Klaster 4: Dunia Kampus dan Mahasiswa
Di ruang kelas mana pun saat ini, baik itu di perguruan
tinggi negeri maupun swasta, satu pemandangan yang sering terlihat adalah:
dosen sedang menjelaskan materi dengan antusias di depan papan tulis, namun di
beberapa baris tengah dan belakang, terlihat mahasiswa yang matanya sesekali
melirik layar ponsel, menggerakkan jari dengan cepat, atau bahkan terlihat melamun
seolah pikirannya melayang ke tempat lain. Ketika ditanya, seringkali
jawabannya singkat: “Maaf Pak/Bu, tadi tidak mendengar.”
Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan buruk segelintir
mahasiswa, melainkan telah menjadi topik diskusi hangat di kalangan pendidik,
peneliti, dan pengamat pendidikan. Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa
mahasiswa Generasi Z terasa semakin sulit mempertahankan fokus saat berada di
dalam kelas?
Untuk memahaminya, kita tidak bisa hanya menyalahkan mereka
sebagai generasi yang malas atau kurang disiplin. Kita perlu melihat dari latar
belakang kehidupan, lingkungan tumbuh, dan cara kerja otak mereka yang
terbentuk oleh zaman yang berbeda.
Siapa Sebenarnya Generasi Z?
Sebelum masuk ke inti permasalahan, mari kita kenali terlebih
dahulu siapa yang dimaksud dengan Generasi Z. Secara umum, mereka adalah
individu yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012. Saat ini, mereka adalah
mayoritas penghuni bangku perkuliahan.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang tumbuh di era
transisi teknologi, Generasi Z lahir dan besar di tengah gempuran informasi
digital. Mereka menyebut internet sebagai hal yang “sudah ada sejak mereka
lahir”. Dunia mereka adalah dunia yang serba cepat, instan, dan terhubung 24
jam. Semua kebutuhan informasi, hiburan, hingga interaksi sosial bisa
didapatkan hanya dalam hitungan detik melalui genggaman tangan.
Kondisi lingkungan ini secara tidak langsung membentuk cara
berpikir, cara memproses informasi, dan tentunya rentang perhatian mereka.
Inilah yang menjadi akar utama mengapa tantangan untuk tetap fokus di ruang
kelas menjadi jauh lebih berat bagi mereka dibandingkan generasi sebelumnya.
1. Efek Dunia
Digital dan Perubahan Cara Kerja Otak
Ini adalah alasan paling mendasar. Penelitian di bidang ilmu
saraf menunjukkan bahwa paparan terus-menerus terhadap informasi yang datang
dalam potongan-potongan pendek, cepat, dan beragam rangsangan dapat mengubah
struktur dan fungsi otak, terutama bagian yang mengatur konsentrasi dan
pengendalian diri.
Generasi Z terbiasa menerima informasi dalam bentuk singkat,
padat, dan visual. Konten media sosial seperti video pendek, gambar, pesan
singkat, dan berita kilat telah melatih otak mereka untuk menginginkan respons
yang cepat. Jika sebuah materi atau aktivitas terasa berjalan lambat, tidak
berubah dalam waktu lama, atau terasa membosankan, otak secara otomatis akan
mencari rangsangan baru yang lebih “menarik”.
Di dalam kelas, proses pembelajaran seringkali membutuhkan
waktu yang lama untuk memahami satu konsep. Penjelasan yang mendalam, uraian
teori, dan diskusi yang membutuhkan pemikiran mendalam seringkali terasa
“terlalu lambat” bagi standar otak mereka yang sudah terbiasa dengan kecepatan
dunia maya. Akibatnya, rentang perhatian mereka menjadi lebih pendek. Jika
tidak ada hal baru yang memicu rasa ingin tahu dalam waktu singkat, fokus pun
mulai terpecah.
2. Godaan Gawai
dan Notifikasi yang Tak Pernah Berhenti
Alasan paling nyata yang terlihat secara kasat mata adalah
keberadaan perangkat genggam atau ponsel pintar. Di satu sisi, alat ini adalah
sumber ilmu yang sangat besar; di sisi lain, ia adalah gangguan terbesar di
dalam ruang belajar.
Bayangkan saja: selama satu jam pelajaran, ada kemungkinan
puluhan notifikasi masuk. Mulai dari pesan teman, pembaruan status, kabar
berita, hingga tawaran hiburan. Setiap bunyi getar atau cahaya yang menyala
adalah panggilan bagi otak untuk beralih perhatian. Secara psikologis, ada rasa
penasaran yang sulit ditahan: “Apa isi pesan itu?” atau “Apakah ada hal baru
yang terjadi?”
Banyak mahasiswa mungkin berniat untuk tidak memegang ponsel
saat belajar, namun daya tariknya sangat kuat. Bahkan penelitian menunjukkan
bahwa sekadar mengetahui ponsel ada di dekatnya pun sudah cukup untuk
mengurangi kapasitas kognitif dan konsentrasi seseorang, meskipun tidak sedang
digunakan. Pergeseran perhatian ini, meskipun hanya sebentar, membutuhkan waktu
bagi otak untuk kembali fokus ke materi pelajaran. Jika hal ini terjadi
berulang kali, proses belajar menjadi terputus-putus dan pemahaman menjadi
dangkal.
3. Perbedaan Gaya
Belajar dan Cara Penyampaian Materi
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada kesenjangan antara cara
mengajar tradisional dengan cara belajar yang disukai oleh Generasi Z. Selama
puluhan tahun, pola pembelajaran di kampus didominasi oleh sistem satu arah:
dosen menjelaskan, mahasiswa mendengarkan dan mencatat.
Generasi Z adalah pembelajar yang interaktif, visual, dan
praktis. Mereka lebih mudah memahami hal-hal yang terlihat, didemonstrasikan,
dan bisa langsung diterapkan. Jika perkuliahan hanya berlangsung dalam bentuk
ceramah panjang tanpa variasi, tanpa media pendukung yang menarik, dan tanpa
kesempatan untuk terlibat aktif, maka bagi mereka suasana kelas akan terasa
kaku dan membosankan.
Ketika materi terasa membosankan atau tidak terasa relevan
dengan kehidupan sehari-hari mereka, otak akan mengirimkan sinyal bahwa
aktivitas ini “tidak penting”. Akibatnya, energi untuk mempertahankan fokus pun
menurun drastis. Mereka mulai merasa bahwa mendengarkan adalah hal yang
melelahkan, sehingga pikiran secara tidak sadar melayang ke hal-hal lain yang
dianggap lebih menyenangkan.
4. Beban Informasi
dan Kelelahan Mental
Selain gangguan dari luar, ada juga faktor internal yang
sering tidak disadari, yaitu kelelahan akibat terlalu banyaknya informasi.
Istilahnya sering disebut sebagai information overload atau kelebihan
beban informasi.
Setiap hari, tanpa sadar, mahasiswa menerima jutaan informasi
dari berbagai sumber: media sosial, grup percakapan, berita, hingga konten
hiburan. Otak terus bekerja menyaring, memproses, dan menyimpan informasi
tersebut. Ketika mereka masuk ke dalam kelas, kondisi otak mungkin sudah dalam
keadaan lelah sebelum proses belajar dimulai. Cadangan energi untuk
berkonsentrasi sudah terpakai habis untuk mengikuti arus informasi di luar
kampus.
Ditambah lagi dengan gaya hidup yang sering kurang teratur:
begadang untuk berselancar di dunia maya, kurang tidur, dan jarang berolahraga.
Kurangnya istirahat berkualitas secara langsung menurunkan kemampuan otak untuk
berkonsentrasi, mengingat, dan berpikir jernih. Jika tubuh dan pikiran tidak
segar, mempertahankan fokus selama satu hingga dua jam perkuliahan terasa
menjadi tugas yang sangat berat.
5. Kurangnya
Kesadaran Akan Pentingnya Fokus
Terakhir, ada faktor kebiasaan dan kedisiplinan diri. Karena
sejak kecil mereka terbiasa melakukan banyak hal sekaligus atau multitasking—menonton
video sambil mengerjakan tugas, atau mengobrol sambil membaca—mereka sering
kali mengira bahwa hal itu adalah cara yang efisien. Padahal, secara ilmiah,
apa yang disebut multitasking sebenarnya hanyalah perpindahan perhatian yang
cepat dari satu hal ke hal lain, yang justru membuat otak bekerja lebih berat
dan mengurangi kualitas pemahaman.
Banyak mahasiswa belum memahami bahwa fokus adalah sebuah
keterampilan yang perlu dilatih, bukan sesuatu yang bisa muncul begitu saja.
Mereka belum menyadari bahwa jika perhatian terpecah, maka penyerapan materi
hanya berlangsung secara dangkal, yang pada akhirnya akan berdampak pada hasil
belajar dan pemahaman mereka secara mendalam.
Bukan Masalah Tak
Terpecahkan
Memahami alasan di balik kesulitan fokus ini bukan berarti
membenarkan kebiasaan tersebut, melainkan agar kita bisa mencari solusi yang
tepat. Sebagai pendidik dan juga sebagai pihak yang memahami perkembangan
zaman, kita tidak bisa hanya menuntut mahasiswa untuk fokus tanpa berusaha
menciptakan kondisi yang mendukung.
Sebagai dosen, kita bisa mulai mengubah pendekatan mengajar:
lebih banyak menggunakan media visual, mengajak diskusi, memberikan studi kasus
nyata, dan memecah sesi ceramah menjadi bagian-bagian yang lebih pendek agar
sesuai dengan kemampuan konsentrasi mereka.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu dibekali pemahaman
mengenai manajemen diri, cara mengatur waktu, dan pentingnya melatih fokus.
Membiasakan diri untuk meletakkan gawai selama jam belajar, menjaga pola tidur,
dan memilih informasi yang benar-benar dibutuhkan adalah langkah awal yang bisa
dilakukan.
Generasi Z membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan,
namun di balik tantangan itu juga tersimpan potensi besar. Mereka adalah
generasi yang cepat beradaptasi, kreatif, dan melek teknologi. Jika kesulitan
fokus ini dapat diatasi dengan pemahaman yang tepat dan dukungan dari
lingkungan kampus, maka mereka akan mampu mengubah kelebihannya itu menjadi
prestasi yang gemilang.
Jadi, pertanyaan “mengapa mereka sulit fokus?” sudah
terjawab. Sekarang tugas kita bersama adalah: bagaimana membantu mereka belajar
untuk tetap fokus, agar masa depan mereka bisa dibangun dengan ilmu yang
benar-benar dikuasai, bukan sekadar lewat didengar sepintas lalu.
Sumber referensi:
- Studi
tentang Perkembangan Generasi Z dan Pembelajaran, Jurnal Pendidikan Tinggi
- Pengaruh
Teknologi Digital Terhadap Rentang Perhatian, Lembaga Penelitian Psikologi
Sosial
- Panduan
Manajemen Perhatian di Era Digital
Tidak ada komentar:
Posting Komentar