Kesalahan Umum dan Penyebab Pengusulan Jabatan Fungsional Ditolak: Belajar agar Tidak Mengulang


Dalam proses pengusulan Jabatan Fungsional Dosen (JFD), penolakan atau pengembalian berkas sering menimbulkan rasa kecewa. Tidak sedikit dosen yang merasa sudah bekerja keras bertahun-tahun, tetapi hasil pengusulannya belum berhasil.

Namun dalam banyak kasus, penolakan bukan karena dosen tidak layak, melainkan karena kesalahan teknis dan strategis yang sebenarnya bisa dihindari. Artikel ini tidak bertujuan menyalahkan, tetapi mengajak belajar bersama agar kesalahan yang sama tidak terulang.

 

Penolakan Bukan Vonis Akademik

Hal pertama yang perlu dipahami:
pengusulan yang ditolak bukan berarti kualitas akademik dosen rendah. Sistem penilaian jabatan fungsional bekerja berbasis:

·         Dokumen

·         Aturan

·         Kesesuaian bidang

Jika satu saja unsur tidak terpenuhi, penilai tidak memiliki ruang subjektif untuk meloloskan pengusulan. Inilah sebabnya kesalahan kecil bisa berdampak besar.

 

1. Artikel Tidak Sesuai Bidang Ilmu

Ini adalah salah satu penyebab paling sering muncul.

Apa yang terjadi?

·         Dosen menulis artikel di luar bidang homebase

·         Topik artikel terlalu jauh dari keahlian utama

·         Publikasi tidak menunjukkan kesinambungan keilmuan

Mengapa bermasalah?
Karena pengusulan jabatan fungsional menilai kedalaman dan konsistensi bidang, bukan sekadar kemampuan menulis.

Pelajaran penting:
Lebih baik sedikit artikel tetapi linier, daripada banyak artikel yang tidak membentuk identitas keilmuan.

 

2. Bukti Fisik Tidak Sah atau Tidak Kuat

Penilai bekerja sepenuhnya berdasarkan bukti tertulis.

Masalah yang sering muncul:

·         Surat tugas tanpa tanda tangan pejabat berwenang

·         SK tidak sesuai periode kegiatan

·         Sertifikat tidak mencantumkan peran dosen

Mengapa bermasalah?
Dalam sistem penilaian, aktivitas tanpa bukti sah dianggap tidak ada.

Pelajaran penting:
Dokumentasi bukan formalitas, tetapi nyawa pengusulan.

 

3. Penilaian Ganda atas Kegiatan yang Sama

Beberapa dosen tanpa sadar mengklaim:

·         Kegiatan yang sama pada dua unsur berbeda

·         Artikel yang sama untuk lebih dari satu klaim

·         Penelitian yang sama diklaim berulang

Mengapa bermasalah?
Setiap aktivitas hanya boleh dinilai satu kali pada satu unsur tertentu.

Pelajaran penting:
Pengusulan yang rapi bukan yang paling banyak klaim, tetapi yang paling jujur dan proporsional.

 

4. Klaim Angka Kredit Berlebihan

Keinginan agar angka cepat terpenuhi sering mendorong dosen:

·         Mengklaim angka di luar ketentuan

·         Mengasumsikan nilai maksimal tanpa dasar

·         Menggabungkan beberapa kegiatan menjadi satu klaim besar

Mengapa bermasalah?
Asesor menilai berdasarkan aturan, bukan asumsi. Klaim berlebihan justru menurunkan kredibilitas berkas.

Pelajaran penting:
Klaim realistis lebih aman daripada klaim ambisius.

 

5. Kegiatan Tidak Linier dengan Homebase

Linieritas menjadi kata kunci dalam penilaian.

Contoh masalah:

·         Pengabdian tidak sesuai bidang keilmuan

·         Penelitian lintas bidang tanpa peran keahlian yang jelas

·         Penugasan administratif diklaim sebagai tridharma utama

Mengapa bermasalah?
Jabatan fungsional menilai dosen berdasarkan keahlian yang diampu, bukan sekadar keterlibatan.

Pelajaran penting:
Setiap kegiatan perlu menunjukkan peran keilmuan dosen secara jelas.

 

Menghindari Kesalahan: Beberapa Prinsip Sederhana

Untuk meminimalkan risiko penolakan:

·         Siapkan pengusulan sebagai proses jangka panjang

·         Fokus pada linieritas dan konsistensi

·         Dokumentasikan kegiatan sejak awal

·         Baca ulang berkas dari sudut pandang penilai

 

Penutup: Ditolak Bukan Akhir, Tapi Bahan Evaluasi

Pengusulan jabatan fungsional yang ditolak bukan kegagalan, melainkan bahan evaluasi akademik. Banyak dosen berhasil pada pengusulan berikutnya setelah memahami di mana letak kesalahan.

Dengan sikap terbuka dan pemahaman yang lebih baik, proses pengusulan tidak lagi menjadi sumber stres, tetapi bagian dari pembelajaran profesional sebagai dosen.


Artikel lainnya




Tidak ada komentar:

Posting Komentar