AK Prestasi: Peluang Baru bagi Dosen Produktif dan Berdampak

๐ŸŽ“ AK Prestasi: Peluang Baru bagi Dosen Produktif dan Berdampak

AK Prestasi: Peluang Baru bagi Dosen Produktif dan Berdampak


Halo Sobat Akademik! ๐Ÿ‘‹
Kalau kamu merasa dunia dosen itu cuma soal ngajar, nulis jurnal, atau ngurus angka kredit biasa aja, kamu belum lengkap memahami “AK Prestasi” — sebuah peluang baru yang sedang menjadi perhatian besar bagi banyak dosen di Indonesia. Istilah ini bukan sekadar bahasa teknis birokrasi, tapi bisa jadi kunci percepatan karier dan pengakuan atas kontribusi nyata dosen dalam tugas tridharma yang berdampak.

Dalam artikel ini kita akan membahas secara santai tapi lengkap:
Apa itu AK Prestasi
Kenapa ini jadi peluang besar buat dosen
Contoh prestasi yang bisa dinilai
Strategi supaya kamu bisa memanfaatkannya untuk kenaikan jabatan atau tunjangan kinerja.

 

๐Ÿ“Œ Apa Itu AK Prestasi?

Pertama-tama, perlu kita pahami dulu konsep AK (Angka Kredit) secara umum. Angka kredit adalah nilai numerik yang diberikan setiap dosen berdasarkan kegiatan akademik yang mereka lakukan — seperti mengajar, meneliti, mengabdi masyarakat, dan tugas tambahan lain — sebagai dasar kenaikan jabatan akademik atau tunjangan kinerja.

Dalam Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025, kerangka penilaian angka kredit semakin dipertegas dan dirancang agar mencerminkan kualitas kerja dosen secara lebih holistik, bukan hanya kuantitasnya saja.

Nah, bagian yang jadi ‘pemain baru’ yang sering dibicarakan adalah AK Prestasi — yaitu komponen angka kredit yang diberikan berdasarkan capaian atau prestasi dosen yang berdampak nyata secara ilmiah, profesional, dan sosial.

Kata ‘prestasi’ di sini bukan hanya sekadar memiliki gelar atau menerbitkan artikel. Melainkan hasil kerja yang menunjukkan dampak signifikan terhadap dunia akademik, masyarakat, atau institusi tempat dosen bekerja — baik lokal, nasional, maupun internasional.

 

๐ŸŽฏ Kenapa AK Prestasi Jadi Peluang Besar?

Kalau dulu angka kredit lebih banyak dihitung dari sekadar jumlah kegiatan rutin (mengajar sekian jam, publikasi sekian artikel), regulasi terbaru justru mendorong dosen untuk fokus pada hasil yang berkualitas dan berdampak.

Berikut beberapa alasan kenapa AK Prestasi penting dan berpeluang besar bagi dosen:

๐ŸŽ–️ 1. Menjadi Bukti Kontribusi Nyata

Prestasi bukan sekadar proses — tapi hasil kegiatan yang memiliki dampak bagi kampus, komunitas ilmiah, atau masyarakat luas. Ini menjadi poin tambahan yang memperkuat portofolio akademik dosen saat diajukan untuk kenaikan jabatan atau tunjangan fungsional.

๐Ÿ“ˆ 2. Pengakuan yang Lebih Jelas

Dengan fokus pada prestasi, dosen tidak lagi hanya dihitung berdasarkan aktivitas administratif. Misalnya, publikasi jurnal atau pelaksanaan pengabdian saja — tetapi dampak dari penelitian itu sendiri, seperti sumbangan ke kebijakan publik, adopsi teknologi di masyarakat, atau produktivitas riset yang diakui secara internasional.

๐Ÿ’ฐ 3. Bisa Meningkatkan Tukin atau Penghasilan Kinerja

Berdasarkan aturan terbaru tentang tukin (tunjangan kinerja dosen), sebagian besar insentif dialokasikan berdasarkan capaian kinerja prestasi sampai 40% dari total penilaian. Artinya, prestasi dosen yang terukur bisa langsung berdampak pada jumlah tunjangan kinerja yang diterima.

Ini membuka peluang besar bagi dosen yang bisa menunjukkan bukti prestasi kuat — karena bukan hanya jumlah laporan BKD yang dihitung, tetapi kualitas dan hasil kerjanya.

 

๐Ÿง  Contoh Prestasi yang Dinilai dalam AK Prestasi

Lalu, apa sih yang dihitung dalam kategori prestasi?

Meski detail lengkapnya akan tertuang di Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit (PO PAK) terbaru (misalnya PO PAK turunan dari Permendiktisaintek 52/2025), secara umum prestasi dosen mencakup hal-hal yang menunjukkan keunggulan nyata dalam tridharma perguruan tinggi, seperti:

๐Ÿ“Œ 1. Publikasi Ilmiah Berpengaruh

๐Ÿ‘‰ Artikel di jurnal bereputasi internasional dengan sitasi tinggi
๐Ÿ‘‰ Buku akademik yang dijadikan referensi di tingkat nasional atau internasional

Ini bukan sekadar “melapor sudah publish”, tetapi hasil yang menunjukkan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan dan diakui oleh komunitas ilmiah.

 

๐Ÿ“Œ 2. Hibah Penelitian

Dosen yang berhasil mendapatkan hibah penelitian bergengsi (nasional atau internasional), apalagi sebagai ketua proyek, biasanya dinilai sebagai prestasi yang kuat karena menunjukkan kemampuan kompetitif dalam riset.

 

๐Ÿ“Œ 3. Keterlibatan dalam Kebijakan atau Inovasi Masyarakat

Kinerja dosen di luar publikasi tradisional — seperti kontribusi dalam penyusunan kebijakan publik, adopsi teknologi berbasis riset di masyarakat, program pendampingan desa kolaboratif yang terbukti meningkatkan kualitas hidup — juga bisa jadi komponen prestasi bernilai tinggi untuk BKD/PAK.

 

๐Ÿ“Œ 4. Penghargaan Akademik dan Profesional

Prestasi yang diakui melalui penghargaan atau award di tingkat kampus, nasional, atau internasional juga bisa menjadi bukti nyata kontribusi dosen yang berdampak luas. Misalnya, penghargaan dari lembaga riset besar, asosiasi profesional, atau forum akademik global.

Contohnya, kampus-kampus sering mengumumkan prestasi dosen yang mendapatkan penghargaan dalam ajang pendidikan dan pelatihan. Prestasi seperti ini dapat meningkatkan visibilitas dosen dan kredibilitas akademiknya.

 

๐Ÿ“Š Mengapa Ini Penting Buat Karier Akademik?

Kalau kamu seorang dosen yang serius ingin naik jabatan akademik, mempercepat karier, atau memperkuat pengakuan profesional, memahami dan memanfaatkan AK Prestasi adalah hal strategis.

๐Ÿ‘‰ Ini bukan sekadar soal memenuhi persyaratan angka kredit minimum — tetapi tentang bagaimana nilai tambah performa kerja kamu diakui oleh institusi dan regulator.

Misalnya:
Kamu seorang peneliti yang berhasil memimpin proyek besar dan dipublikasikan di jurnal internasional Q1.
Kamu dosen pengabdian masyarakat yang membawa adopsi teknologi di desa dan diangkat media nasional.
Atau kamu ikut memengaruhi kebijakan pendidikan di level regional atau nasional.

Prestasi seperti itu bukan hanya memperkuat portofolio ilmiah — itu bisa menggeser persepsi penilaian dari sekadar “cukup aktif” menjadi “sangat berdampak”. Hal ini tentu menjadi nilai lebih saat masuk ke BKD, PAK, atau performance evaluation lain yang relevan.

 

๐Ÿ“ Strategi Pintar Memaksimalkan AK Prestasi

Selanjutnya, bagaimana caranya supaya kamu bisa mengoptimalkan pencapaian prestasi di era sistem kredit yang baru ini?

Berikut strategi yang bisa kamu terapkan ๐Ÿ‘‡

๐Ÿงพ 1. Rencanakan Capaian Prestasi Sejak Awal

Jangan tunggu sampai akhir tahun atau saat mau mengajukan kenaikan jabatan. Rencanakan prestasi nyata sebagai bagian dari roadmap profesionalmu — misalnya target publikasi jurnal bereputasi, target hibah riset, target kolaborasi tinggi.

 

๐ŸŒ 2. Gabungkan Penelitian, Publikasi, dan Dampak Sosial

Kegiatan yang berdampak luas biasanya mencakup more than just research. Gabungkan kegiatan penelitian dengan manfaat sosial nyata — misalnya kampanye edukatif berbasis riset, publikasi buku populer yang memiliki begitu banyak citation atau dikutip pendidik lain.

 

๐Ÿ“Š 3. Dokumentasikan Semua Bukti Prestasi

Mulai dari penghargaan, undangan seminar internasional, bukti hibah riset, publikasi sitasi kuat, hingga testimoni mitra masyarakat — semua ini adalah bukti nyata prestasi yang bisa kamu tujukan untuk penilaian BKD/PAK maupun kenaikan jabatan.

 

๐Ÿค 4. Kolaborasi dan Jejaring Akademik

Kolaborasi dengan peneliti internasional atau lembaga riset dapat membuka peluang prestasi yang lebih besar — memberi kamu akses ke jurnal bereputasi, pendanaan kolaboratif, atau jaringan pembicara di forum besar.

 

๐Ÿง  Penutup: Saatnya Menjadi Dosen yang Produktif & Berdampak

AK Prestasi bukan hanya istilah teknis atau angka dalam sistem penilaian — ini adalah pengakuan atas kualitas, dampak, dan kontribusi aktual dari kinerja dosen. Dengan pendekatan ini, dosen tidak hanya “mengisi BKD” semata, tetapi benar-benar terukur sebagai aktor perubahan dalam tridharma perguruan tinggi.

Kalau kamu ingin naik jabatan, memperkuat portofolio karier, atau sekadar menunjukkan bahwa kamu bukan hanya aktif — tetapi berdampak — maka memahami dan memanfaatkan AK Prestasi adalah salah satu strategi paling worth it yang bisa kamu lakukan.

 

๐ŸŽฏ Bonus Tip: Lihat peraturan terbaru seperti Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025 untuk tahu bagaimana unsur angka kredit dan prestasi terukur di sistem baru yang berlaku — ini bisa jadi acuan utama kamu saat menyusun dokumen BKD atau PAK.

 

Karya Seni sebagai Syarat Kenaikan Jabatan: Peluang bagi Dosen Seni

 

๐ŸŒŸ Karya Seni sebagai Syarat Kenaikan Jabatan: Peluang bagi Dosen Seni

Karya Seni sebagai Syarat Kenaikan Jabatan


Halo Sobat Dosen Seni! ๐Ÿ‘จ๐ŸŽจ๐Ÿ‘ฉ๐ŸŽจ
Siapa di antara kamu yang sering merasa bingung soal bagaimana karya seni bisa “berbicara” di dunia akademik formal seperti kenaikan jabatan dosen? Kalau selama ini kamu pikir publikasi ilmiah di jurnal adalah satu-satunya jalan untuk naik jabatan, kamu perlu tahu: karya seni sekarang ikut mendapat pengakuan sebagai salah satu syarat kenaikan jabatan akademik dosen — khususnya bagi dosen yang memang berkecimpung di bidang seni dan kreativitas ๐ŸŽญ๐ŸŽจ.

Di artikel ini, kita akan mengulas secara lengkap, santai, tapi tetap bergizi, tentang bagaimana karya seni diakui, apa saja contohnya, dan bagaimana hal ini menjadi peluang besar bagi dosen seni dalam merancang strategi karier akademik mereka. Yuk kita mulai! ๐Ÿ‘‡

 


๐ŸŽฏ Seni dan Akademik: Dari Dua Dunia Jadi Satu

Selama ini, dunia akademik Indonesia sangat kental dengan budaya publikasi ilmiah: artinya penelitian dituangkan dalam artikel yang dimuat di jurnal nasional atau internasional. Tradisi ini sahih dan penting dalam sebagian besar disiplin ilmu.

Tapi bagi dosen seni — seperti seni rupa, seni pertunjukan, seni media, kriya, desain, atau sastra — banyak karya terbaik tidak bisa “ditulis” sebagai artikel ilmiah biasa. Lalu bagaimana perannya dipandang di dunia akademik? Ini yang sekarang dimulai era barunya: karya seni dipandang bukan hanya sekadar “output kreatif”, tetapi juga “hasil akademik yang bernilai” apabila memenuhi beberapa kriteria tertentu.

 

๐Ÿ“˜ Dasar Aturan Baru: Pengakuan Karya Seni dalam JAD

Dalam revisi Petunjuk Teknis kenaikan jabatan akademik dosen (JAD) yang baru — misalnya di Kepmen Nomor 63/M/KEP/2025hasil karya seni diakui sebagai salah satu syarat khusus untuk kenaikan jabatan akademik selain publikasi ilmiah.

Singkatnya, aturan terbaru mengakui bahwa:

๐Ÿ“Œ Karya seni yang diakui oleh perguruan tinggi, nasional, atau internasional bisa dipakai sebagai salah satu syarat khusus untuk urusan kenaikan jabatan akademik dosen — terutama untuk dosen di bidang seni dan desain.

Artinya, kalau kamu seorang dosen seni yang selama ini fokus berkarya — membuat pameran, pentas, instalasi, publikasi karya visual atau performatif — karyamu bisa dihitung sebagai output akademik setara dengan artikel ilmiah, asalkan karya itu memenuhi kriteria tertentu yang bisa dibuktikan secara administratif dan substansial.

Ini jelas jadi angin segar banget buat kamu yang selama ini berkutat di studio atau panggung — karena selama ini karya seni sering dianggap hanya ekspresi kreatif tanpa bobot formal di dalam portofolio kenaikan jabatan.

 

๐Ÿ›  Apa Saja yang Termasuk “Karya Seni” yang Diakui?

Sebelum kita bicara strategi, penting banget memahami apa saja yang diperhitungkan sebagai karya seni dalam konteks kenaikan jabatan. Berdasarkan petunjuk teknis terbaru tentang kriteria hasil karya seni sebagai syarat kenaikan JAD yang dirilis kementerian pendidikan, karya seni yang bisa diakui meliputi beberapa hal berikut:

๐ŸŽจ 1. Seni Rupa

·         Pameran karya pribadi atau kelompok di forum lokal, nasional, atau internasional.

·         Kriteria ditentukan berdasarkan level pameran: misalnya pameran nasional harus diikuti peserta dari minimal 5 provinsi; pameran internasional diikuti peserta dari beberapa negara.

·         Dokumentasi pameran (foto karya, katalog, undangan resmi, dan bukti apresiasi yang tertulis atau terekam).

๐ŸŽญ 2. Seni Pertunjukan

·         Pertunjukan teater, tari, musik, atau multimedia dengan rekaman resmi dan bukti penilaian atau ulasan dari kurator atau kritikus.

·         Bukti undangan atau keterlibatan dalam festival atau festival internasional yang diakui.

๐ŸŽฅ 3. Kriya dan Media Rekam

·         Karya kriya yang dipamerkan, direkam, atau dibahas secara resmi dalam forum pameran atau publikasi kreatif yang terakui.

·         Dokumentasi yang memadai menandakan bahwa karya itu punya nilai tambah selain estetika, seperti inovasi atau relevansi budaya.

๐Ÿ“— 4. Seni Sastra dan Media

·         Hasil karya sastra (misalnya buku puisi, novel, esai kreatif) yang mendapatkan pengakuan kritis dan/atau nominasi penghargaan.

·         Media rekam yang mendapat pengakuan luas (festival film, publikasi multimedia berpengaruh).

 

๐Ÿ“Œ Kriteria Penting Agar Karya Seni Diakui

Supaya karya seni kamu diakui sebagai syarat khusus JAD, bukan hanya asal karya yang dipajang di Instagram. Ada kriteria penting administratif dan substansial yang perlu dipenuhi:

๐Ÿงพ Bukti Administratif yang Harus Disiapkan

Bukti undangan resmi dari pameran atau festival (surat tertulis)
Foto/video dokumentasi karya
Katalog pameran atau program pertunjukan
Deskripsi karya lengkap dengan gagasan/konsep kreatifnya
Bukti apresiasi atau pemaparan karya oleh pihak ketiga (kritikus, media massa, diskusi ilmiah, review publik)
Surat penilaian atau sertifikat dari kurator/panitia pameran ๐Ÿ“

Dokumen-dokumen ini penting karena tim asesor JAD perlu bukti kuat bahwa karyamu bukan sekadar karya personal, tetapi karya yang punya resonansi luas di komunitas seni dan/atau publik.

 

๐Ÿ’ก Contoh Karya Seni yang Bisa Dipakai untuk JAD

Berikut beberapa contoh nyata jenis karya yang bisa memenuhi syarat (dengan catatan: perlu dokumentasi lengkap):

๐ŸŽจ Pameran tunggal di galeri nasional — misalnya pameran solo di galeri seni besar di ibukota atau kota provinsi, dengan katalog resmi dan liputan media.

๐ŸŽญ Pertunjukan sandiwara atau tari yang terrekam dan direview oleh media seni di festival nasional atau internasional.

๐ŸŽฅ Film pendek atau media video eksperimental yang masuk seleksi festival internasional — bukan sekadar unggahan di kanal pribadi.

๐Ÿ“š Karya sastra yang memenangkan penghargaan dan diterbitkan oleh penerbit besar yang diakui secara nasional atau internasional.

 

๐Ÿ“ˆ Kenapa Ini Jadi Peluang Besar buat Dosen Seni?

Dosen seni selama ini sering berada pada posisi unik: karya mereka punya nilai estetika atau budaya yang tinggi, tetapi secara tradisional penilaian akademik sangat menekankan publikasi ilmiah teori atau riset kuantitatif. Perubahan pengakuan karya seni sebagai bagian dari JAD berarti:

๐ŸŽฏ Kamu tidak lagi harus “dipaksa” menulis artikel ilmiah di jurnal ilmiah ketika justru karya unggulan kamu adalah komposisi musik, pameran seni, atau film karya pribadi.

๐ŸŽจ Karya kreatif kamu sekarang terhitung sebagai hasil akademik yang punya angka kredit, asalkan ada bukti formal yang kuat.

๐Ÿ“š Ini juga memberi peluang mengurangi tekanan dosen seni mengejar publikasi ilmiah teoretis, yang kadang bukan bidang kekuatan utamanya.

 

๐Ÿง  Strategi Cerdas untuk Memaksimalkan Karya Seni dalam JAD

Supaya karya seni kamu benar-benar diakui dan bernilai tinggi untuk kenaikan jabatan, berikut strategi yang bisa kamu terapkan:


๐ŸŒŸ 1. Rencanakan Karya dengan Dokumentasi Lengkap

Saat menciptakan karya seni, pikirkan juga pengakuan formalnya — misalnya:

Siapkan portofolio foto/video
Dapatkan katalog pameran resmi
Sertakan deskripsi gagasan karya yang kuat
Kumpulkan bukti review atau ulasan yang bisa jadi lampiran administratif

 

๐ŸŒ 2. Targetkan Pameran atau Festival yang Diakui

Tidak semua pameran punya bobot yang sama. Usahakan karya kamu:

Diundang dalam pameran dengan peserta dari beberapa provinsi atau negara
Dipublikasikan atau dibahas oleh pihak ketiga (media seni, jurnal seni)
Disertai katalog atau dokumentasi kuratorial yang profesional

 

๐Ÿ“Š 3. Kombinasikan Seni dengan Penulisan Ilmiah bila Perlu

Walaupun karya seni diakui, tetap baik kalau kamu bisa memadukan karya tersebut dengan esai ilmiah singkat yang menjelaskan konteks teoretisnya — ini bisa memperkuat alasan asesor dalam menilai karyamu sebagai output akademik serius.

 

๐ŸŽ‰ Penutup: Seni Itu Akademik Juga

Perubahan ini merupakan moment monumental bagi dosen seni di Indonesia. Selama ini karya seni sering dianggap berada “di luar sistem”, tetapi sekarang — karena regulasi JAD menetapkan karya seni sebagai komponen yang diakui — kamu tidak perlu lagi merasa karya kreatifmu kurang dihargai dalam kerangka akademik formal.

Ini bukan hanya soal memenuhi syarat administratif, tetapi juga tentang pengakuan bahwa seni itu adalah wujud pengetahuan dan kontribusi akademik yang sah. Menjadi dosen seni sekarang berarti kamu bisa membawa jejaring estetika, budaya, dan ekspresi kreatif ke meja penilaian karier akademik kamu sendiri.


Penulis Pertama atau Korespondensi? Ini Dampaknya pada Penilaian JAD

 

Penulis Pertama atau Korespondensi? Ini Dampaknya pada Penilaian JAD

Penulis Pertama atau Korespondensi

Halo teman-teman dosen! ๐Ÿ‘‹
Kalau kamu lagi berjuang buat kenaikan jabatan akademik (JAD) — entah dari Asisten Ahli ke Lektor, Lektor ke Lektor Kepala, atau Lektor Kepala ke Profesor — pasti pernah mendengar istilah penulis pertama dan penulis korespondensi (corresponding author). Dua istilah ini sering banget bikin pusing, terutama saat menyusun publikasi jurnal agar maksimal bernilai angka kredit dalam penilaian PAK.

Nah, artikel ini bakal bantu kamu memahami perbedaan peran kedua jenis penulis itu, cara kerja penilaian angka kreditnya, dan strategi supaya publikasi kamu “menguntungkan” secara administratif.

 

๐Ÿง  Pertama-tama: Siapa Sih Penulis Pertama, Penulis Korespondensi, dan Penulis Utama?

Agar kita punya bahasa yang sama, berikut definisi singkat dari istilah-istilah penting dalam publikasi jurnal yang diakui dalam Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Akademik Dosen:

๐Ÿ“Œ Penulis Pertama
Orang yang namanya tertera pertama dalam daftar penulis artikel. Biasanya dianggap sebagai kontributor utama dalam riset dan penulisan.

๐Ÿ“Œ Penulis Pendamping
Nama-nama penulis berikutnya setelah penulis pertama dalam naskah jurnal.

๐Ÿ“Œ Penulis Korespondensi
Orang yang bertanggung jawab terhadap korespondensi dengan jurnal (submission, komunikasi revisi, strategi publikasi, dan publikasi akhir).

๐Ÿ“Œ Penulis Utama
Istilah teknis dalam penilaian angka kredit yang mencakup penulis pertama atau penulis korespondensi. Jadi kalau kamu berperan sebagai salah satu dari dua peran ini, kamu disebut penulis utama.

Artinya: tidak semua penulis punya “kekuatan” angka kredit yang sama dalam penilaian JAD. Itu sebabnya penting banget tahu mana peran yang benar-benar bernilai tinggi saat dinilai oleh asesor PAK.

๐Ÿ“Š Mengapa Posisi Penulis Itu Penting dalam Penilaian Angka Kredit?

Sistem penilaian dalam JAD bukan hanya soal “ada publikasi atau tidak”. Dalam Pedoman Operasional PAK, kunci nilai angka kredit dari publikasi ilmiah dihitung berdasarkan peran penulisnya — bukan semata jumlah penulis.

๐Ÿ‘‰ Jadi publikasi artikel yang kamu tulis bisa saja punya angka kredit besar kalau:
• Kamu jadi penulis pertama, atau
• Kamu menjadi penulis korespondensi, atau
• Kamu berperan sebagai penulis utama (yakni salah satu dari dua peran tadi).

Tetapi peran kamu dalam daftar penulis akan sangat memengaruhi berapa persentase angka kredit yang bisa kamu klaim.

๐Ÿ“Œ Cara Penilaian Angka Kredit Berdasarkan Peran Penulis

Menurut Pedoman Operasional PAK (yang juga dipakai dalam penilaian JAD), skema pembagian kredit untuk publikasi jurnal adalah sebagai berikut:

๐Ÿ“Œ 1. Kamu adalah Penulis Pertama sekaligus Penulis Korespondensi

➡️ Kamu berhak atas 60% dari total angka kredit karya ilmiah itu.

๐Ÿง  Ini seringkali merupakan posisi paling menguntungkan, karena kamu mengambil dua peran utama sekaligus — sebagai kontributor inti sekaligus orang yang bertanggung jawab melayani semua komunikasi dengan jurnal.

๐Ÿ“Œ 2. Kamu adalah Penulis Koordinasi tetapi Bukan Penulis Pertama

➡️ Dalam hal ini penulis pertama dan penulis korespondensi masing-masing berhak 40% dari total angka kredit.
➡️ Sisanya (20%) dibagi kepada penulis pendamping lainnya.

๐Ÿ‘‰ Jadi kalau kamu berada di posisi korespondensi tapi bukan penulis pertama, angka kreditmu tetap besar — namun tidak sebesar yang mendapatkan peran ganda sebagai penulis pertama + korespondensi.

๐Ÿ“Œ 3. Hanya Ada Dua Penulis dalam Artikel — Penulis Pertama dan Penulis Korespondensi

➡️ Kedua penulis masing-masing berhak 50% dari angka kredit publikasi.

Situasi ini sering terjadi ketika artikel ditulis hanya oleh dua orang, di mana satu jadi penulis pertama dan satu lagi penulis korespondensi.

๐Ÿ“Œ 4. Kamu “Cuma” Penulis Pendamping

➡️ Angka kredit kamu lebih kecil karena mayoritas nilai dibagi kepada penulis pertama dan/atau korespondensi.

๐Ÿ‘‰ Jadi perhatikan: posisi di daftar penulis itu bukan sekadar etiket — itu berpengaruh langsung pada angka kredit yang kamu dapatkan untuk JAD.

๐Ÿง  Apa Makna dari Penilaian Ini Secara Praktis?

Kalau kamu baru mulai ngejar publikasi untuk memenuhi syarat kenaikan jabatan, ini beberapa hal yang perlu kamu tahu:

๐Ÿงฉ 1. Jangan Anggap Sama Semua Nama Penulis

Dalam banyak budaya jurnal internasional atau nasional, sering dianggap:

·         Penulis pertama adalah yang paling banyak kontribusinya

·         Penulis korespondensi adalah yang mengatur proses publikasi

Tapi dalam JAD di Indonesia, kedua posisi ini dinilai sebagai “penulis utama”— dan angka kreditnya dibedakan berdasarkan apakah kamu melakukan kedua peran itu atau hanya satu dari keduanya.

๐Ÿงฉ 2. Penulis Pertama Tidak Otomatis Memberi Kamu Kredit Maksimal Selalu

Banyak orang berpendapat “kalau aku penulis pertama, kredit pasti maksimal”. Itu tidak sepenuhnya benar:
Kalau kamu jadi penulis pertama dan juga korespondensi, kamu dapat bagian terbesar.
Kalau kamu penulis pertama tapi bukan korespondensi, maka kamu dan korespondensi saling berbagi (masing-masing 40%).

Artinya: strategi penetapan siapa yang jadi korespondensi juga memengaruhi angka kredit yang kamu klaim.

๐Ÿงฉ 3. Dokumen Pendukung Penting!

Kalau kamu mengklaim sebagai penulis korespondensi, bukti yang kamu lampirkan harus kuat. Ini termasuk:
Bukti submission artikel (mis. konfirmasi ke jurnal)
Acceptance letter
Bukti proses review yang menunjukkan artikel layak dipublikasikan

๐Ÿ”Ž Surat pernyataan dari redaksi jurnal saja tidak cukup untuk menjadikan kamu sebagai penulis korespondensi.

๐Ÿ“ Kontroversi Akademik: “Apakah First Author & Corresponding Sama Nilainya?”

Dalam literatur internasional juga sering dibahas bagaimana posisi penulis memengaruhi evaluasi karier akademik secara global.

Beberapa riset menunjukkan bahwa penulis yang berada dalam posisi pertama atau penulis utama cenderung dipandang lebih menonjol dalam evaluasi karier, karena diasosiasikan dengan kontribusi inti terhadap penelitian.

Namun konteksnya bisa berbeda antara disiplin ilmu dan budaya penulisan:

Di beberapa disiplin, peran corresponding author (meski bukan pertama) dipandang sebagai kepemimpinan proyek.
Di bidang lain, first author lebih dipandang sebagai yang paling banyak bekerja dalam riset.

Tapi dalam konteks penilaian angka kredit JAD di Indonesia, instrumennya jelas: penulis utama (first author atau corresponding) yang diakui, dengan ketentuan pembagian grafik seperti yang telah dijelaskan.

๐Ÿง  Strategi Pintar Supaya Publikasi Kamu “Bernilai” Maksimal

Berikut strategi yang bisa kamu terapkan ketika merencanakan publikasi untuk kenaikan jabatan:

๐ŸŽฏ 1. Diskusikan Peran Penulis dari Awal

Sebelum menulis, diskusikan siapa yang akan menjadi first author dan corresponding author. Ini penting karena:
Penulis pertama biasanya yang paling banyak bekerja di artikel
Penulis korespondensi bukan selalu orang yang paling banyak tulis — tetapi bertanggung jawab secara administratif terhadap publikasi

Dengan rencana terang sejak awal, kamu bisa mengatur siapa yang akan mendapatkan angka kredit terbanyak berdasarkan kontribusi nyata.

๐Ÿ“‹ 2. Mainkan Peran yang Meningkatkan Nilai Kamu

Kalau kamu ingin mengoptimalkan angka kredit untuk JAD:
Jadi penulis pertama dan korespondensi kalau memungkinkan
Atau setidaknya jadi salah satu dari dua peran utama itu dalam beberapa publikasi

Karena penulis pertama sekaligus korespondensi mendapatkan bagian terbesar dari angka kredit (60%).

๐Ÿ—‚ 3. Dokumentasikan Segala Bukti Proses

Kalau kamu mengklaim sebagai korespondensi, ingat:
๐Ÿ“Œ Surat pernyataan dari jurnal saja tidak cukup
๐Ÿ“Œ Kamu harus punya bukti korespondensi dan proses submission yang jelas.

๐Ÿง  Penutup: Pilih Peranmu dengan Bijak!

Dalam dunia akademik, publikasi bukan hanya soal ibadah ilmiah, tetapi juga strategi karier — terutama saat kamu mengejar kenaikan jabatan. Mengetahui perbedaan antara penulis utama (first author & corresponding) dan penulis pendamping bukanlah sekadar kursus etik penulisan, tetapi juga perhitungan angka kredit yang real dalam proses penilaian JAD.

๐Ÿค“ Jadi kalau kamu sedang menyusun artikel dan mulai memikirkan siapa yang akan jadi penulis pertama atau korespondensi — pikirkan juga:
“Siapa dari kita yang ingin mendapatkan angka kredit maksimal untuk memenuhi syarat kenaikan?”

Karena dalam skema JAD Indonesia, itu bukan sekadar soal urutan nama — tetapi tentang berapa kredit yang bisa kamu klaim demi karier akademikmu.

 

Standar Jurnal Nasional dan Internasional untuk Kenaikan Jabatan Dosen

 

Standar Jurnal Nasional dan Internasional untuk Kenaikan Jabatan Dosen

Halo, Sobat Akademik! ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿซ๐Ÿ‘จ๐Ÿซ
Kalau kamu seorang dosen yang sedang mengejar kenaikan jabatan fungsional — entah dari Asisten Ahli ke Lektor, Lektor ke Lektor Kepala, atau bahkan Lektor Kepala ke Profesor — salah satu komponen yang paling menentukan adalah publikasi ilmiah di jurnal nasional atau internasional. Tapi seperti apa sih standar jurnal itu? Apa bedanya jurnal nasional dengan internasional? Dan jurnal seperti apa yang benar-benar “diakui” untuk kenaikan jabatan dosen? Yuk kita bahas lengkap, dari definisi sampai kiat memilih tempat publikasi yang tepat! ๐Ÿ“š✨

Standar Jurnal Nasional 

 

๐Ÿ“Œ Kenapa Publikasi Jurnal Itu Penting untuk Dosen?

Dalam sistem kenaikan jabatan fungsional dosen di Indonesia, angka kredit (AK) dari publikasi karya ilmiah menjadi salah satu komponen penting dalam memenuhi syarat administratif dan substansial. Publikasi bukan sekadar “tambah nilai”, tapi sering diatur secara spesifik dalam pedoman penilaian angka kredit. Artinya: kalau kamu salah pilih jurnal, bisa saja angkanya kecil atau bahkan tidak diakui untuk kenaikan jabatan.

Itu sebabnya kamu perlu paham standar jurnal yang diakui — baik nasional, nasional terakreditasi, maupun internasional atau internasional bereputasi — agar publikasi kamu benar-benar “berharga” dalam proses administratif dan penilaian angka kredit. ๐Ÿ˜Ž

 

๐Ÿง  1. Jurnal Nasional — Apa Itu dan Standarnya?

๐Ÿ“Œ Definisi Singkat

Jurnal nasional adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan di dalam negeri. Tidak semua jurnal nasional otomatis diterima untuk kenaikan jabatan — berasal dari pedoman penilaian angka kredit dosen, yang membedakan lagi antara “nasional biasa” dan “nasional terakreditasi”.

Menurut pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), syarat minimal jurnal nasional mencakup:
Ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika akademik
Memiliki ISSN
Mempunyai versi online
Diterbitkan oleh badan ilmiah atau institusi akademik
Memuat artikel dari penulis yang berasal dari minimal dua institusi berbeda
Dewan redaksi terdiri dari para ahli yang kredibel
Bahasa yang digunakan bisa Indonesia atau Inggris (dengan abstrak terjemahan sesuai kebutuhan)

Sederhananya, jurnalnya harus bener-bener merupakan wadah ilmiah, bukan sekadar buletin kampus atau kumpulan artikel tanpa standar peer review yang jelas.

 

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional Terakreditasi

Nah, ini yang paling sering jadi favorit dalam proses kenaikan jabatan: jurnal nasional terakreditasi, biasanya berdasarkan SINTA (Science and Technology Index).
Jurnal yang sudah terakreditasi SINTA 1 atau 2 biasanya diakui memberikan nilai angka kredit yang lebih tinggi dibanding jurnal yang masih SINTA 3–6 atau jurnal nasional biasa.

๐Ÿ“ Contohnya:

·         Jurnal terakreditasi SINTA 1 atau 2 — nilai angka kredit tertinggi.

·         Jurnal terakreditasi SINTA 3–6 — masih diakui, tapi poinnya lebih kecil.

·         Jurnal nasional tanpa akreditasi — tetap bisa dihitung, tapi bobotnya sering lebih rendah atau kadang tidak cukup memenuhi syarat publikasi wajib.

๐Ÿ‘‰ Karena itulah banyak dosen “ngejar” publikasi di jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 atau 2 — supaya angka kreditnya lebih tinggi dan lebih efektif untuk kenaikan jabatan.

 

๐ŸŒ 2. Jurnal Internasional — Standar yang Lebih Global

Kalau jurnal nasional berbasis di dalam negeri, jurnal internasional punya cakupan yang jauh lebih luas dan biasanya menjadi nilai tambah besar dalam kenaikan jabatan, khususnya dari Lektor ke Lektor Kepala atau Lektor Kepala ke Profesor.

๐Ÿ“Œ Apa Syarat Jurnal Internasional?

Menurut pedoman Penilaian Angka Kredit (PAK), artikel yang diterbitkan di jurnal internasional harus:

Ditulis mengikuti kaidah ilmiah dan etika akademik
Memiliki ISSN
Ditulis menggunakan bahasa resmi PBB (misalnya Inggris, Perancis, Spanyol, dll.)
Dipublikasikan secara online
Editor Editorial Board-nya mencerminkan pakar dari berbagai negara
Artikel dari jurnal itu terindeks dalam basis data yang kredibel (misalnya Scopus, WoS, atau basis data lainnya yang diakui)
Tidak termasuk dalam daftar jurnal yang diragukan kredibilitasnya oleh Ditjen Dikti atau lembaga terkait

Ini artinya: jurnal internasional harus bersifat peer-review, terhubung dengan komunitas ilmiah global, dan bukan “jurnal hitam” yang terbitkan artikel secara massal tanpa review yang ketat.

 

๐ŸŒ Jurnal Internasional Bereputasi — Levelnya Lebih Tinggi

Kalau jurnal internasional biasa sudah bagus, jurnal internasional bereputasi adalah standar tertinggi yang diincar banyak dosen yang mengejar jabatan fungsional tinggi (misalnya Lektor Kepala atau Profesor).

๐Ÿ”น Ciri jurnal internasional bereputasi:

·         Terindeks di basis data bereputasi tinggi seperti Scopus atau Web of Science (WoS).

·         Memiliki metric atau impact indicator yang jelas (misalnya SJR atau impact factor).

·         Editor board dan publikasi akademik yang diakui secara global.

๐ŸŽฏ Biasanya, publikasi di jurnal internasional bereputasi diberi angka kredit lebih tinggi dibanding non-bereputasi, dan juga jadi syarat wajib untuk kenaikan ke jenjang atas seperti Profesor/Guru Besar.

 

๐Ÿ“Š Standar Mana yang “Lebih Berarti” untuk Kenaikan Jabatan?

Jika kita lihat konteks sistem penilaian angka kredit dan kenaikan jabatan akademik dosen di Indonesia, standar publikasi jurnal ini bisa dibagi dalam beberapa tingkatan nilai:

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional Terakreditasi (SINTA 1/2)
→ Memberikan angka kredit besar yang mendukung kenaikan jabatan.

๐Ÿ“Œ Jurnal Internasional (terindeks resmi dengan ISSN dan standar ilmiah)
→ Diperhitungkan dan biasanya punya bobot lebih tinggi daripada jurnal nasional biasa.

๐Ÿ“Œ Jurnal Internasional Bereputasi (Scopus/WoS)
→ Dikenal memiliki bobot angka kredit terbesar — dan cenderung jadi “gold standard” dalam pengajuan jabatan tinggi seperti Profesor.

๐Ÿ“Œ Jurnal Nasional atau Internasional yang tidak memenuhi syarat peer review/indeks resmi
→ Nilai angka kreditnya lebih rendah atau bahkan tidak memenuhi syarat publikasi wajib.

 

๐Ÿ“Œ Contoh Penerapan: Apa yang Perlu Kamu Siapkan?

Kalau kamu sedang mempersiapkan publikasi untuk kenaikan jabatan, pertimbangkan poin-poin ini supaya tidak salah pilih jurnal:

๐Ÿงช 1. Pastikan jurnal punya ISSN

Ini sangat penting — tanpa ISSN, artikelmu bisa jadi tidak diakui dalam penilaian angka kredit.

️ 2. Cek apakah terakreditasi SINTA (untuk jurnal nasional)

Gunakan label SINTA untuk pilih jurnal nasional supaya angka kreditnya lebih tinggi.

๐ŸŒ 3. Prioritaskan jurnal internasional bereputasi (Scopus/WoS)

Kalau kamu mengejar jabatan tinggi, publikasi di jurnal internasional bereputasi biasanya lebih efektif dan diakui lebih luas.

๐Ÿ“ 4. Pahami peran penulis utama (first author)

Dalam banyak pedoman, penulis pertama atau penulis korespondensi sering mendapatkan sebagian besar angka kredit dari publikasi.

 

๐Ÿ“Œ Penutup: Pilih Jurnal dengan “Mata yang Tajam”

Jurnal nasional dan internasional bukan sekadar tempat kamu mencetak karya — dalam konteks kenaikan jabatan dosen, publikasi itu menjadi mata uang akademik ๐Ÿ‘ฉ๐Ÿ”ฌ๐Ÿ’ฐ yang harus dipilih dengan cermat. Pahami standar, kenali cirinya, dan pilih jurnal yang benar-benar punya nilai tambah tinggi — bukan hanya asal terbit. Dengan cara itu, proses kenaikan jabatan kamu akan jadi lebih lancar dan berbasis bukti ilmiah yang kuat.