Kurikulum Merdeka Belajar: Apa Implikasinya bagi Dosen?
Beberapa
tahun terakhir, dunia pendidikan tinggi di Indonesia cukup sering “kedatangan
tamu” berupa kebijakan baru. Salah satu yang paling ramai dibicarakan tentu
saja Kurikulum Merdeka Belajar atau yang sering dikenal dengan istilah Merdeka
Belajar–Kampus Merdeka (MBKM). Bagi sebagian dosen, kebijakan ini terasa
seperti angin segar. Namun bagi sebagian lainnya, justru memunculkan banyak
tanda tanya: Apa yang harus diubah? Apakah beban kerja bertambah? Bagaimana
dengan penilaian, RPS, dan administrasi lainnya?
Artikel ini
mencoba membahas implikasi Kurikulum Merdeka Belajar bagi dosen dengan
gaya nonformal, santai, dan membumi. Harapannya, tulisan ini bisa jadi bahan
refleksi sekaligus pegangan awal, terutama bagi dosen yang masih menyesuaikan
diri.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing |
Sekilas
tentang Kurikulum Merdeka Belajar
Secara
sederhana, Kurikulum Merdeka Belajar ingin memberi ruang kebebasan yang
lebih besar—baik kepada mahasiswa maupun dosen—dalam proses pembelajaran.
Mahasiswa tidak lagi “dikurung” sepenuhnya di ruang kelas dan program studinya
sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk belajar di luar kampus, lintas prodi,
bahkan lintas disiplin.
Bagi dosen,
ini bukan sekadar mengganti istilah atau format kurikulum. Ini adalah perubahan
paradigma. Dari yang sebelumnya sangat berorientasi pada konten dan tatap
muka, kini bergeser ke pengalaman belajar dan capaian
pembelajaran nyata.
Ilustrasinya
begini:
Dulu, dosen
mengajar seperti “pengemudi bus” yang rutenya sudah tetap. Sekarang, dosen
lebih mirip “pemandu perjalanan” yang membantu mahasiswa memilih jalur, tujuan,
dan pengalaman belajar terbaik.
1. Peran
Dosen Berubah: Dari Pusat Informasi ke Fasilitator
Implikasi
pertama dan paling terasa adalah perubahan peran dosen. Pada kurikulum
konvensional, dosen sering diposisikan sebagai sumber utama ilmu. Mahasiswa
datang, duduk, mendengar, mencatat, lalu diuji.
Dalam
Kurikulum Merdeka Belajar, pola ini mulai ditinggalkan.
Apa artinya
bagi dosen?
- Dosen tidak lagi harus selalu menjelaskan
semuanya di kelas.
- Dosen lebih banyak berperan sebagai fasilitator,
mentor, dan supervisor.
- Diskusi, proyek, studi kasus, dan refleksi
menjadi lebih penting daripada ceramah panjang.
Contoh
ilustrasi:
Seorang
dosen mata kuliah kewirausahaan tidak lagi hanya menjelaskan teori bisnis di
kelas. Ia justru mendampingi mahasiswa yang magang di UMKM, membantu mereka
menganalisis masalah nyata seperti pemasaran, keuangan, atau manajemen tim.
Bagi dosen
yang sudah terbiasa dengan metode aktif, ini mungkin bukan masalah besar. Tapi
bagi yang masih nyaman dengan metode ceramah, tentu perlu adaptasi.
2. RPS Tidak
Sekadar Formalitas
Salah satu
“korban perubahan” yang paling sering dibahas adalah Rencana Pembelajaran
Semester (RPS). Dalam Kurikulum Merdeka Belajar, RPS tidak bisa lagi dibuat
sekadar untuk memenuhi administrasi.
Implikasi
langsungnya:
- RPS harus lebih fleksibel.
- Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian
Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) harus benar-benar nyambung dengan
aktivitas belajar.
- Dosen perlu memikirkan bagaimana mahasiswa
belajar, bukan hanya apa yang dipelajari.
Ilustrasi
sederhana:
Jika CPMK
menyebutkan “mahasiswa mampu memecahkan masalah komunikasi di masyarakat
multikultural”, maka metode belajarnya tidak cukup hanya dengan ujian tulis.
Bisa berupa proyek lapangan, observasi, atau simulasi komunikasi lintas budaya.
Artinya,
dosen dituntut lebih kreatif, tetapi juga lebih reflektif dalam merancang
pembelajaran.
3.
Kolaborasi Jadi Kunci, Bukan Lagi Kerja Sendiri
Dulu,
mengajar sering dianggap sebagai “urusan pribadi” dosen di kelasnya
masing-masing. Dengan Kurikulum Merdeka Belajar, pola ini mulai bergeser.
Kenapa?
Karena
pembelajaran kini:
- Bisa lintas mata kuliah
- Bisa lintas program studi
- Bisa melibatkan mitra luar kampus
Implikasinya
bagi dosen adalah harus lebih siap berkolaborasi.
Contoh
ilustrasi:
Dosen
Pendidikan Bahasa Inggris bekerja sama dengan dosen Teknologi Pendidikan untuk
membuat proyek pembuatan konten pembelajaran digital. Mahasiswa belajar bahasa,
sekaligus belajar teknologi dan desain.
Kolaborasi
ini memang menantang, terutama dari sisi komunikasi dan pembagian peran. Namun,
di sisi lain, ini membuka peluang pembelajaran yang jauh lebih kaya.
4. Penilaian
Tidak Lagi Sekadar Angka
Salah satu
perubahan yang cukup “mengganggu zona nyaman” dosen adalah soal penilaian.
Dalam Kurikulum Merdeka Belajar, penilaian tidak lagi semata-mata tentang nilai
akhir.
Apa yang
berubah?
- Penilaian lebih menekankan proses dan refleksi.
- Portofolio, proyek, laporan, dan presentasi
menjadi semakin penting.
- Penilaian formatif (selama proses belajar) lebih
diutamakan daripada penilaian sumatif semata.
Ilustrasi:
Mahasiswa
yang mengikuti program magang tidak hanya dinilai dari laporan akhir, tetapi
juga dari jurnal refleksi mingguan, penilaian mentor, dan kemampuan
mempresentasikan pengalaman belajarnya.
Bagi dosen,
ini berarti waktu dan energi tambahan. Namun, di sisi lain, dosen bisa melihat
perkembangan mahasiswa secara lebih utuh.
5. Beban
Kerja Dosen: Bertambah atau Berubah?
Pertanyaan
yang sering muncul adalah: “Apakah Kurikulum Merdeka Belajar menambah beban
kerja dosen?”
Jawabannya: bisa
iya, bisa tidak.
Yang
bertambah:
- Koordinasi dengan mitra
- Pendampingan mahasiswa
- Penyusunan instrumen penilaian yang lebih
kompleks
Yang
berkurang:
- Jam tatap muka yang kaku
- Pola mengajar satu arah
Dengan kata
lain, beban kerja dosen berubah bentuk. Bukan lagi sekadar mengajar di
kelas, tetapi mendampingi proses belajar yang lebih luas.
6. Tantangan
Nyata di Lapangan
Tidak bisa
dipungkiri, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar juga menghadirkan berbagai
tantangan, antara lain:
- Infrastruktur kampus yang belum siap
- Mitra luar kampus yang terbatas
- Pemahaman dosen yang belum merata
- Administrasi yang masih rumit
Namun, tantangan
ini seharusnya tidak dilihat sebagai alasan untuk menolak perubahan, melainkan
sebagai proses belajar bersama.
Merdeka
Belajar, Merdeka Mengajar?
Pada
akhirnya, Kurikulum Merdeka Belajar menuntut dosen untuk ikut merdeka—merdeka
dari pola lama yang terlalu kaku, terlalu administratif, dan terlalu berpusat
pada dosen.
Apakah
mudah? Tentu tidak. Apakah mungkin? Sangat mungkin.
Dengan sikap
terbuka, mau belajar, dan mau berkolaborasi, dosen justru bisa menemukan
kembali makna mengajar: bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi
menemani mahasiswa tumbuh sebagai pembelajar dan manusia utuh.
Merdeka
Belajar bukan tentang menggugurkan kewajiban, tetapi tentang membuka peluang.
Dan di sinilah peran dosen menjadi semakin penting—bukan sebagai pusat segalanya,
tetapi sebagai penuntun arah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar