas, dan interaksi sosial yang selama ini dilakukan.

Perlu diingat, penilaian ini bukan hanya formalitas, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun integritas profesi sebagai pendidik di perguruan tinggi.

 

Tips Mengisi Instrumen Penilaian Persepsional DYS

  1. Jujur dan Objektif
    Nilailah diri sendiri secara realistis. Jangan terlalu merendah atau terlalu melebihkan.
  2. Evaluasi Diri Terlebih Dahulu
    Lakukan introspeksi terhadap kegiatan pembelajaran dan pengembangan diri yang telah dilakukan.
  3. Konsisten dengan Bukti Nyata
    Pastikan jawaban yang diberikan sesuai dengan aktivitas riil yang bisa dibuktikan dalam rekam jejak dosen.
  4. Gunakan sebagai Bahan Perbaikan
    Hasil penilaian dapat menjadi dasar untuk meningkatkan aspek-aspek kompetensi yang masih perlu pengembangan.

Proses sertifikasi dosen bukan hanya soal memenuhi persyaratan administratif, namun juga soal komitmen untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi lebih baik dalam dunia pendidikan tinggi. Instrumen penilaian persepsional ini adalah cerminan dari integritas dan profesionalisme dosen dalam menjalankan peran strategisnya.

Mari isi dengan penuh tanggung jawab, karena kualitas pendidikan bermula dari pendidik yang berkualitas.



Panduan Penilaian Persepsional DYS agar Lulus Sertifikasi Dosen (Serdos) 2025

1. Pahami Tujuan Penilaian Diri

Penilaian persepsional oleh DYS bukan sekadar formalitas, tetapi alat reflektif untuk mengevaluasi kompetensi diri sebagai pendidik profesional. Oleh karena itu, penilaian harus jujur, tetapi juga disertai kesadaran penuh tentang tugas dan peran sebagai dosen.

 

2. Gunakan Bukti Nyata dari Kegiatan Akademik

Sebelum mengisi, refleksikan:

·         Apakah Anda rutin mengajar sesuai kalender akademik?

·         Sudahkah Anda menggunakan media teknologi pembelajaran dengan optimal?

·         Apakah Anda memiliki keterlibatan dalam kegiatan ilmiah, seperti menulis jurnal, seminar, atau organisasi profesi?

Penilaian yang tinggi sah-sah saja asalkan mencerminkan kenyataan. Tim penilai akan melihat konsistensi antara persepsi DYS, sejawat, atasan, dan bukti portofolio (bukti fisik/kegiatan).

 3. Isi dengan Optimisme Berdasarkan Capaian Anda

Gunakan skala nilai tertinggi (misalnya: “selalu”, “tinggi”, atau “luas”) untuk butir-butir yang memang Anda lakukan secara rutin, seperti:

No.

Contoh Butir Penilaian

Jawaban Ideal

1

Menggunakan materi pembelajaran secara konsisten tiap tahun

Selalu (nilai 7)

4

Memanfaatkan media dan teknologi secara maksimal

Selalu (nilai 7)

8

Menunjukkan keterkaitan teori dan praktik

Tinggi (nilai 7)

13

Mengendalikan diri dalam menghadapi situasi sulit

Selalu (nilai 7)

14

Komunikasi lisan dan tulisan

Tinggi (nilai 7)

16

Pergaulan dengan sejawat, karyawan, mahasiswa, dan masyarakat

Luas (nilai 7)



4. Waspadai Kesalahan Umum Saat Mengisi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tidak mengurangi nilai atau mengundang keraguan:

·         Hindari nilai terlalu rendah (1-3) kecuali memang belum pernah dilakukan.

·         Jangan mengisi sembarangan tanpa mengevaluasi kegiatan nyata Anda.

·         Periksa konsistensi antara instrumen ini dengan isian portofolio dosen dan dokumen pendukung lainnya di sistem SISTER/Serdos.

 

5. Berikan Penilaian Tinggi Secara Proporsional

Meskipun tidak harus memberi nilai maksimal di semua item, Anda sangat dianjurkan memberikan penilaian tinggi (nilai 6–7) pada aspek-aspek berikut karena sangat berpengaruh pada kelulusan:

A. Kompetensi Pedagogik

·         Perencanaan dan pelaksanaan perkuliahan

·         Penggunaan teknologi pembelajaran

·         Penilaian objektif pada mahasiswa

B. Kompetensi Profesional

·         Penguasaan keilmuan inti

·         Aktivitas ilmiah dan refleksi akademik

C. Kompetensi Kepribadian

·         Konsistensi kata dan tindakan

·         Kemampuan mengendalikan diri

D. Kompetensi Sosial

·         Komunikasi, keterbukaan terhadap masukan, dan pergaulan sosial

 

6. Gunakan Bahasa Positif dalam Refleksi Diri

Contoh:

·         Bukan: “Saya kadang menggunakan media pembelajaran.”

·         Tetapi: “Saya selalu memanfaatkan berbagai media dan teknologi secara maksimal dalam pembelajaran daring maupun luring.”

 

7. Pastikan Konsistensi dengan Penilaian Atasan dan Sejawat

Penilaian Anda akan dibandingkan dengan penilaian atasan dan sejawat. Jika terlalu jauh perbedaannya, sistem akan menandai sebagai "tidak konsisten", yang berisiko menurunkan nilai integritas.

 

Penilaian persepsional DYS adalah refleksi komitmen Anda sebagai dosen profesional. Untuk meningkatkan peluang lulus Serdos:

✅ Nilai tinggi harus sesuai dengan aktivitas nyata
✅ Refleksi dilakukan secara jujur dan strategis
✅ Gunakan nilai 6–7 pada item yang telah dilakukan dengan konsisten
✅ Hindari nilai ekstrem rendah kecuali benar-benar tidak pernah dilakukan
✅ Ciptakan keselarasan dengan persepsi atasan dan sejawat



📄 Penjelasan Instrumen Penilaian Persepsional oleh Dosen Sejawat – Serdos 2025

📌 Tujuan Penilaian oleh Sejawat

Penilaian oleh dosen sejawat merupakan bentuk evaluasi sejawat (peer assessment) terhadap calon peserta sertifikasi dosen (DYS). Penilaian ini penting karena mencerminkan bagaimana kolega melihat profesionalitas, kepribadian, dan sosial DYS dalam lingkungan akademik sehari-hari.

 

️ Cara Melakukan Penilaian oleh Sejawat

Instrumen penilaian ini mencakup 4 kategori kompetensi utama, yaitu:

A. Kompetensi Pedagogik

Penilaian atas kemampuan DYS dalam mengajar, mengelola kelas, dan menggunakan teknologi pembelajaran.
Contoh indikator:

  • Kinerja dalam mengajar (butir 1)
  • Pemanfaatan teknologi (butir 2)
  • Kedisiplinan dalam mengajar (butir 3)

Tips penilaian ideal: Jika DYS aktif mengajar dengan disiplin dan inovatif, berikan skor tinggi (nilai 6–7).

 

B. Kompetensi Profesional

Mengukur penguasaan DYS terhadap bidang ilmunya, serta keterlibatan dalam riset dan diskusi akademik.
Contoh indikator:

  • Konsistensi mengajar di bidang ilmu sendiri (butir 4)
  • Keikutsertaan dalam pengembangan ilmu (butir 5)
  • Keteguhan pendirian saat diskusi (butir 6)
  • Produktivitas penelitian dan karya ilmiah (butir 7)

Tips penilaian ideal: Jika DYS aktif meneliti dan menulis, serta memiliki argumentasi kuat dalam diskusi, beri penilaian tinggi.

 

C. Kompetensi Kepribadian

Menilai karakter dan integritas DYS, termasuk ketegasan dalam mengambil keputusan dan sikap konsisten.
Contoh indikator:

  • Ketegasan mengambil keputusan (butir 8)
  • Konsistensi kata dan tindakan (butir 9)
  • Pengendalian diri (butir 10)
  • Bertindak berdasarkan kebutuhan pribadi (butir 11)

Perlu dicatat: Butir ke-11 sebenarnya negatif (“Bertindak berdasarkan kepentingan pribadi”), jadi jawaban ideal adalah nilai rendah (1–2) untuk menunjukkan bahwa DYS tidak egois.

 

D. Kompetensi Sosial

Kemampuan berinteraksi, menerima kritik, dan menjalin hubungan profesional.
Contoh indikator:

  • Komunikasi (butir 12)
  • Terbuka terhadap kritik (butir 13)
  • Sikap dalam bergaul dengan civitas akademika (butir 14)

Tips penilaian ideal: Jika DYS komunikatif dan terbuka terhadap masukan, nilai tinggi (6–7) sangat mendukung.

 

📉 Catatan dari Gambar:

  • Nilai-nilai rendah (misalnya: 3, 4, 5) pada indikator penting dapat mengganggu skor akhir.
  • Komentar seperti “lemah”, “kurang aktif”, “terbatas” pada kompetensi profesional dapat menurunkan persepsi positif.
  • Penilaian sejawat juga harus objektif, namun disarankan tidak memberi nilai ekstrem rendah (kecuali ada alasan kuat), agar tidak merugikan kolega.

 

🧾 Halaman 39: Kontribusi DYS dalam Kegiatan Akademik

Bagian ini harus diisi oleh sejawat yang menilai, dengan menyebut:

  1. Judul kegiatan
  2. Jenis kontribusi DYS (misalnya: ketua peneliti, penulis utama, pemateri pengabdian)

Tips: Isilah berdasarkan keterlibatan nyata DYS dalam:

  • Penelitian
  • Publikasi ilmiah
  • Pengabdian kepada masyarakat

 

✅ Strategi Agar Mendukung Kelulusan DYS

  1. Berikan Penilaian Objektif, namun Proporsional.
    Hindari nilai ekstrem rendah tanpa dasar kuat, karena bisa membuat DYS gagal.
  2. Nilai Positif untuk Aspek Kritis.
    Beri skor tinggi pada indikator seperti penggunaan teknologi, keterbukaan terhadap kritik, dan kontribusi ilmiah.
  3. Koordinasi Sejawat dan Atasan.
    Penilaian dari semua pihak (atasan, sejawat, dan diri sendiri) harus selaras. Nilai yang timpang akan memunculkan red flag dalam sistem Serdos.
  4. Lengkapi dengan Kegiatan Nyata.
    Pastikan DYS memang terlibat aktif dalam riset, pengajaran, publikasi, atau pengabdian agar semua penilaian dapat dibuktikan secara faktual.

 

Penilaian sejawat dalam Serdos adalah bentuk kepercayaan antar dosen untuk menjaga kualitas profesi. Berikan penilaian yang adil, berdasar bukti nyata, dan mendukung kolega yang memang layak mendapatkan sertifikasi pendidik profesional.


 

📄 Penjelasan Instrumen Penilaian Persepsional oleh Dosen Sejawat – Serdos 2025

📌 Tujuan Penilaian oleh Sejawat

Penilaian oleh dosen sejawat merupakan bentuk evaluasi sejawat (peer assessment) terhadap calon peserta sertifikasi dosen (DYS). Penilaian ini penting karena mencerminkan bagaimana kolega melihat profesionalitas, kepribadian, dan sosial DYS dalam lingkungan akademik sehari-hari.

 

️ Cara Melakukan Penilaian oleh Sejawat

Instrumen penilaian ini mencakup 4 kategori kompetensi utama, yaitu:

A. Kompetensi Pedagogik

Penilaian atas kemampuan DYS dalam mengajar, mengelola kelas, dan menggunakan teknologi pembelajaran.
Contoh indikator:

  • Kinerja dalam mengajar (butir 1)
  • Pemanfaatan teknologi (butir 2)
  • Kedisiplinan dalam mengajar (butir 3)

Tips penilaian ideal: Jika DYS aktif mengajar dengan disiplin dan inovatif, berikan skor tinggi (nilai 6–7).

 

B. Kompetensi Profesional

Mengukur penguasaan DYS terhadap bidang ilmunya, serta keterlibatan dalam riset dan diskusi akademik.
Contoh indikator:

  • Konsistensi mengajar di bidang ilmu sendiri (butir 4)
  • Keikutsertaan dalam pengembangan ilmu (butir 5)
  • Keteguhan pendirian saat diskusi (butir 6)
  • Produktivitas penelitian dan karya ilmiah (butir 7)

Tips penilaian ideal: Jika DYS aktif meneliti dan menulis, serta memiliki argumentasi kuat dalam diskusi, beri penilaian tinggi.

 

C. Kompetensi Kepribadian

Menilai karakter dan integritas DYS, termasuk ketegasan dalam mengambil keputusan dan sikap konsisten.
Contoh indikator:

  • Ketegasan mengambil keputusan (butir 8)
  • Konsistensi kata dan tindakan (butir 9)
  • Pengendalian diri (butir 10)
  • Bertindak berdasarkan kebutuhan pribadi (butir 11)

Perlu dicatat: Butir ke-11 sebenarnya negatif (“Bertindak berdasarkan kepentingan pribadi”), jadi jawaban ideal adalah nilai rendah (1–2) untuk menunjukkan bahwa DYS tidak egois.

 

D. Kompetensi Sosial

Kemampuan berinteraksi, menerima kritik, dan menjalin hubungan profesional.
Contoh indikator:

  • Komunikasi (butir 12)
  • Terbuka terhadap kritik (butir 13)
  • Sikap dalam bergaul dengan civitas akademika (butir 14)

Tips penilaian ideal: Jika DYS komunikatif dan terbuka terhadap masukan, nilai tinggi (6–7) sangat mendukung.

 

📉 Catatan dari Gambar:

  • Nilai-nilai rendah (misalnya: 3, 4, 5) pada indikator penting dapat mengganggu skor akhir.
  • Komentar seperti “lemah”, “kurang aktif”, “terbatas” pada kompetensi profesional dapat menurunkan persepsi positif.
  • Penilaian sejawat juga harus objektif, namun disarankan tidak memberi nilai ekstrem rendah (kecuali ada alasan kuat), agar tidak merugikan kolega.

 

🧾 Kontribusi DYS dalam Kegiatan Akademik

Bagian ini harus diisi oleh sejawat yang menilai, dengan menyebut:

  1. Judul kegiatan
  2. Jenis kontribusi DYS (misalnya: ketua peneliti, penulis utama, pemateri pengabdian)

Tips: Isilah berdasarkan keterlibatan nyata DYS dalam:

  • Penelitian
  • Publikasi ilmiah
  • Pengabdian kepada masyarakat

 

✅ Strategi Agar Mendukung Kelulusan DYS

  1. Berikan Penilaian Objektif, namun Proporsional.
    Hindari nilai ekstrem rendah tanpa dasar kuat, karena bisa membuat DYS gagal.
  2. Nilai Positif untuk Aspek Kritis.
    Beri skor tinggi pada indikator seperti penggunaan teknologi, keterbukaan terhadap kritik, dan kontribusi ilmiah.
  3. Koordinasi Sejawat dan Atasan.
    Penilaian dari semua pihak (atasan, sejawat, dan diri sendiri) harus selaras. Nilai yang timpang akan memunculkan red flag dalam sistem Serdos.
  4. Lengkapi dengan Kegiatan Nyata.
    Pastikan DYS memang terlibat aktif dalam riset, pengajaran, publikasi, atau pengabdian agar semua penilaian dapat dibuktikan secara faktual.

 

Kesimpulan

Penilaian sejawat dalam Serdos adalah bentuk kepercayaan antar dosen untuk menjaga kualitas profesi. Berikan penilaian yang adil, berdasar bukti nyata, dan mendukung kolega yang memang layak mendapatkan sertifikasi pendidik profesional.