Menjadi Lektor
Kepala bukan sekadar soal memenuhi angka kredit. Ia adalah fase
penting dalam perjalanan akademik dosen—titik di mana pengalaman, konsistensi,
dan kontribusi ilmiah mulai membentuk identitas
keilmuan yang matang.
Banyak dosen merasa jabatan fungsional sebagai
sesuatu yang “dikejar saat dibutuhkan”. Padahal, karier akademik yang sehat
justru dibangun melalui perencanaan
jangka menengah, bukan langkah tergesa di akhir.
Artikel ini mengajak kita melihat pengusulan
Lektor Kepala sebagai proses
yang dirancang, bukan sekadar target administratif.
1. Roadmap 2–3 Tahun Menuju Lektor Kepala
Alih-alih bertanya “kapan saya bisa mengusulkan LK?”, pertanyaan yang lebih
tepat adalah:
“apa yang perlu saya
siapkan sejak sekarang?”
Contoh roadmap sederhana:
Tahun
Pertama
·
Menetapkan fokus bidang
keilmuan
·
Menyusun rencana riset
pribadi
·
Mulai menulis artikel
berbasis hasil pengajaran atau pengabdian
Tahun
Kedua
·
Konsisten publikasi pada
jurnal linier
·
Mengembangkan kolaborasi
riset
·
Memperkuat rekam jejak
tridharma
Tahun
Ketiga
·
Menutup kekurangan angka
kredit
·
Melengkapi dokumen dan
bukti fisik
·
Melakukan simulasi
pengusulan
Roadmap ini fleksibel, tetapi intinya sama:
Lektor Kepala diraih
melalui persiapan, bukan kebetulan.
2. Manajemen Waktu Tridharma: Bukan Membagi, tapi
Menyelaraskan
Masalah umum dosen bukan kekurangan aktivitas,
melainkan aktivitas yang
terpisah-pisah.
Pendekatan yang lebih efektif adalah:
·
Mengajar → menjadi sumber
riset
·
Riset → menghasilkan
publikasi
·
Publikasi → memperkuat
pengabdian
Ketika tridharma diselaraskan, waktu tidak
lagi terasa terbagi, melainkan saling
menguatkan.
3.
Strategi Riset Berkelanjutan
Riset yang baik untuk karier akademik bukan
riset yang sporadis, tetapi:
·
Konsisten pada satu tema
besar
·
Berkembang secara bertahap
·
Meninggalkan jejak keilmuan
Mulailah dari:
·
Topik kecil yang dekat
dengan pengajaran
·
Data sederhana namun valid
·
Kolaborasi dengan dosen
satu bidang
Dengan strategi ini, publikasi tidak terasa
sebagai beban, tetapi sebagai kelanjutan
alami dari proses akademik.
4. Dokumentasi Akademik: Kebiasaan Kecil, Dampak
Besar
Banyak pengusulan tersendat bukan karena
kurang kegiatan, tetapi karena bukti
tidak lengkap.
Biasakan sejak dini:
·
Menyimpan SK, surat tugas,
dan sertifikat
·
Mengarsipkan artikel,
prosiding, dan laporan
·
Mencatat peran dan
kontribusi dalam setiap kegiatan
Dokumentasi yang rapi adalah bentuk penghargaan terhadap kerja akademik
sendiri.
5.
Mengubah Mindset: Dari Target Jabatan ke Legacy Akademik
Lektor Kepala bukan tujuan akhir, melainkan fase konsolidasi keilmuan.
Pada tahap ini, dosen mulai dikenal bukan hanya sebagai pengajar, tetapi
sebagai:
·
Peneliti
·
Penulis
·
Kontributor ilmu
pengetahuan
Ketika mindset bergeser dari “mengejar
jabatan” ke “membangun rekam jejak”, proses pengusulan justru menjadi lebih ringan dan bermakna.
Penutup:
Karier Akademik adalah Perjalanan, Bukan Sprint
Tidak semua dosen bergerak dengan kecepatan
yang sama, dan itu wajar. Yang terpenting adalah bergerak dengan arah yang jelas.
Dengan perencanaan 2–3 tahun, manajemen
tridharma yang selaras, riset berkelanjutan, dan dokumentasi sejak dini, Lektor
Kepala bukan lagi sesuatu yang menakutkan—melainkan tahap yang siap disambut.
Semoga artikel ini menjadi pengingat bahwa
setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari jejak akademik yang lebih besar di masa
depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar