Bagi banyak dosen, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sering kali identik dengan tumpukan dokumen administratif. Dibuat di awal semester, disimpan rapi di folder, diunggah ke sistem akademik, lalu… jarang sekali dibuka lagi. Padahal, sejatinya RPS adalah jantung pembelajaran. Dari sanalah arah, tujuan, metode, hingga penilaian ditentukan.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing |
Di era Kurikulum Merdeka Belajar, RPS tidak bisa lagi diperlakukan sebagai
formalitas. RPS dituntut untuk relevan
dengan kebutuhan mahasiswa dan kontekstual
dengan realitas dunia nyata. Artikel ini akan membahas bagaimana cara mendesain
RPS yang tidak hanya “sesuai format”, tetapi juga benar-benar hidup dan
bermakna, dengan gaya santai dan contoh ilustrasi yang dekat dengan praktik
dosen sehari-hari.
Apa Maksudnya RPS yang
Relevan dan Kontekstual?
Sebelum masuk ke teknis, kita perlu sepakat dulu soal istilah.
RPS relevan berarti:
·
Selaras dengan capaian
pembelajaran lulusan (CPL) dan profil lulusan
·
Sesuai dengan kebutuhan
mahasiswa
·
Nyambung dengan tuntutan
dunia kerja dan masyarakat
Sementara RPS kontekstual berarti:
·
Materi dan aktivitas
belajar dekat dengan realitas
·
Contoh, tugas, dan proyek
tidak lepas dari situasi nyata
·
Pembelajaran tidak terasa
“mengawang-awang”
Ilustrasi sederhana:
Mengajarkan teori komunikasi tentu penting. Tapi akan jauh lebih kontekstual
jika mahasiswa diminta menganalisis konflik komunikasi yang benar-benar terjadi
di lingkungan sekitar mereka, bukan hanya contoh di buku teks.
1. Mulai dari Capaian
Pembelajaran, Bukan dari Materi
Kesalahan yang sering terjadi saat menyusun RPS adalah memulai
dari materi. Dosen langsung menulis daftar topik dari minggu 1
sampai minggu 16, lalu baru memikirkan tujuan dan penilaian belakangan.
Dalam pendekatan yang relevan dan kontekstual, logikanya dibalik.
Langkah yang lebih tepat:
1. Tentukan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK)
2. Turunkan menjadi Sub-CPMK
3. Baru tentukan materi, metode, dan penilaian
Ilustrasi:
Jika CPMK menyebutkan “mahasiswa mampu merancang solusi berbasis data untuk
permasalahan sosial”, maka materi, metode, dan tugas harus mengarah ke
aktivitas analisis data nyata, bukan sekadar hafalan definisi.
Dengan cara ini, RPS menjadi alat navigasi, bukan sekadar daftar isi.
2. Kenali Mahasiswa sebagai Subjek
Belajar
RPS yang kontekstual tidak bisa dilepaskan dari siapa
mahasiswa kita. Mahasiswa hari ini berbeda dengan mahasiswa lima
atau sepuluh tahun lalu.
Beberapa pertanyaan reflektif yang perlu dijawab dosen:
·
Latar belakang mahasiswa
seperti apa?
·
Apakah mereka sudah
bekerja, aktif berorganisasi, atau full-time kuliah?
·
Akses teknologi mereka
bagaimana?
Ilustrasi:
Mengajar kelas malam yang mayoritas mahasiswanya sudah bekerja tentu
membutuhkan pendekatan berbeda dengan kelas reguler pagi. RPS yang kaku dan
penuh tugas teoretis bisa jadi tidak relevan bagi mereka.
Artinya, satu mata kuliah bisa saja punya lebih dari satu versi
RPS, menyesuaikan konteks kelas.
3. Merancang Aktivitas Belajar yang
Bermakna
Dalam RPS konvensional, kolom metode pembelajaran sering diisi dengan
kata-kata yang itu-itu saja: ceramah, diskusi, tanya jawab.
Padahal, RPS yang kontekstual menuntut aktivitas belajar yang
bermakna.
Contoh aktivitas yang bisa dipertimbangkan:
·
Proyek berbasis masalah
(Project-Based Learning)
·
Studi kasus lokal
·
Observasi lapangan
·
Simulasi dan role play
·
Refleksi individu
Ilustrasi:
Pada mata kuliah Evaluasi Pembelajaran, mahasiswa tidak hanya belajar teori
penilaian, tetapi diminta menganalisis soal ujian yang benar-benar digunakan di
sekolah sekitar, lalu memberikan rekomendasi perbaikannya.
Aktivitas semacam ini membuat mahasiswa merasa bahwa apa yang mereka
pelajari ada gunanya.
4. Materi Ajar: Tidak Harus Tebal, yang Penting Tepat
RPS yang baik bukan diukur dari seberapa banyak materi yang dimasukkan,
tetapi dari ketepatan materi.
Dalam konteks Merdeka Belajar:
·
Materi bersifat core
dan essential
·
Dosen tidak harus
menjelaskan semuanya
·
Mahasiswa didorong untuk
eksplorasi mandiri
Ilustrasi:
Daripada memaksa mahasiswa membaca 10 bab buku teks, dosen bisa memilih 3
bacaan utama, lalu melengkapinya dengan artikel populer, video, atau laporan
lapangan yang relevan.
RPS sebaiknya mencerminkan pilihan materi ini secara jelas.
5. Penilaian yang Selaras
dan Transparan
Salah satu kunci RPS yang relevan adalah keselarasan antara
CPMK, aktivitas belajar, dan penilaian.
Beberapa prinsip penilaian kontekstual:
·
Menilai proses, bukan hanya
hasil akhir
·
Memberi ruang refleksi
·
Kriteria penilaian jelas
sejak awal
Ilustrasi:
Jika mahasiswa diminta membuat proyek kelompok, RPS perlu menjelaskan
bagaimana kontribusi individu dinilai, bukan hanya hasil akhir proyek.
Rubrik penilaian yang sederhana tapi jelas jauh lebih membantu daripada
angka tanpa penjelasan.
6. Fleksibilitas adalah Kunci
RPS yang kontekstual bukan berarti kaku mengikuti rencana awal. Justru
sebaliknya, RPS perlu fleksibel.
Hal-hal yang perlu diantisipasi:
·
Dinamika kelas
·
Perubahan kondisi lapangan
·
Kebutuhan mahasiswa yang
berkembang
Ilustrasi:
Jika di tengah semester muncul isu sosial yang relevan dengan mata kuliah,
dosen bisa menyesuaikan topik diskusi atau tugas tanpa harus merasa “melanggar
RPS”.
Selama capaian pembelajaran tetap tercapai, fleksibilitas justru menjadi
nilai tambah.
7. RPS sebagai Alat Komunikasi
Sering kali RPS hanya dipahami sebagai dokumen untuk pimpinan atau asesor.
Padahal, RPS adalah alat komunikasi antara dosen dan
mahasiswa.
RPS yang baik:
·
Ditulis dengan bahasa yang
jelas
·
Tidak terlalu teknis dan
birokratis
·
Mudah dipahami mahasiswa
Ilustrasi:
Alih-alih menulis “mahasiswa mampu menganalisis fenomena X secara
komprehensif”, dosen bisa menambahkan penjelasan praktis: artinya mahasiswa
bisa menjelaskan masalah, penyebab, dan solusi yang masuk akal.
Dengan begitu, mahasiswa tahu apa yang diharapkan dari mereka.
Tantangan Mendesain RPS
yang Kontekstual
Tentu saja, mendesain RPS seperti ini tidak lepas dari tantangan:
·
Waktu dosen yang terbatas
·
Tuntutan administrasi
·
Format institusi yang kaku
Namun, RPS yang baik justru bisa menghemat energi di
tengah semester, karena arah pembelajaran sudah jelas sejak
awal.
Penutup: RPS sebagai
Peta, Bukan Sekadar Arsip
Pada akhirnya, RPS seharusnya diposisikan sebagai peta
perjalanan pembelajaran, bukan sekadar dokumen arsip. RPS yang
relevan dan kontekstual membantu dosen mengajar dengan lebih terarah, dan
membantu mahasiswa belajar dengan lebih bermakna.
Jika RPS disusun dengan kesadaran pedagogis—bukan hanya administratif—maka
kelas akan terasa lebih hidup, diskusi lebih bermakna, dan pembelajaran tidak
lagi sekadar rutinitas semesteran.
Mendesain RPS memang butuh waktu dan refleksi. Tapi begitu RPS benar-benar
“hidup”, dosen akan merasakan satu hal penting: mengajar menjadi lebih ringan,
lebih menyenangkan, dan lebih bermakna.
