Kalau kita bicara tentang transformasi kurikulum digital,
sering kali yang langsung terbayang adalah platform LMS, aplikasi belajar
online, kecerdasan buatan, atau kelas hybrid. Semua itu memang penting. Tapi
ada satu elemen yang sering luput dibahas, padahal justru paling menentukan: dosen.
Tanpa dosen yang siap berubah, kurikulum digital hanya akan menjadi dokumen
PDF yang dipajang di website kampus. Teknologinya ada, kurikulumnya ada, tetapi
praktik pembelajarannya tetap sama seperti 10–20 tahun lalu. Artikel ini akan
membahas secara nonformal tentang peran dosen dalam transformasi
kurikulum digital, lengkap dengan ilustrasi agar tidak terasa abstrak.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing |
Transformasi Kurikulum Digital: Bukan
Sekadar Pindah ke Online
Kesalahpahaman paling umum adalah menganggap transformasi digital berarti
memindahkan perkuliahan tatap muka ke Zoom atau LMS.
Padahal, transformasi kurikulum digital menyentuh hal yang
lebih mendasar:
·
Cara merancang capaian
pembelajaran
·
Cara mahasiswa belajar
·
Cara dosen mengajar dan
menilai
·
Cara teknologi dimanfaatkan
untuk mendukung proses tersebut
Ilustrasi:
Dosen yang hanya mengunggah PPT lama ke LMS sebenarnya belum
bertransformasi. Ia hanya memindahkan kelas, bukan mengubah cara belajar.
Dosen sebagai Aktor Kunci
Perubahan
Dalam transformasi kurikulum digital, dosen bukan sekadar pelaksana, tetapi aktor
utama perubahan.
Kenapa?
·
Dosen yang berinteraksi
langsung dengan mahasiswa
·
Dosen yang mendesain RPS
dan aktivitas belajar
·
Dosen yang menentukan
bagaimana teknologi digunakan
Tanpa keterlibatan dosen, kebijakan kurikulum digital hanya berhenti di
level pimpinan.
Peran 1: Dosen sebagai
Desainer Pembelajaran Digital
Peran pertama dan paling krusial adalah dosen sebagai desainer
pembelajaran.
Dalam konteks digital, dosen perlu memikirkan:
·
Aktivitas apa yang cocok
dilakukan daring
·
Aktivitas apa yang lebih
efektif luring
·
Bagaimana menggabungkan
keduanya secara bermakna
Ilustrasi:
Diskusi konsep bisa dilakukan lewat forum LMS, sementara praktik dan
simulasi dilakukan saat tatap muka.
Desain ini membuat pembelajaran lebih fleksibel dan efisien.
Peran 2: Dosen sebagai
Fasilitator, Bukan Sumber Tunggal Ilmu
Di era digital, mahasiswa bisa mengakses informasi dari mana saja. Peran
dosen pun bergeser.
Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan:
·
Fasilitator belajar
·
Kurator sumber belajar
·
Pendamping proses refleksi
Ilustrasi:
Dosen memberikan beberapa referensi digital, lalu membimbing mahasiswa
membandingkan, mengkritisi, dan mengaitkannya dengan konteks lokal.
Di sinilah nilai tambah dosen muncul.
Peran 3: Dosen sebagai
Role Model Literasi Digital
Mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa
yang dicontohkan.
Jika dosen:
·
Menggunakan teknologi
secara etis
·
Mengutip sumber dengan
benar
·
Menghargai karya digital
orang lain
maka mahasiswa akan meniru sikap tersebut.
Ilustrasi:
Dosen selalu menekankan etika penggunaan AI, bukan melarang total, tetapi
mengajarkan cara menggunakan secara bertanggung jawab.
Peran 4: Dosen dalam Mengintegrasikan Soft Skills dan
Digital Skills
Kurikulum digital tidak boleh hanya fokus pada keterampilan teknis.
Peran dosen penting dalam mengintegrasikan:
·
Kolaborasi daring
·
Komunikasi digital
·
Pemecahan masalah
·
Berpikir kritis
Ilustrasi:
Tugas kelompok dilakukan secara online dengan pembagian peran jelas dan
refleksi individu.
Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya melek teknologi, tetapi juga matang
secara karakter.
Peran 5: Dosen sebagai
Inovator Pembelajaran
Transformasi digital membuka ruang inovasi.
Dosen bisa mencoba:
·
Video microlearning
·
Podcast pembelajaran
·
Proyek berbasis masalah
nyata
·
Pemanfaatan AI sebagai alat
bantu belajar
Ilustrasi:
Mahasiswa diminta membuat konten edukatif di media sosial sebagai bagian
dari penilaian.
Ini membuat pembelajaran lebih relevan dengan dunia mahasiswa.
Tantangan yang Dihadapi
Dosen
Tentu saja, transformasi ini tidak selalu mudah.
Beberapa tantangan umum:
·
Kesenjangan literasi
digital
·
Beban kerja yang meningkat
·
Keterbatasan fasilitas
·
Rasa takut salah atau gagal
Namun, tantangan ini bisa diatasi jika kampus menyediakan:
·
Pelatihan berkelanjutan
·
Dukungan teknis
·
Budaya saling belajar antar
dosen
Transformasi Kurikulum
Digital dan Merdeka Belajar
Kebijakan Merdeka Belajar sangat sejalan dengan transformasi digital.
Peran dosen semakin penting dalam:
·
Membimbing pembelajaran di
luar kampus
·
Menilai pengalaman belajar
nonkonvensional
·
Mengaitkan pengalaman
lapangan dengan capaian pembelajaran
Ilustrasi:
Mahasiswa magang dinilai melalui portofolio digital dan refleksi online.
Dosen sebagai Pembelajar
Sepanjang Hayat
Agar bisa memimpin transformasi digital, dosen sendiri harus menjadi lifelong
learner.
Ini berarti:
·
Terbuka pada teknologi baru
·
Mau belajar dari mahasiswa
·
Tidak gengsi bertanya atau
mencoba
Ilustrasi:
Dosen belajar fitur baru LMS dari mahasiswa yang lebih dulu menguasainya.
Sikap ini justru memperkuat hubungan akademik.
Penutup: Transformasi
Dimulai dari Dosen
Transformasi kurikulum digital bukan proyek satu kali, tetapi proses jangka
panjang. Teknologi akan terus berubah, kebijakan akan berganti, tetapi peran
dosen tetap sentral.
Ketika dosen mau berubah, bereksperimen, dan merefleksikan praktiknya,
kurikulum digital tidak lagi terasa sebagai beban. Ia menjadi alat untuk menciptakan
pembelajaran yang lebih relevan, fleksibel, dan bermakna.
Pada akhirnya, transformasi kurikulum digital bukan soal seberapa canggih
teknologi yang digunakan, tetapi seberapa jauh dosen mampu memanusiakan
teknologi untuk mendukung pembelajaran mahasiswa.
Teknologi bisa mempercepat perubahan, tetapi dosenlah yang menentukan
arahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar