Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Memahami Indeks H dan Indeks i10 di Google Scholar

Memahami Indeks H dan Indeks i10 di Google Scholar

Konten:

  • Penjelasan apa itu h-index dan i10-index
  • Bagaimana pengaruhnya terhadap karier akademik
  • Perbedaan Google Scholar vs Scopus/Web of Science dalam menghitung indeks

 “Apa Arti H-Index dan i10-Index Bagi Seorang Dosen?”

Google Scholar bukan hanya menjadi tempat untuk menemukan artikel ilmiah, tetapi juga menyediakan indikator bibliometrik yang membantu menilai kinerja akademik seseorang. Dua indikator yang paling sering digunakan adalah h-index dan i10-index. Lalu, apa sebenarnya makna dari kedua indeks ini? Bagaimana pengaruhnya terhadap karier akademik? Dan apakah perhitungannya sama dengan yang digunakan oleh Scopus atau Web of Science?

Artikel ini akan membahas secara menyeluruh mengenai indeks h dan i10, serta bagaimana dosen dan peneliti dapat memanfaatkannya secara bijak untuk membangun reputasi akademik.

 

Apa Itu H-Index?

H-index adalah ukuran produktivitas dan dampak dari suatu penulis berdasarkan jumlah publikasi dan jumlah sitasi yang diterima. Konsep ini diperkenalkan oleh Jorge E. Hirsch pada tahun 2005.

Secara sederhana:

Seorang peneliti memiliki h-index = n jika ia memiliki n publikasi yang masing-masing disitasi setidaknya n kali.

Contoh: Jika seorang peneliti memiliki 10 artikel dan 6 di antaranya masing-masing telah disitasi minimal 6 kali, maka h-index-nya adalah 6.

Apa Itu i10-Index?

i10-index adalah indikator yang dikembangkan oleh Google Scholar dan lebih sederhana:

i10-index menunjukkan jumlah publikasi yang telah disitasi minimal 10 kali.

Contoh: Jika Anda memiliki 15 publikasi dan 7 di antaranya telah mendapatkan lebih dari 10 sitasi, maka i10-index Anda adalah 7.

Meskipun kurang dikenal secara internasional dibanding h-index, i10-index tetap berguna sebagai indikator tambahan.

 

Pengaruh H-Index dan i10-Index terhadap Karier Akademik

Indeks-indeks ini memiliki pengaruh signifikan dalam berbagai aspek kehidupan akademik:

1. Penilaian Jabatan Fungsional

Dalam banyak sistem pendidikan tinggi, kenaikan jabatan akademik (misalnya dari Lektor ke Lektor Kepala atau Guru Besar) mempertimbangkan jumlah publikasi dan jumlah sitasi. H-index menjadi salah satu indikator kuantitatif yang mendukung penilaian tersebut.

2. Reputasi dan Kredibilitas Akademik

Peneliti dengan h-index tinggi sering dianggap memiliki dampak yang signifikan di bidangnya. Hal ini dapat memperkuat posisi mereka dalam kolaborasi penelitian, undangan sebagai reviewer, narasumber, atau pembicara di konferensi.

3. Peluang Dana Riset dan Hibah

Banyak lembaga pemberi dana (baik nasional maupun internasional) menggunakan indikator seperti h-index untuk menilai kualitas dan rekam jejak peneliti.

4. Daya Tarik Institusi

Secara institusional, dosen dengan indeks tinggi akan membantu meningkatkan citra dan daya saing kampus, baik dalam akreditasi, pemeringkatan, maupun kerja sama internasional.

 

Google Scholar vs Scopus/Web of Science: Apa Bedanya?

Perlu dipahami bahwa perhitungan indeks bisa berbeda tergantung platform yang digunakan. Berikut beberapa perbedaannya:

Aspek

Google Scholar

Scopus

Web of Science

Akses

Gratis

Berbayar

Berbayar

Cakupan

Sangat luas, termasuk artikel, tesis, prosiding, laporan, dan dokumen non-peer reviewed

Lebih selektif, hanya jurnal dan konferensi terindeks Scopus

Lebih ketat, hanya jurnal bereputasi tinggi dan selektif

Perhitungan Sitasi

Cenderung lebih tinggi karena semua dokumen dihitung

Lebih rendah karena cakupan terbatas

Umumnya lebih konservatif

Akurasi

Rentan terhadap duplikasi atau entri salah

Lebih akurat dan terstandarisasi

Sangat ketat dan valid

Indikator

h-index, i10-index

h-index

h-index

Kesimpulan:

·         Google Scholar cocok untuk pemantauan cepat dan umum.

·         Scopus/Web of Science lebih cocok untuk penilaian formal atau akademik tingkat tinggi.

 

Tips Meningkatkan Indeks H dan i10 Secara Etis

Jika Anda ingin meningkatkan h-index atau i10-index, fokuslah pada kualitas dan diseminasi karya ilmiah:

·         Publikasikan artikel di jurnal bereputasi (terindeks Scopus, WoS, atau SINTA).

·         Gunakan kata kunci yang tepat agar artikel mudah ditemukan.

·         Bangun jaringan kolaborasi untuk memperluas jangkauan.

·         Sebarluaskan karya di repositori institusi, media sosial akademik, dan konferensi.

·         Hindari praktik manipulatif seperti self-citation berlebihan atau menerbitkan artikel yang serupa berulang kali.

 

Penutup

Memahami cara kerja dan makna dari h-index serta i10-index sangat penting bagi dosen dan peneliti dalam mengelola profil akademiknya. Kedua indikator ini memang bukan satu-satunya tolok ukur kualitas ilmiah, namun dapat menjadi gambaran umum produktivitas dan pengaruh ilmiah seseorang.

Yang terpenting, tetaplah berkarya secara jujur, etis, dan konsisten. Indeks bibliometrik yang baik akan mengikuti sebagai buah dari kontribusi ilmiah yang nyata.

"Ilmu pengetahuan adalah warisan bersama umat manusia. Sitasi hanyalah jejak dari siapa yang telah ikut mewarnainya."

 

Ikuti terus artikel informatif lainnya di "Ruang Dosen" untuk memperkuat kompetensi akademik dan membangun rekam jejak ilmiah yang berkualitas.

 

Naikkan Sitasi Tanpa Curang: Strategi Etis Tingkatkan Reputasi Ilmiah

Cara Meningkatkan Sitasi di Google Scholar Secara Etis

Konten:

  • Tips mempublikasikan di jurnal bereputasi
  • Optimasi kata kunci judul dan abstrak
  • Kolaborasi antarpeneliti untuk memperluas jangkauan
  • Etika menghindari self-citation berlebihan

 “Naikkan Sitasi Tanpa Curang: Strategi Etis Tingkatkan Reputasi Ilmiah”

 

Google Scholar kini menjadi salah satu platform penting untuk menunjukkan rekam jejak akademik dosen dan peneliti. Salah satu indikator yang sering dijadikan tolok ukur dalam penilaian kinerja akademik adalah jumlah sitasi. Namun, tidak sedikit yang kebingungan bagaimana cara meningkatkan angka tersebut dengan cara yang benar dan etis.

Artikel ini akan membahas secara menyeluruh tentang strategi meningkatkan sitasi di Google Scholar tanpa harus melanggar etika akademik. Mulai dari teknik publikasi di jurnal bereputasi, optimasi kata kunci, membangun kolaborasi ilmiah, hingga menghindari praktik-praktik manipulatif seperti self-citation berlebihan.

 

1. Publikasikan di Jurnal Bereputasi

Langkah pertama untuk meningkatkan sitasi adalah dengan menerbitkan artikel di jurnal yang kredibel dan bereputasi baik. Jurnal bereputasi biasanya memiliki pembaca dan jaringan distribusi yang luas sehingga peluang artikel Anda untuk dibaca dan disitasi pun semakin tinggi.

a. Pilih Jurnal yang Terindeks

Pilih jurnal yang terindeks di database bereputasi seperti Scopus, Web of Science, DOAJ, atau SINTA (untuk jurnal nasional). Artikel di jurnal-jurnal ini lebih mudah ditemukan oleh peneliti lain.

b. Perhatikan Scope Jurnal

Pastikan tema artikel Anda sesuai dengan scope jurnal. Artikel yang tepat sasaran memiliki peluang lebih besar untuk diterima dan dibaca oleh audiens yang relevan.

c. Cek Kualitas Editorial dan Review

Perhatikan apakah jurnal menerapkan proses peer review yang ketat, memiliki dewan editor yang profesional, serta waktu terbit yang konsisten.

d. Jangan Tergiur Jurnal Predator

Hindari jurnal yang hanya menjanjikan terbit cepat tetapi tidak punya proses review yang jelas. Artikel di jurnal predator cenderung tidak dianggap kredibel dan jarang disitasi.

 

2. Optimasi Kata Kunci pada Judul dan Abstrak

Meski tampak sederhana, judul dan abstrak memiliki peran penting dalam meningkatkan visibilitas artikel di mesin pencari seperti Google Scholar. Artikel yang mudah ditemukan, tentu lebih mudah pula disitasi.

a. Gunakan Kata Kunci Relevan

Pilih kata kunci yang umum digunakan dalam bidang penelitian Anda. Misalnya, jika Anda meneliti tentang pembelajaran daring, gunakan frasa seperti "e-learning", "online learning", atau "digital classroom".

b. Letakkan Kata Kunci di Judul dan Abstrak

Pastikan kata kunci utama muncul di bagian awal judul dan abstrak. Misalnya:

Judul: "Pengaruh E-Learning terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Selama Pandemi COVID-19"

c. Gunakan Sinonim dan Istilah Lain

Untuk menjangkau audiens yang lebih luas, gunakan beberapa istilah alternatif dalam abstrak. Misalnya: "pembelajaran daring", "online learning", "e-learning".

d. Buat Abstrak yang Informatif dan Ringkas

Abstrak adalah pintu masuk artikel Anda. Buatlah ringkasan yang jelas, memuat latar belakang, tujuan, metode, hasil utama, dan kesimpulan. Peneliti lain akan lebih tertarik menyitasi artikel yang jelas dan mudah dipahami.

 

3. Bangun Kolaborasi Antarpeneliti

Salah satu cara alami dan etis untuk memperluas jangkauan artikel Anda adalah dengan berkolaborasi dengan peneliti lain, baik dari dalam maupun luar institusi.

a. Kolaborasi Lintas Institusi

Kolaborasi dengan peneliti dari universitas atau lembaga berbeda membuka akses pada jaringan akademik yang lebih luas. Artikel hasil kolaborasi memiliki peluang lebih besar untuk disitasi oleh berbagai kalangan.

b. Kolaborasi Internasional

Jika memungkinkan, bangun kolaborasi dengan peneliti dari luar negeri. Artikel dengan penulis lintas negara lebih sering diakses secara global dan biasanya mendapatkan perhatian lebih tinggi.

c. Kolaborasi Interdisipliner

Menulis bersama peneliti dari bidang yang berbeda dapat memperluas audiens dan menjangkau komunitas ilmiah lain yang relevan.

d. Kolaborasi dengan Mahasiswa Pascasarjana

Bimbingan tesis dan disertasi bisa menjadi jalan kolaboratif yang produktif. Artikel bersama mahasiswa bisa memperkaya portofolio publikasi dan memperluas jangkauan.

 

4. Hindari Self-Citation yang Berlebihan

Self-citation adalah praktik mengutip karya sendiri di artikel yang sedang ditulis. Ini diperbolehkan secara etis jika memang relevan, tetapi akan menjadi masalah jika dilakukan secara berlebihan untuk memanipulasi jumlah sitasi.

a. Gunakan Hanya Jika Relevan

Jika artikel Anda sebelumnya memang menjadi dasar teori atau temuan penting bagi artikel baru, maka sah-sah saja mencantumkannya sebagai rujukan.

b. Batasi Proporsinya

Idealnya, jumlah self-citation tidak lebih dari 10–15% dari total referensi dalam satu artikel. Lebih dari itu bisa menimbulkan kecurigaan, apalagi dari reviewer atau pembaca kritis.

c. Jangan Paksa Kutipan

Hindari memaksakan kutipan dari artikel lama Anda yang sebenarnya tidak relevan hanya demi menambah angka sitasi.

d. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Artikel yang berkualitas, relevan, dan memiliki temuan yang berguna akan secara alami mendapatkan banyak sitasi dari peneliti lain.

 

Tips Tambahan untuk Meningkatkan Visibilitas Artikel

a. Unggah Versi Preprint

Beberapa jurnal mengizinkan versi preprint (draft awal) untuk diunggah di repositori terbuka seperti arXiv, SSRN, atau bahkan di institusi masing-masing. Ini bisa membantu artikel Anda ditemukan lebih awal.

b. Promosikan di Media Sosial Akademik

Gunakan platform seperti ResearchGate, Academia.edu, LinkedIn, atau bahkan Twitter (X) untuk membagikan publikasi Anda.

c. Tulis Artikel dalam Bahasa Inggris

Artikel berbahasa Inggris berpotensi menjangkau audiens global dan lebih sering disitasi daripada artikel berbahasa lokal.

d. Jadikan Artikel Anda Akses Terbuka (Open Access)

Jika memungkinkan, publikasikan di jurnal open access yang kredibel agar artikel Anda dapat diakses oleh siapa pun tanpa batasan.

e. Ikuti Seminar dan Konferensi Ilmiah

Dengan mempresentasikan artikel Anda, Anda membuka kesempatan agar ide dan temuan Anda disitasi oleh peserta lain yang tertarik.

 

Penutup

Meningkatkan sitasi di Google Scholar tidak bisa dilakukan secara instan atau manipulatif. Yang dibutuhkan adalah strategi yang tepat, konsistensi, dan integritas akademik. Fokuslah pada kualitas riset, relevansi temuan, dan penyampaian yang jelas agar artikel Anda mudah ditemukan, dipahami, dan disitasi secara alami.

Sebagai dosen dan peneliti, tanggung jawab utama kita adalah menyebarkan ilmu pengetahuan yang valid, bermanfaat, dan berdampak. Jika itu dilakukan dengan baik, maka pengakuan berupa sitasi akan datang dengan sendirinya—secara etis dan bermartabat.

"Sitasi yang tinggi adalah buah dari kontribusi ilmiah yang nyata, bukan dari rekayasa angka."

Jadi, mari kita berkarya secara jujur, berbagi pengetahuan, dan tumbuh bersama dalam ekosistem akademik yang sehat.


Baru Jadi Dosen? Ini Cara Membuat dan Mengelola Akun Google Scholar

Panduan Lengkap Google Scholar untuk Dosen Pemula

ISI :

  • Cara membuat akun Google Scholar
  • Tips mengelola profil dan afiliasi
  • Cara menambahkan artikel secara manual dan otomatis
  • Menjelaskan manfaat memiliki profil yang terverifikasi

 “Baru Jadi Dosen? Ini Cara Membuat dan Mengelola Akun Google Scholar”

Google Scholar telah menjadi salah satu platform yang paling penting bagi dosen, peneliti, dan akademisi dalam mengelola dan mempublikasikan karya ilmiah secara daring. Di era digital ini, memiliki profil Google Scholar yang lengkap dan profesional tidak hanya mencerminkan reputasi akademik seseorang, tetapi juga mempermudah proses evaluasi kinerja dosen, kenaikan jabatan fungsional, hingga akses terhadap peluang kolaborasi riset nasional maupun internasional.

Bagi dosen pemula, mungkin masih ada kebingungan tentang bagaimana cara membuat, mengelola, dan memanfaatkan Google Scholar secara optimal. Artikel ini akan memberikan panduan lengkap yang praktis dan mudah dipahami.

 


Apa Itu Google Scholar?

Google Scholar adalah mesin pencari khusus dari Google yang digunakan untuk menelusuri literatur ilmiah, seperti artikel jurnal, tesis, buku, laporan konferensi, dan publikasi akademik lainnya. Selain itu, Google Scholar juga menyediakan fitur pembuatan profil akademik pribadi yang menampilkan daftar publikasi dan metrik kutipan (citation metrics) seperti h-index dan i10-index.

 

1. Cara Membuat Akun Google Scholar

Langkah pertama tentu adalah membuat akun Google Scholar. Berikut langkah-langkahnya:

a. Siapkan Akun Google (Gmail)

Karena Google Scholar terintegrasi dengan akun Google, Anda harus memiliki akun Gmail terlebih dahulu. Disarankan untuk menggunakan akun email institusi agar terlihat profesional.

b. Masuk ke Google Scholar

Buka laman  https://scholar.google.com  dan klik tautan "My profile" di bagian kanan atas. Anda akan diminta untuk login menggunakan akun Gmail Anda.



c. Isi Data Diri

Isi data seperti:

·         Nama lengkap

·         Afiliasi institusi (misalnya: Universitas Al Asyariah Mandar )

·         Email institusi (.ac.id) untuk verifikasi

·         Bidang keahlian (gunakan kata kunci yang relevan)

·         URL laman institusi (jika ada)

d. Tambahkan Foto Profil

Pilih foto profesional yang mencerminkan kredibilitas Anda sebagai dosen.

 

2. Mengelola Profil dan Afiliasi

Setelah akun dibuat, Anda perlu melakukan pengelolaan agar profil terlihat profesional dan kredibel.

a. Verifikasi Email Institusi

Verifikasi email institusi penting agar profil Anda muncul sebagai "terverifikasi" dan lebih terpercaya. Masukkan email institusi Anda di pengaturan dan klik link verifikasi yang dikirim ke email Anda.

b. Pastikan Nama dan Afiliasi Sesuai

Gunakan nama akademik yang konsisten di semua publikasi. Pastikan afiliasi tertulis lengkap dan benar, termasuk fakultas dan institusi.

c. Gunakan Kata Kunci yang Tepat

Pilih 3-5 kata kunci yang menggambarkan bidang penelitian Anda, seperti: "linguistik terapan", "pendidikan dasar", "ekonomi mikro", dll. Kata kunci ini memudahkan orang lain menemukan profil Anda.

 

3. Menambahkan Artikel ke Google Scholar

Google Scholar biasanya akan menambahkan artikel Anda secara otomatis jika sudah dipublikasikan di jurnal online yang terindeks. Namun, Anda juga dapat menambahkan secara manual.

a. Penambahan Otomatis

Setelah membuat profil, Google Scholar akan menyarankan daftar publikasi yang mungkin milik Anda. Anda bisa memilih mana yang ingin ditambahkan.

Tips: Periksa secara berkala artikel yang ditambahkan Google Scholar secara otomatis. Kadang bisa ada artikel yang salah atribusi (bukan milik Anda).

b. Penambahan Manual

Jika artikel Anda belum muncul, ikuti langkah berikut:

1.      Masuk ke akun Google Scholar Anda

2.      Klik tanda "+" lalu pilih "Add article manually"

3.      Isi informasi lengkap seperti judul, penulis, jurnal, tahun, volume, halaman, dan URL jika ada

4.      Klik "Save"

Gunakan format yang rapi dan sesuai dengan publikasi aslinya untuk memudahkan pengindeksan.

c. Mengedit dan Menghapus Artikel

Jika ada kesalahan atau duplikasi:

·         Klik ikon pensil untuk mengedit

·         Klik "Merge" untuk menggabungkan artikel duplikat

·         Klik "Delete" untuk menghapus yang tidak relevan

 

4. Manfaat Memiliki Profil Google Scholar yang Terverifikasi

a. Meningkatkan Kredibilitas Akademik

Profil yang lengkap dan terverifikasi menunjukkan eksistensi dan kontribusi Anda dalam dunia akademik, baik di dalam maupun luar negeri.

b. Memudahkan Pelaporan Kinerja

Data di Google Scholar dapat digunakan sebagai rujukan cepat saat menyusun laporan BKD, LKD, SISTER, atau PAK.

c. Memperluas Jejaring Ilmiah

Peneliti lain dapat menemukan Anda dan membaca karya-karya Anda dengan mudah. Ini membuka peluang kolaborasi riset dan publikasi bersama.

d. Akses Metrik Akademik

Anda dapat melihat:

·         Jumlah total kutipan

·         H-index: mencerminkan produktivitas dan pengaruh Anda

·         i10-index: jumlah artikel yang dikutip minimal 10 kali

Data ini sering dijadikan pertimbangan dalam evaluasi akademik atau seleksi hibah.

e. Memudahkan Mahasiswa Mengakses Karya Dosen

Profil yang aktif memudahkan mahasiswa mencari referensi dan memahami topik yang dikuasai dosennya.

 

Tips Tambahan

·         Perbarui secara berkala: Periksa profil Anda setiap beberapa bulan untuk memastikan semua data terbaru sudah masuk.

·         Gunakan nama yang konsisten: Hindari menggunakan variasi nama yang membingungkan, misalnya kadang "Ahmad R. Yani" dan kadang "A.R. Yani".

·         Integrasi dengan ORCID dan SINTA: Pastikan profil Anda selaras dengan database lain seperti ORCID, SINTA, dan Scopus.

 

Penutup

Google Scholar bukan sekadar mesin pencari, tapi juga etalase digital yang menampilkan rekam jejak akademik Anda. Bagi dosen pemula, membangun profil Google Scholar adalah langkah awal yang strategis untuk menunjukkan kompetensi, membangun jejaring, dan mempermudah pengelolaan portofolio ilmiah.

Jangan ragu untuk mulai sekarang. Buat akun Anda, isi data dengan cermat, kelola secara rutin, dan biarkan karya ilmiah Anda menjangkau lebih banyak pembaca di seluruh dunia.

"Ilmu tanpa publikasi seperti harta karun yang terkubur. Google Scholar adalah salah satu cara menggali dan membagikannya."

Manual Book Author SINTA Versi 3


 A. PENDAHULUAN

1. Tujuan

Manual book ini dibuat dengan tujuan untuk:

a. Memberikan penjelasan tentang fitur-fitur pada Author SINTA.

b. Menjadi panduan dalam pengoperasian SINTA Versi 3 khususnya bagi Author.

2. Tentang SINTA

SINTA (Science and Technology Index) adalah sistem informasi berbasis web yang menyediakan akses cepat, mudah, dan lengkap terkait data publikasi serta penelitian di Indonesia. SINTA bertujuan untuk mengukur kinerja peneliti (Author), institusi (Afiliasi), dan jurnal.

Sistem ini mengintegrasikan berbagai basis data eksternal untuk memberikan informasi yang komprehensif, di antaranya:

  • Publikasi dengan basis data Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar (GS), dan Garba Rujukan Digital (Garuda).

  • Penelitian dan Pengabdian Masyarakat melalui basis data Simlitabmas.

  • Akreditasi Jurnal dengan basis data Arjuna.

  • Kekayaan Intelektual, yang terhubung dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

  • Data Buku, berdasarkan informasi dari Perpustakaan Nasional.

3. Verifikator

Verifikator adalah pihak yang bertanggung jawab untuk melakukan validasi dan verifikasi data dalam sistem SINTA. Mereka memastikan bahwa informasi yang dimasukkan oleh author telah sesuai dengan standar dan kriteria yang ditetapkan.

B. MENU DAN CARA PENGGUNAAN

1. Menu

SINTA Versi 3 memiliki berbagai menu yang memungkinkan pengguna untuk mengelola data publikasi dan profil author secara efisien.

2. Cara Penggunaan

Berikut adalah langkah-langkah penggunaan sistem verifikasi dalam SINTA Versi 3:

2.1. Login Halaman Verifikator

Pengguna yang berperan sebagai verifikator dapat masuk ke sistem melalui halaman login dengan memasukkan kredensial yang valid.

2.2. Menghilangkan Insecure Password

Jika sistem mendeteksi password yang tidak aman, pengguna dapat menggantinya dengan kata sandi yang lebih kuat untuk meningkatkan keamanan akun.

2.3. Update Password Verifikator

Verifikator dapat memperbarui password mereka untuk menjaga keamanan akses ke sistem.

2.4. Halaman Dashboard

Dashboard menyediakan tampilan ringkasan informasi utama dalam sistem, termasuk data author yang perlu diverifikasi.

2.5. Halaman Unverified Author

Menampilkan daftar penulis yang belum terverifikasi dalam sistem dan perlu dilakukan proses validasi.

2.6. Halaman All Authors

Memuat daftar seluruh author yang telah terdaftar di SINTA, baik yang sudah diverifikasi maupun yang belum.

2.7. Mekanisme Pencarian pada Unverified Author dan All Author

Sistem menyediakan fitur pencarian untuk memudahkan pengguna menemukan author tertentu berdasarkan nama atau afiliasi.

2.8. Activated Author

Menampilkan daftar author yang telah diverifikasi dan diaktifkan dalam sistem.

2.9. Validasi, Sinkronisasi, dan Reset Dokumen Scopus pada Author

Proses ini memungkinkan verifikator untuk mengecek dan memperbarui data publikasi author yang bersumber dari Scopus.

2.10. Validasi, Sinkronisasi, dan Reset Dokumen WoS (Web of Science) pada Author

Langkah-langkah untuk memverifikasi serta menyinkronkan data publikasi yang berasal dari Web of Science.

2.11. Validasi, Sinkronisasi, dan Reset Dokumen Garuda pada Author

Meninjau dan memperbarui data publikasi yang terindeks di Garba Rujukan Digital (Garuda).

2.12. Validasi, Sinkronisasi, dan Reset Dokumen Google Scholar pada Author

Melakukan validasi dan pembaruan data publikasi yang bersumber dari Google Scholar.

2.13. Verifikasi Author (Verify Author)

Proses untuk menyetujui dan memverifikasi status author dalam sistem.

2.14. Unverified Author

Menampilkan daftar author yang belum lolos verifikasi.

2.15. Nonaktifkan Author (Deactivated Author)

Fitur untuk menonaktifkan author yang tidak memenuhi syarat atau tidak lagi aktif.

2.16. Menghapus Seluruh Data Author

Verifikator dapat menghapus semua data terkait author tertentu jika diperlukan.

2.17. Update Profile Author

Memungkinkan author untuk memperbarui informasi pribadi dan akademik mereka.

2.18. Update Profile Author (Sinkronisasi PDDIKTI)

Menyesuaikan data author dengan basis data PDDIKTI untuk akurasi informasi akademik.

2.19. Update Password Author

Author dapat memperbarui password mereka untuk meningkatkan keamanan akun.

2.20. Memindahkan Author ke Afiliasi Lain

Jika seorang author berpindah institusi, sistem memungkinkan untuk memperbarui afiliasinya.

2.21. Melihat Metriks Score pada Author

Fitur untuk menampilkan metrik kinerja seorang author berdasarkan publikasi mereka.

2.22. Melihat Dokumen Scopus pada Author

Menampilkan daftar publikasi yang terindeks dalam Scopus.

2.23. Melihat Dokumen WoS pada Author

Menampilkan daftar publikasi yang terindeks dalam Web of Science.

2.24. Melihat Dokumen Google Scholar pada Author

Menampilkan daftar publikasi yang terindeks dalam Google Scholar.

2.25. Melihat Dokumen Garuda pada Author

Menampilkan daftar publikasi yang terindeks dalam Garba Rujukan Digital (Garuda).

Dengan panduan ini, diharapkan author dan verifikator dapat menggunakan SINTA Versi 3 dengan lebih efektif dan efisien.

Manual Book Author SINTA Versi 3


A. PENDAHULUAN

1. Tujuan

Manual book ini dibuat dengan tujuan untuk:

a. Memberikan penjelasan tentang fitur-fitur pada Author SINTA.

b. Menjadi panduan dalam pengoperasian SINTA Versi 3 khususnya bagi Author.

2. Tentang SINTA

SINTA (Science and Technology Index) adalah sistem informasi berbasis web yang menyediakan akses cepat, mudah, dan lengkap terkait data publikasi serta penelitian di Indonesia. SINTA bertujuan untuk mengukur kinerja peneliti (Author), institusi (Afiliasi), dan jurnal.

Sistem ini mengintegrasikan berbagai basis data eksternal untuk memberikan informasi yang komprehensif, di antaranya:

  • Publikasi dengan basis data Scopus, Web of Science (WoS), Google Scholar (GS), dan Garba Rujukan Digital (Garuda).

  • Penelitian dan Pengabdian Masyarakat melalui basis data Simlitabmas.

  • Akreditasi Jurnal dengan basis data Arjuna.

  • Kekayaan Intelektual, yang terhubung dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

  • Data Buku, berdasarkan informasi dari Perpustakaan Nasional.

Dengan adanya SINTA, para peneliti dan institusi akademik dapat dengan mudah mengakses informasi terkini mengenai publikasi ilmiah serta mengukur dampak dari hasil penelitian mereka secara lebih akurat.

Apa itu Google Scholar?

Cara Membuat akun google Scholar
Desain Gambar oleh Aco dengan menggunakan Gemini

Google Scholar adalah layanan yang disediakan oleh Google untuk mencari literatur akademik, termasuk jurnal, artikel, tesis, buku, konferensi, dan berbagai publikasi ilmiah lainnya. Dengan menggunakan akun Google Scholar, dosen atau peneliti dapat dengan mudah melacak publikasi mereka, memonitor kutipan, serta melihat perkembangan terbaru dalam bidang penelitian mereka.

Fungsi Akun Google Scholar untuk Dosen

  1. Melacak Publikasi
    Akun Google Scholar memungkinkan dosen untuk mengumpulkan dan menyusun daftar publikasi ilmiahnya secara otomatis. Hal ini mempermudah dokumentasi dan pengelolaan hasil karya akademik.

  2. Memantau Kutipan
    Fitur pelacakan kutipan memberikan informasi tentang seberapa sering karya dosen dikutip oleh peneliti lain. Hal ini penting untuk mengukur dampak penelitian dan relevansi karya ilmiah dalam komunitas akademik.

  3. Membangun Reputasi Akademik
    Profil Google Scholar yang terbuka untuk publik memberikan gambaran portofolio akademik seseorang. Informasi seperti h-index, jumlah kutipan, dan bidang penelitian utama membantu membangun reputasi di kalangan akademisi.

  4. Mendapatkan Insight Penelitian Terbaru
    Dengan fitur “alert”, dosen dapat menerima pemberitahuan tentang publikasi baru yang relevan dengan minat penelitian mereka.

  5. Meningkatkan Kolaborasi
    Dosen dapat menggunakan Google Scholar untuk menemukan rekan peneliti, menjelajahi karya mereka, dan membuka peluang kolaborasi.

Cara Membuat Google Scholar

Berikut adalah langkah-langkah untuk menggunakan Google Scholar:

google scholar
Tangkapan layar google scholar


1. Membuat dan Mengelola Akun

  • Langkah 1: Buka Google Scholar dan login menggunakan akun Google Anda.
  • Langkah 2: Klik opsi “My Profile” di bagian atas halaman.
  • Langkah 3: Isi data pribadi, seperti nama lengkap, afiliasi, bidang penelitian, dan alamat email institusi.
  • Langkah 4: Tambahkan foto profil untuk memperkuat kredibilitas.
  • Langkah 5: Google Scholar akan memindai database untuk menemukan publikasi Anda. Pastikan publikasi yang teridentifikasi benar sebelum menambahkannya ke profil.

