Open Access vs Subscription Journal: Perang Bintang di Dunia Akademis, Pilih yang Mana?


Halo para pejuang jurnal! Pernah nggak sih, lagi asyik-asyiknya browsing penelitian terkini, tiba-tiba mentok sama paywall yang nerorinya minta akun institusi atau bayar puluhan dollar buat baca satu artikel doang? Atau lagi cari tempat buat publikasi, dapat tawaran journal open access yang harganya bikin mata melotok?

Selamat datang di medan perang paling seru di dunia akademik: Open Access (OA) vs Subscription Journal (Akses Berlangganan). Kayak memilih antara Netflix dan bioskop, atau antara Spotify dan beli CD. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan, dan pilihan terbaiknya... TERGANTUNG SITUASI LO!

Artikel ini bakal ngebahas duel seru ini dengan gaya santai. Kita bakal bedah plus-minusnya, kasih ilustrasi nyata, dan yang paling penting, bantu lo memutuskan pilihan yang tepat buat karir penelitian lo. Yuk, kita gelar pertarungannya!

ROUND 1: Memahami Para Petarung

Si Bebas Akses: Open Access Journal

Bayangkan Open Access itu kayak taman umum. Siapa pun bisa masuk, lihat bunga, main, tanpa bayar sepeser pun. Konsepnya: semua artikel ilmiahnya tersedia GRATIS buat SEMUA ORANG di internet. Nggak ada paywall, nggak ada halangan.

Tapi, yang bingung, "Lho, kalau gratis, yang bayar siapa?" Nah, ini dia intinya. Biayanya biasanya dipindahkan dari pembaca ke penulis. Model ini sering disebut Article Processing Charge (APC). Jadi, kalau penelitian lo diterima, lo yang bayar biaya publikasi (bisa berkisar dari Rp 0 sampai Rp 60 juta lebih!). Dana ini buat nutup biaya operasional jurnal: editing, peer-review, hosting, dll.

Si Eksklusif: Subscription Journal (Toll-Access)

Ini adalah model tradisional. Bayangkan perpustakaan mewah yang harus bayar iuran buat masuk. Jurnal-jurnal ini menghasilkan uang dengan cara menjual langganan ke perpustakaan universitas, institusi riset, atau individu.

Pembacanya harus bayar (atau akses lewat institusi yang langganan) buat baca artikel lengkap. