🎓 Prestasi Luar Biasa vs Dedikasi Luar Biasa: Mana yang Lebih Menentukan?
Refleksi Jujur tentang Karier Dosen, Sistem
Penilaian, dan Realitas Akademik
| PRESTASI |
Halo Sobat Ruang Dosen 👋
Di dunia kampus, ada dua frasa yang sering bikin diskusi panjang (bahkan debat panas) di ruang dosen atau grup WhatsApp fakultas:
👉 “prestasi
luar biasa”
👉 “dedikasi luar biasa”
Yang satu sering diasosiasikan dengan publikasi
Scopus, sitasi tinggi, hibah besar, dan nama yang sering muncul di seminar
internasional.
Yang satunya lagi identik dengan dosen yang selalu ada di kampus, setia
mengajar, membimbing mahasiswa tanpa pamrih, aktif di pengabdian, dan jarang
menolak tugas institusi.
Pertanyaannya:
dalam sistem karier
dosen hari ini, mana yang sebenarnya lebih menentukan?
Yuk, kita bahas pelan-pelan, santai, tapi jujur.
📌
Memahami Dua Istilah yang Sering Disalahpahami
Sebelum membandingkan, kita perlu menyamakan
persepsi dulu.
🔹 Apa Itu Prestasi Luar
Biasa?
Dalam konteks regulasi dan kebijakan pendidikan
tinggi, prestasi luar biasa
biasanya merujuk pada capaian akademik yang:
·
Melebihi standar normal
jabatan akademik
·
Terukur secara objektif
·
Diakui secara nasional atau
internasional
Contohnya:
·
Publikasi di jurnal
internasional bereputasi (Scopus/WoS)
·
Sitasi tinggi dan konsisten
·
Hibah penelitian kompetitif
skala nasional/internasional
·
Hak paten, inovasi, atau
karya monumental
Prestasi inilah yang sering menjadi dasar jalur
percepatan karier, termasuk kenaikan jabatan dua tingkat lebih
tinggi.
🔹 Apa Itu Dedikasi Luar
Biasa?
Sementara itu, dedikasi luar biasa
lebih dekat dengan:
·
Konsistensi mengajar dari
tahun ke tahun
·
Loyalitas pada institusi
·
Pengabdian kepada
masyarakat berkelanjutan
·
Kesediaan mengerjakan tugas
tambahan
·
Peran informal menjaga
ekosistem akademik
Dedikasi sering kali tidak
selalu terkonversi menjadi angka kredit besar, tapi nyata
dirasakan oleh mahasiswa dan institusi.
Masalahnya:
👉 dedikasi sering tidak
“berisik” secara administratif.
⚖️ Dalam Sistem Karier Dosen, Mana yang Lebih
Menentukan?
Kalau kita bicara jujur berdasarkan sistem
penilaian formal, jawabannya mungkin terasa pahit:
Prestasi luar biasa
lebih menentukan secara struktural.
Kenapa?
📊 Logika Sistem: Mengapa Prestasi Lebih
Diutamakan?
1️⃣
Sistem Karier Dosen Bersifat Evidence-Based
Dalam Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit
dan Jabatan Akademik Dosen, hampir semua indikator karier dosen berbasis
bukti terukur:
·
Artikel → jurnal → indeks
·
Penelitian → hibah → luaran
·
Buku → ISBN → penerbit
·
HKI → sertifikat
Prestasi luar biasa mudah
dibuktikan secara administratif.
Sementara dedikasi:
·
sulit dikuantifikasi
·
sering bersifat kualitatif
·
tidak selalu terdokumentasi
📌 Sistem birokrasi lebih
nyaman dengan data keras dibanding cerita pengabdian.
2️⃣
Regulasi Mendorong Meritokrasi Akademik
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
menegaskan bahwa dosen adalah tenaga profesional
yang harus terus meningkatkan kompetensi dan kontribusi keilmuan.
Kemudian, kebijakan jabatan fungsional terbaru
(PermenPANRB No. 1 Tahun 2023) semakin menekankan:
kinerja, kompetensi,
dan capaian nyata,
bukan sekadar masa kerja atau loyalitas.
Artinya, sistem secara sadar mendorong
prestasi akademik yang bisa diukur dan dibandingkan.
3️⃣
Prestasi Luar Biasa Membawa Dampak Reputasional
Dari sudut pandang institusi:
·
publikasi internasional →
menaikkan peringkat
·
hibah besar → menaikkan
daya saing
·
sitasi → menaikkan
visibilitas
Maka wajar jika sistem memberi bobot besar pada
prestasi yang berdampak eksternal.
Dedikasi sering berdampak internal—penting, tapi
kurang terlihat dari luar.
😔 Lalu, Apakah Dedikasi Luar Biasa Tidak
Penting?
Jawabannya: sangat penting,
tapi sering kalah suara.
Dedikasi luar biasa adalah:
·
“oli” yang membuat mesin
akademik tetap berjalan
·
penyangga stabilitas
institusi
·
penopang kualitas
pembelajaran harian
Tanpa dosen yang berdedikasi:
·
mahasiswa kehilangan
pembimbing
·
program studi kehilangan
kontinuitas
·
budaya akademik melemah
Masalahnya bukan pada dedikasinya, tapi pada cara
sistem menilainya.
ðŸ§
Ketika Dedikasi Tidak Terjemahkan ke dalam Sistem
Banyak dosen mengalami ini:
·
sibuk membimbing mahasiswa
·
aktif pengabdian
·
mengurus administrasi
akademik
tapi ketika pengajuan JAD:
❌ angka kredit tidak cukup
❌ publikasi kurang
❌ kalah bersaing dengan dosen “lebih produktif
menulis”
Ini bukan karena dedikasi tidak berharga, tapi
karena dedikasi tidak dikemas menjadi prestasi
yang terukur.
🔄 Jadi, Mana yang Lebih Menentukan?
Kalau pertanyaannya kita luruskan:
🔹 Dalam sistem karier
formal → Prestasi luar biasa lebih
menentukan
🔹 Dalam keberlangsungan
akademik → Dedikasi luar biasa tidak
tergantikan
Masalah muncul ketika:
dedikasi tidak dikonversi menjadi prestasi.
🧩 Jalan Tengah: Menggabungkan Prestasi dan Dedikasi
Kabar baiknya:
keduanya tidak harus
dipertentangkan.
Dosen yang cerdas secara strategis akan:
·
menjadikan dedikasi sebagai
sumber data
·
mengubah praktik mengajar
menjadi riset
·
mengemas pengabdian menjadi
publikasi
·
menjadikan pengalaman
membimbing sebagai buku ajar
📌 Dedikasi + strategi =
prestasi yang diakui sistem.
✨ Refleksi Akhir untuk Sobat Ruang Dosen
Sobat Ruang Dosen,
kalau hari ini kamu merasa:
·
sudah sangat berdedikasi
·
tapi karier terasa jalan di
tempat
mungkin bukan karena kamu kurang berkontribusi,
melainkan karena kontribusimu belum diterjemahkan ke
bahasa sistem.
Dan kalau kamu punya prestasi luar biasa,
ingatlah bahwa:
prestasi tanpa dedikasi bisa kering,
dedikasi tanpa prestasi bisa terpinggirkan.
Karier dosen idealnya berdiri di titik
temu keduanya.
📚
Daftar Referensi
1.
Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
2.
Peraturan Menteri PANRB Nomor 1
Tahun 2023 tentang Jabatan Fungsional.
3.
Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi. Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit dan Jabatan Akademik
Dosen.
4.
Sallis, E. (2014). Total
Quality Management in Education. Routledge.
5.
Altbach, P. G., Reisberg, L.,
& Rumbley, L. E. (2019). Trends in Global Higher Education.
UNESCO.
![]() |
| PENERBIT BUKU |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar