Dosen Suka Mengubah Jadwal Kuliah Seenaknya: Masalah Kecil atau Pelanggaran Etika Akademik?

 


Ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul di kalangan mahasiswa: “Kuliah hari ini jadi atau tidak, Pak/Bu?”

Pertanyaan sederhana tersebut sebenarnya menyimpan persoalan yang lebih besar. Ketika jadwal perkuliahan berubah sekali karena alasan tertentu, mungkin tidak ada yang mempermasalahkan. Namun, bagaimana jika perubahan jadwal terjadi berulang kali, sering dilakukan secara mendadak, bahkan tanpa komunikasi yang jelas dengan mahasiswa?

Di satu sisi, dosen adalah manusia yang memiliki banyak tanggung jawab. Selain mengajar, dosen juga memiliki kewajiban melaksanakan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, menghadiri rapat, menjalankan tugas struktural, mengikuti kegiatan akademik, dan berbagai aktivitas institusional lainnya. Karena itu, perubahan jadwal dalam kondisi tertentu tentu dapat dipahami.

Namun, di sisi lain, mahasiswa juga memiliki kehidupan, jadwal, pekerjaan, keluarga, kegiatan organisasi, mata kuliah lain, serta berbagai tanggung jawab yang harus mereka atur. Ketika jadwal kuliah diubah secara sepihak dan berulang kali tanpa mempertimbangkan kondisi mahasiswa, persoalannya tidak lagi sekadar soal teknis perkuliahan.

Pertanyaannya kemudian menjadi lebih serius: apakah kebiasaan mengubah jadwal kuliah seenaknya merupakan masalah kecil, atau sudah menyentuh wilayah etika akademik?

Jadwal Kuliah Bukan Sekadar Angka di Kalender

Jadwal kuliah sering kali dianggap sebagai persoalan administratif. Nama dosen, nama mata kuliah, hari, jam, dan ruang dicantumkan dalam sistem akademik, kemudian mahasiswa mengikutinya.

Padahal, jadwal kuliah memiliki fungsi yang jauh lebih penting. Jadwal merupakan bentuk komitmen akademik antara perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa.

Ketika mahasiswa menerima jadwal perkuliahan, mereka akan menyusun aktivitas berdasarkan jadwal tersebut. Mereka mungkin harus melakukan perjalanan dari rumah atau kos menuju kampus. Sebagian mahasiswa harus menyesuaikan jadwal kerja. Ada pula yang memiliki tanggung jawab keluarga atau kegiatan akademik lainnya.

Karena itu, ketika dosen mengubah jadwal secara tiba-tiba, dampaknya bukan hanya perubahan satu angka pada kalender. Perubahan tersebut dapat memengaruhi berbagai aktivitas mahasiswa.

Bayangkan seorang mahasiswa sudah datang ke kampus pada pukul 08.00 karena jadwal kuliah. Setelah tiba, ia mendapatkan informasi bahwa kuliah dipindahkan ke sore hari. Mahasiswa tersebut mungkin harus menunggu berjam-jam, pulang kembali, atau bahkan meninggalkan kegiatan lain yang sudah direncanakan.

Jika hal seperti itu hanya terjadi sekali karena keadaan darurat, tentu dapat dimaklumi. Tetapi jika menjadi kebiasaan, maka ada persoalan mengenai penghargaan terhadap waktu mahasiswa.

Dosen Memang Bisa Mengubah Jadwal, tetapi Tidak Berarti Sesuka Hati

Penting untuk membedakan antara perubahan jadwal yang wajar dan perubahan jadwal yang tidak profesional.

Dosen dapat mengalami berbagai situasi yang menyebabkan jadwal kuliah harus berubah. Misalnya, dosen mendapatkan tugas mendadak dari institusi, harus menghadiri kegiatan akademik, mengalami kondisi kesehatan tertentu, menjalankan tugas luar kampus, atau menghadapi keadaan darurat.

Dalam situasi seperti itu, perubahan jadwal bukanlah sesuatu yang harus dianggap sebagai kesalahan.

Persoalannya terletak pada cara perubahan tersebut dilakukan.

Perubahan jadwal yang profesional biasanya disertai dengan pemberitahuan, alasan yang jelas, komunikasi dengan mahasiswa, serta upaya mencari waktu pengganti yang memungkinkan bagi kedua belah pihak.

Sebaliknya, perubahan jadwal menjadi problematis ketika dosen menganggap mahasiswa harus selalu siap mengikuti perubahan apa pun tanpa perlu diajak berkomunikasi.

Di sinilah kita perlu memahami satu prinsip sederhana:

Fleksibilitas tidak sama dengan kesewenang-wenangan.

Fleksibilitas berarti mampu menyesuaikan diri terhadap keadaan. Kesewenang-wenangan berarti mengambil keputusan sepihak tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pihak lain.

Ketika “Saya Sibuk” Menjadi Alasan yang Terlalu Mudah

Dosen memang memiliki kesibukan. Bahkan, semakin tinggi tanggung jawab akademik dan struktural seorang dosen, semakin banyak pula agenda yang harus dijalankan.

Namun, kesibukan dosen tidak otomatis membuat waktu mahasiswa menjadi tidak penting.

Kalimat seperti “Saya ada rapat”, “Saya ada kegiatan”, atau “Saya ada urusan kampus” mungkin merupakan alasan yang sah untuk melakukan perubahan jadwal. Tetapi jika agenda tersebut sudah dapat diketahui sebelumnya, seharusnya perencanaan perkuliahan juga dapat dilakukan dengan lebih baik.

Profesionalisme bukan berarti seorang dosen tidak pernah mengubah jadwal. Profesionalisme justru terlihat dari bagaimana seorang dosen mengelola perubahan ketika perubahan tersebut memang diperlukan.

Seorang dosen yang profesional akan berusaha memberi tahu mahasiswa lebih awal. Ia akan mempertimbangkan waktu yang memungkinkan. Ia akan berdiskusi jika diperlukan. Dan yang tidak kalah penting, ia akan memastikan bahwa perubahan tersebut tidak mengurangi hak mahasiswa untuk memperoleh proses pembelajaran yang semestinya.

Mahasiswa Bukan Sekadar “Peserta yang Harus Mengikuti”

Ada persoalan lain yang terkadang luput dibicarakan: posisi mahasiswa dalam relasi akademik.

Dalam budaya akademik yang sehat, mahasiswa bukan sekadar pihak yang harus menerima semua keputusan dosen tanpa ruang komunikasi. Mahasiswa memang memiliki kewajiban mengikuti perkuliahan, tetapi mereka juga merupakan bagian dari komunitas akademik yang memiliki hak untuk mendapatkan proses pembelajaran yang terencana dan profesional.

Ketika jadwal kuliah berubah secara sepihak, mahasiswa seharusnya tidak langsung dianggap sebagai pihak yang “tidak mau mengerti dosen”.

Sebaliknya, dosen juga perlu memahami kondisi mahasiswa.

Seorang mahasiswa mungkin harus bekerja setelah kuliah. Mahasiswa lain mungkin memiliki mata kuliah lain pada waktu tertentu. Ada mahasiswa yang tinggal jauh dari kampus. Ada pula mahasiswa yang membutuhkan transportasi umum dan tidak dapat berpindah waktu dengan mudah.

Karena itu, komunikasi menjadi sangat penting.

Kalimat sederhana seperti, “Apakah teman-teman memungkinkan jika perkuliahan kita pindahkan ke hari Jumat pukul 14.00?” menunjukkan adanya penghargaan terhadap mahasiswa.

Sebaliknya, kalimat “Besok kuliah dipindahkan ke jam sekian. Pokoknya harus hadir” menunjukkan pola komunikasi yang jauh lebih problematis.

Apakah Ini Termasuk Pelanggaran Etika Akademik?

Jawabannya perlu diberikan secara hati-hati.

Tidak setiap perubahan jadwal merupakan pelanggaran etika akademik. Bahkan, tidak tepat jika setiap dosen yang pernah mengubah jadwal langsung diberi label tidak profesional.

Namun, kebiasaan mengubah jadwal secara sepihak, berulang kali, mendadak, tanpa alasan yang memadai, dan tanpa mempertimbangkan kepentingan mahasiswa dapat menjadi persoalan etika profesional.

Etika akademik tidak hanya berbicara tentang plagiarisme, manipulasi nilai, atau pelanggaran integritas penelitian. Etika juga berkaitan dengan bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab akademiknya sehari-hari.

Menghargai waktu, memenuhi komitmen, berkomunikasi dengan baik, dan memperlakukan mahasiswa secara adil merupakan bagian dari budaya akademik yang sehat.

Dengan demikian, persoalan jadwal kuliah mungkin terlihat kecil jika dilihat dari satu kejadian. Tetapi jika perilaku tersebut dilakukan terus-menerus, dampaknya dapat menjadi besar.

Lima Etika yang Perlu Diperhatikan Dosen Ketika Mengubah Jadwal

Ada beberapa prinsip sederhana yang dapat diterapkan.

1. Pastikan Ada Alasan yang Jelas

Perubahan jadwal sebaiknya dilakukan karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan semata-mata karena dosen merasa waktu tersebut lebih nyaman bagi dirinya.

2. Berikan Informasi Sedini Mungkin

Semakin cepat mahasiswa menerima informasi, semakin mudah mereka melakukan penyesuaian.

Pemberitahuan beberapa hari sebelumnya tentu lebih baik daripada pemberitahuan beberapa menit sebelum perkuliahan dimulai.

3. Komunikasikan dengan Mahasiswa

Perubahan jadwal sebaiknya tidak selalu diputuskan secara sepihak. Jika memungkinkan, dosen dapat melakukan komunikasi melalui grup kelas atau media akademik resmi.

Komunikasi bukan berarti dosen kehilangan otoritas. Justru komunikasi menunjukkan kematangan dalam menjalankan otoritas akademik.

4. Tentukan Jadwal Pengganti Secara Realistis

Jika perkuliahan harus dibatalkan atau dipindahkan, pastikan ada solusi pengganti yang tidak menimbulkan masalah baru.

Jangan sampai satu perubahan jadwal menyebabkan mahasiswa harus meninggalkan mata kuliah lain.

5. Konsisten dengan Komitmen

Jika dosen telah menyepakati jadwal tertentu dengan mahasiswa, usahakan untuk mematuhinya.

Komitmen sederhana semacam ini sebenarnya merupakan bagian dari pendidikan karakter. Mahasiswa tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan di dalam kelas. Mereka juga belajar dari perilaku dosennya.

Dosen Sebenarnya Sedang Mengajarkan Sesuatu di Luar Materi Kuliah

Ada satu hal yang sering terlupakan.

Dosen adalah teladan.

Mahasiswa belajar bukan hanya dari slide presentasi, buku, jurnal, atau penjelasan di depan kelas. Mereka juga belajar dari bagaimana dosen bersikap.

Ketika dosen datang tepat waktu, mahasiswa belajar tentang disiplin.

Ketika dosen memenuhi janji, mahasiswa belajar tentang tanggung jawab.

Ketika dosen menerima kritik dengan terbuka, mahasiswa belajar tentang kedewasaan akademik.

Dan ketika dosen menghargai waktu mahasiswa, mahasiswa belajar bahwa waktu orang lain juga harus dihormati.

Sebaliknya, jika dosen sering terlambat, membatalkan kuliah tanpa pemberitahuan, atau mengubah jadwal seenaknya, mahasiswa juga sedang mendapatkan sebuah “pelajaran” meskipun tidak tertulis dalam RPS.

Pelajaran itu bisa berupa kesan bahwa aturan akademik hanya berlaku bagi mahasiswa.

Tentu saja, kesan seperti ini tidak baik bagi pembangunan budaya akademik.

Mahasiswa Juga Harus Berkomunikasi Secara Dewasa

Kritik terhadap dosen tidak berarti mahasiswa bebas bersikap kasar.

Jika perubahan jadwal sudah terlalu sering terjadi, mahasiswa dapat menyampaikan keberatan dengan cara yang santun.

Misalnya:

“Pak/Bu, kami memahami bahwa ada kesibukan yang menyebabkan jadwal perlu berubah. Namun, beberapa mahasiswa juga memiliki jadwal kerja dan mata kuliah lain. Apakah untuk pertemuan berikutnya kita dapat menyepakati jadwal yang lebih tetap?”

Cara seperti ini jauh lebih konstruktif daripada menyebarkan keluhan di media sosial atau menyerang dosen secara personal.

Jika persoalan terus berulang dan mengganggu proses pembelajaran, mahasiswa dapat menggunakan mekanisme akademik yang tersedia di program studi atau fakultas.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan persoalan jadwal sebagai konflik pribadi.

Kampus Juga Memiliki Peran

Persoalan perubahan jadwal tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada dosen.

Perguruan tinggi perlu memiliki sistem yang jelas mengenai perubahan jadwal perkuliahan. Misalnya, bagaimana prosedur pembatalan kuliah, siapa yang harus diberi tahu, bagaimana penjadwalan kuliah pengganti, serta bagaimana dokumentasi perubahan tersebut dilakukan.

Sistem akademik yang baik seharusnya membantu dosen dan mahasiswa, bukan sekadar mencatat jadwal.

Jika kampus memiliki prosedur yang jelas, maka dosen tidak perlu mengambil keputusan secara sepihak dan mahasiswa memiliki mekanisme yang jelas ketika terjadi perubahan.

Dengan demikian, persoalan ini sebenarnya bukan hanya masalah individu, tetapi juga bagian dari tata kelola akademik.

Masalah Kecil yang Bisa Menjadi Masalah Besar

Mungkin ada yang berpikir bahwa perubahan jadwal kuliah hanyalah persoalan sepele.

Memang, jika hanya terjadi satu atau dua kali karena alasan yang jelas, persoalan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan.

Tetapi dalam kehidupan akademik, masalah kecil yang dilakukan terus-menerus dapat membentuk budaya.

Dosen yang selalu mengubah jadwal tanpa komunikasi dapat membentuk budaya ketidakpastian.

Mahasiswa yang terbiasa menerima perubahan tanpa protes dapat membentuk budaya pasif.

Institusi yang membiarkan semuanya tanpa aturan dapat membentuk budaya administrasi yang tidak tertib.

Pada akhirnya, persoalannya bukan lagi tentang satu jadwal kuliah.

Persoalannya adalah tentang budaya profesionalisme dalam pendidikan tinggi.

Penutup: Menghargai Waktu adalah Menghargai Manusia

Dosen memiliki hak untuk menyesuaikan jadwal ketika keadaan memang mengharuskannya. Mahasiswa pun seharusnya memiliki pemahaman dan toleransi terhadap kondisi tersebut.

Namun, toleransi harus berjalan bersama dengan tanggung jawab.

Mengubah jadwal kuliah sesekali karena alasan yang dapat dipertanggungjawabkan adalah hal yang wajar. Mengubah jadwal secara mendadak dan berulang kali tanpa komunikasi adalah persoalan yang berbeda.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan “Apakah dosen boleh mengubah jadwal kuliah?”

Jawabannya jelas: boleh, jika memang diperlukan dan dilakukan secara profesional.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apakah perubahan tersebut dilakukan dengan menghargai waktu dan hak mahasiswa?”

Di situlah etika akademik mulai berbicara.

Sebab pendidikan tinggi bukan hanya tempat mahasiswa belajar teori dan memperoleh gelar. Perguruan tinggi juga merupakan ruang untuk membangun budaya disiplin, tanggung jawab, komunikasi, dan saling menghargai.

Dan semuanya dapat dimulai dari hal yang sangat sederhana: menepati jadwal yang telah disepakati.

Pada akhirnya, dosen tidak harus selalu sempurna. Dosen juga dapat mengalami perubahan agenda dan keadaan yang tidak terduga. Tetapi seorang dosen profesional selalu berusaha memastikan bahwa ketika ia mengubah komitmen, ia tidak menganggap waktu orang lain sebagai sesuatu yang tidak berharga.

Sebab, menghargai waktu mahasiswa bukan sekadar persoalan ketepatan waktu. Ia adalah bentuk penghargaan terhadap mahasiswa sebagai manusia, sebagai pembelajar, dan sebagai bagian dari komunitas akademik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

Dosen Suka Mengubah Jadwal Kuliah Seenaknya: Masalah Kecil atau Pelanggaran Etika Akademik?

  Ada satu pertanyaan yang cukup sering muncul di kalangan mahasiswa: “Kuliah hari ini jadi atau tidak, Pak/Bu?” Pertanyaan sederhana terseb...