2. Menambah Publikasi

  • Secara manual: Klik tombol “+” di profil Anda untuk menambahkan artikel atau publikasi yang tidak terdeteksi secara otomatis.
  • Secara otomatis: Pilih opsi pembaruan otomatis agar publikasi baru yang terhubung dengan nama Anda ditambahkan langsung ke profil.

3. Memantau Kutipan

  • Buka profil dan lihat bagian “Citations”. Anda akan melihat jumlah total kutipan, h-index, dan i10-index.
  • Klik angka kutipan untuk melihat detail kutipan dan artikel terkait.

4. Menggunakan Fitur Alert

  • Klik ikon lonceng di Google Scholar dan masukkan kata kunci minat penelitian Anda.
  • Anda akan menerima email setiap ada publikasi baru terkait kata kunci tersebut.

5. Mengunduh dan Mengekspor Data

  • Gunakan fitur ekspor untuk menyimpan daftar publikasi dalam format BibTeX, EndNote, atau format lainnya yang kompatibel dengan perangkat lunak manajemen referensi.

Manfaat Utama Google Scholar

  • Akses Literatur Luas: Database Google Scholar mencakup jutaan literatur dari seluruh dunia.
  • Gratis: Tidak ada biaya berlangganan untuk menggunakan layanan ini.
  • Efisiensi: Memudahkan pencarian, dokumentasi, dan analisis karya ilmiah.
  • Relevansi Global: Profil Google Scholar diakui secara internasional dan sering digunakan untuk mendukung aplikasi beasiswa atau hibah.

Dengan kemudahan dan manfaatnya, Google Scholar adalah alat yang sangat berguna bagi dosen dalam mendukung aktivitas akademik dan pengembangan karier mereka.



Sejumlah Akun Wajib Dimiliki Dosen

Untuk mendukung profesionalisme, pengajaran, penelitian, dan kolaborasi, seorang dosen sebaiknya memiliki sejumlah akun yang relevan. Akun-akun ini membantu dosen mengakses sumber daya, membangun jaringan, dan meningkatkan efisiensi dalam menjalankan tugas akademik. Berikut adalah akun yang wajib dimiliki oleh seorang dosen:

1. Akun Akademik dan Riset

  • Google Scholar: Akun ini memudahkan dosen melacak publikasi, kutipan, dan perkembangan penelitian di bidangnya. Apa itu Google Scholar? (ruangdosen.site)
  • ORCID: Memberikan identitas digital unik untuk dosen, membantu mengintegrasikan karya ilmiah mereka di berbagai platform.
  • ResearchGate: Platform untuk berbagi hasil penelitian, membaca karya kolega, dan berkolaborasi dengan peneliti lain.
  • Scopus ID dan Web of Science (Publons): Wajib dimiliki untuk keperluan indeksasi dan pengakuan karya ilmiah secara global.

2. Akun Institusional

  • Akun Email Kampus: Biasanya diperlukan untuk komunikasi resmi, mengakses jurnal berbayar, dan keperluan administratif.
  • LMS Kampus (seperti Moodle atau Blackboard): Untuk mengelola kelas online dan aktivitas pembelajaran.

3. Akun Media Sosial Profesional

  • LinkedIn: Untuk membangun jejaring profesional, berbagi pencapaian akademik, dan memperluas koneksi dengan rekan sejawat di seluruh dunia.
  • Twitter: Banyak akademisi menggunakan Twitter untuk berdiskusi tentang topik penelitian, berbagi informasi konferensi, dan membangun jejaring.

4. Akun Jurnal dan Penerbit

  • Springer dan Elsevier: Berguna untuk mengakses jurnal ilmiah, mengajukan manuskrip, atau membeli buku akademik.
  • SAGE Journals, Taylor & Francis, atau platform penerbit besar lainnya sesuai bidang.

5. Akun Aplikasi Pendukung Pengajaran

  • Google Drive atau Microsoft OneDrive: Untuk menyimpan dan berbagi dokumen pengajaran dengan mahasiswa.
  • Zoom dan Microsoft Teams: Untuk mengelola pertemuan virtual atau kuliah daring.
  • Kahoot! atau Mentimeter: Untuk interaksi kelas yang lebih menarik.

6. Akun Keanggotaan Asosiasi Profesional

  • Asosiasi Akademik Nasional/Internasional: Seperti TESOL untuk pengajar bahasa Inggris, IEEE untuk dosen teknik, atau asosiasi lain sesuai bidang keilmuan. Akun ini sering memberikan akses ke konferensi, jurnal, dan forum diskusi eksklusif.

7. Akun Pelatihan dan Pengembangan

  • Coursera atau edX: Untuk mengikuti kursus online dan meningkatkan keterampilan di bidang tertentu.
  • Skillshare atau Udemy: Alternatif untuk kursus pengembangan profesional di luar akademik.

8. Akun Publikasi dan Konferensi

  • EasyChair atau ConfTool: Untuk mengelola dan mengikuti konferensi ilmiah.
  • DOAJ (Directory of Open Access Journals): Berguna untuk mempublikasikan artikel di jurnal akses terbuka.

Dengan memiliki akun-akun ini, dosen dapat menjalankan tugasnya secara lebih efisien, tetap relevan dalam perkembangan akademik, dan memperkuat kehadirannya di dunia pendidikan dan penelitian.

Pengalaman Menghadapi Mahasiswa Generasi Z

Ratnawati, Dkk

Menghadapi mahasiswa generasi Z itu ibarat mencoba memahami dunia baru yang penuh warna. Mereka tumbuh di era digital, di mana teknologi menjadi bagian dari hidup sehari-hari. Smartphone, media sosial, dan aplikasi adalah "teman" mereka sejak kecil. Sebagai dosen, saya merasa tantangan sekaligus kesempatan besar untuk menjangkau mereka dengan cara yang relevan.

Salah satu hal yang saya amati, generasi ini memiliki karakteristik yang unik: mereka cepat tanggap, tetapi sering kali mudah terdistraksi. Ketika saya memberikan materi, mereka bisa langsung mencari informasi tambahan melalui ponsel mereka. Ini luar biasa, karena diskusi di kelas jadi lebih dinamis. Namun, tantangannya adalah memastikan mereka tidak tergelincir membuka hal-hal yang tidak relevan dengan pembelajaran.


Yang menarik lagi, mereka sangat visual. Materi yang penuh tulisan panjang sering kali membuat mereka "hilang fokus". Solusinya, saya sering menggunakan presentasi dengan visual menarik atau video singkat yang berisi inti pembelajaran. Metode ini membuat mereka lebih terlibat dan antusias.

Di sisi lain, generasi Z ini punya rasa ingin tahu yang tinggi dan suka berdiskusi, terutama jika topiknya berkaitan dengan isu-isu aktual. Ketika saya membawa contoh kasus nyata atau tren terbaru, kelas selalu hidup dengan diskusi seru. Namun, kadang saya juga harus mengingatkan bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan “googling”. Ada nilai penting dalam mendalami konsep secara mendalam dan membangun kemampuan berpikir kritis.

Hal lain yang saya pelajari adalah mereka sangat peduli pada lingkungan sosial. Mereka senang berbicara tentang isu-isu seperti perubahan iklim, keadilan sosial, atau hak asasi manusia. Jadi, saya sering menyisipkan nilai-nilai ini dalam pembelajaran, agar mereka merasa relevan dengan dunia di sekitar mereka.

Terakhir, mereka menghargai fleksibilitas. Generasi ini suka belajar dengan caranya sendiri, kapan pun dan di mana pun. Menghadapi ini, saya mencoba untuk tidak terlalu kaku. Saya berusaha menyesuaikan jadwal diskusi, memberikan tugas yang fleksibel, atau membuka sesi konsultasi online.

Bagi saya, menghadapi mahasiswa generasi Z adalah pengalaman yang penuh pembelajaran. Mereka memang unik dan penuh tantangan, tetapi ketika kita bisa menyelami dunia mereka, hasilnya sungguh memuaskan. Rasanya seperti membuka pintu ke masa depan yang penuh potensi.

Gaya Komunikasi yang Efektif dengan Mahasiswa

Berkomunikasi dengan mahasiswa zaman sekarang itu memerlukan seni tersendiri. Tidak bisa lagi hanya mengandalkan gaya formal dan satu arah seperti dulu. Generasi sekarang, terutama generasi Z, lebih suka komunikasi yang santai, dua arah, dan penuh empati. Mereka ingin merasa didengar dan dihargai.

Salah satu cara efektif adalah dengan mengurangi kesan "berjarak." Saya sering memulai kelas dengan obrolan ringan tentang hal-hal sehari-hari, seperti film terbaru, tren di media sosial, atau isu-isu yang sedang hangat dibahas. Ini membantu mencairkan suasana, sehingga mereka merasa nyaman untuk berbicara.

Bahasa yang digunakan juga penting. Saya mencoba menyelipkan humor atau istilah-istilah yang akrab di telinga mereka, tentu tanpa kehilangan esensi akademis. Kadang, dengan menyebut kata-kata seperti “vibes” atau “healing,” suasana kelas jadi lebih santai, dan mereka merasa lebih terkoneksi.

Selain itu, saya selalu membuka ruang untuk diskusi. Saya ingin mereka merasa bebas mengungkapkan pendapat, bahkan jika itu berbeda dari pandangan saya. Yang penting, komunikasi harus tetap saling menghargai. Saya juga berusaha aktif mendengarkan, karena bagi mereka, didengar adalah salah satu bentuk penghargaan terbesar.

Pendekatan Pembelajaran yang Relevan dengan Kebutuhan Generasi Sekarang

Mengajar generasi sekarang berarti harus kreatif dan adaptif. Mereka tumbuh di tengah kemajuan teknologi, jadi metode pembelajaran konvensional saja sering kali kurang efektif. Pendekatan yang relevan adalah yang menggabungkan teknologi dengan cara belajar interaktif.

Saya sering memanfaatkan media digital seperti video pembelajaran, infografis, atau platform pembelajaran online untuk mendukung materi. Dengan cara ini, mereka bisa belajar kapan saja dan di mana saja. Tugas-tugas berbasis proyek juga sangat cocok, karena generasi ini lebih suka belajar melalui pengalaman nyata dibandingkan hanya mendengar teori.

Gamifikasi juga menjadi pendekatan yang menarik. Saya pernah menggunakan kuis berbasis aplikasi, di mana mereka bisa belajar sambil bermain. Responsnya luar biasa positif! Selain itu, saya mencoba melibatkan mereka dalam aktivitas kolaboratif seperti diskusi kelompok atau kerja tim. Generasi ini sangat menghargai kerja sama dan lebih termotivasi saat mereka merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Terakhir, saya selalu mencoba membuat pembelajaran relevan dengan dunia nyata. Saya sering membawa contoh kasus yang sedang viral atau membahas keterampilan praktis yang akan mereka butuhkan di masa depan. Dengan begini, mereka merasa apa yang dipelajari tidak hanya sekadar untuk nilai, tetapi benar-benar bermanfaat untuk hidup mereka.

Pendekatan dan komunikasi yang tepat tidak hanya membuat mereka lebih terlibat, tetapi juga membantu membangun hubungan yang lebih kuat antara dosen dan mahasiswa. Ini membuat proses belajar mengajar terasa lebih menyenangkan dan bermakna.

Kiat-Kiat Menulis Buku Ajar dan Modul Pembelajaran

Gambar Ilustrasi Baca buku

Menulis buku ajar atau modul pembelajaran itu sebenarnya mirip kayak bercerita, tapi dalam versi akademik. Tujuannya bukan cuma menyampaikan informasi, tapi juga bikin pembaca (dalam hal ini mahasiswa) paham dan tertarik untuk belajar lebih lanjut. Nah, langkah pertama adalah memahami dulu kebutuhan mahasiswa. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang mereka butuhkan untuk benar-benar menguasai materi ini?” Kalau udah jelas, mulailah dengan membuat kerangka isi. Jangan langsung nulis bab demi bab tanpa panduan, nanti ujung-ujungnya bakal bingung sendiri.

Kiat penting lainnya adalah gunakan bahasa yang sederhana dan mengalir. Jangan kebanyakan istilah teknis yang malah bikin mahasiswa pusing duluan sebelum paham. Kalau harus pakai istilah rumit, pastikan ada penjelasan atau contoh. Dan jangan lupa, lengkapi dengan gambar, diagram, atau tabel. Visualisasi itu penting banget buat menjelaskan konsep yang kompleks.

Menulis buku ajar atau modul pembelajaran memerlukan persiapan yang matang. Pertama-tama, tentukan tujuan dari buku atau modul tersebut. Apakah untuk mendukung mata kuliah tertentu? Apakah untuk memperluas wawasan mahasiswa? Dengan tujuan yang jelas, arah penulisan akan lebih terstruktur.

Selanjutnya, buat kerangka isi. Kerangka ini akan menjadi peta penulisan yang membantu kamu menyusun materi secara logis dan terorganisasi. Jangan lupa, sesuaikan isi buku dengan kebutuhan mahasiswa. Usahakan menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif, tapi tetap menjaga ketepatan ilmiah. Jika memungkinkan, tambahkan elemen visual seperti diagram, tabel, atau ilustrasi untuk mempermudah pemahaman konsep yang rumit.

Untuk menjaga keterhubungan antara materi, gunakan alur yang mengalir. Mulailah dari konsep dasar sebelum menuju materi yang lebih kompleks. Akhiri setiap bab dengan rangkuman dan soal latihan agar mahasiswa dapat mengukur pemahaman mereka.

Proses Kreatif dalam Menulis Bahan Ajar yang Menarik

Menulis bahan ajar itu butuh kreativitas, lho. Jangan cuma fokus pada isi materi, tapi pikirkan juga cara penyampaiannya. Misalnya, tambahkan cerita atau studi kasus yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Kalau mereka bisa relate dengan apa yang dibahas, mereka akan lebih tertarik untuk belajar. Selain itu, jangan ragu eksplorasi format yang lebih interaktif. Misalnya, tambahkan pertanyaan refleksi, kuis kecil, atau tugas praktis di tiap akhir bab. Ini bikin bahan ajar terasa lebih hidup dan nggak membosankan.

Proses kreatif juga melibatkan banyak riset. Bacalah buku atau modul serupa, cari tahu gaya penulisan yang cocok, dan pelajari cara penulis lain menyusun materi. Kalau udah mentok ide, coba ambil jeda sebentar dan ngobrol dengan kolega atau mahasiswa. Kadang, perspektif baru bisa memicu ide segar yang nggak terpikir sebelumnya.

Proses kreatif menulis bahan ajar melibatkan lebih dari sekadar menulis. Langkah pertama adalah memahami audiens, yaitu mahasiswa. Apa yang menarik bagi mereka? Apa tantangan yang mereka hadapi saat mempelajari materi ini? Dengan memahami ini, kamu bisa menulis dengan sudut pandang yang relevan dan menarik.

Tambahkan elemen-elemen kreatif ke dalam bahan ajar. Misalnya, gunakan studi kasus nyata, cerita pendek yang relevan, atau ilustrasi kehidupan sehari-hari. Ini akan membantu mahasiswa menghubungkan teori dengan praktik nyata. Gunakan juga format interaktif, seperti pertanyaan refleksi, kuis, atau proyek mini yang memotivasi mereka untuk belajar lebih aktif.

Selain itu, jangan takut bereksperimen dengan gaya penulisan. Hindari teks yang terlalu kaku atau membosankan. Cobalah gaya yang lebih mengalir, tetapi tetap profesional. Pastikan setiap bab memiliki kesatuan, baik dari segi tema maupun alur cerita. Jika merasa mentok ide, ambil waktu sejenak untuk merefleksi atau berdiskusi dengan kolega untuk mendapatkan masukan baru.

Panduan Penerbitan Buku Ajar bagi Dosen

Setelah naskah selesai, langkah berikutnya adalah penerbitan. Kalau ini buku ajar pertama kamu, jangan ragu untuk konsultasi dengan kolega atau mentor yang udah punya pengalaman. Biasanya, ada panduan format tertentu dari kampus atau penerbit yang harus diikuti, jadi pastikan kamu memahaminya sejak awal.

Cari penerbit yang memang fokus pada buku akademik. Banyak penerbit universitas atau institusi pendidikan yang siap membantu dosen menerbitkan buku ajar. Biasanya, prosesnya melibatkan review naskah oleh editor atau tim ahli untuk memastikan kualitas konten. Kalau ingin lebih fleksibel, self-publishing juga jadi opsi menarik. Tapi, pastikan kamu paham proses teknisnya, mulai dari desain layout, ISBN, hingga distribusi.

Setelah naskah selesai, tahap berikutnya adalah menerbitkannya. Langkah pertama adalah memastikan naskah sesuai dengan standar penulisan akademik. Biasanya, penerbit memiliki format tertentu, seperti jenis huruf, margin, dan struktur isi. Pastikan semua itu terpenuhi sebelum mengirimkan naskah.

Kamu bisa memilih penerbit akademik atau universitas yang sudah berpengalaman menerbitkan buku ajar. Prosesnya biasanya melibatkan tahap review oleh tim ahli untuk memastikan kualitas konten dan kesesuaian dengan kebutuhan akademik. Selain penerbit tradisional, kamu juga bisa mempertimbangkan self-publishing, terutama jika ingin kontrol penuh atas proses penerbitan. Namun, metode ini memerlukan usaha ekstra untuk desain layout, pengurusan ISBN, hingga pemasaran.

Promosi juga penting. Gunakan media sosial atau forum akademik untuk memperkenalkan buku ajar kamu. Selain itu, rekomendasikan buku tersebut ke mahasiswa atau kolega dosen yang mengajar bidang yang sama. Dengan begitu, buku ajar yang kamu tulis bisa menjangkau lebih banyak orang dan memberi dampak yang luas.

Siap untuk memulai perjalanan menulis buku ajar? Jangan takut untuk mencoba dan belajar dari prosesnya!

Terakhir, jangan lupa promosikan bukumu. Bisa lewat media sosial, forum akademik, atau rekomendasi ke mahasiswa langsung. Selain meningkatkan penyebaran, ini juga jadi cara membangun kredibilitas kamu sebagai dosen dan penulis. Jadi, siap mulai menulis?


Entri yang Diunggulkan

Apakah Kehadiran Masih Relevan di Era Pembelajaran Digital?

Klaster 4: Dunia Kampus dan Mahasiswa Pandemi COVID-19 yang melanda dunia beberapa tahun lalu telah mengubah wajah pendidikan secara dra...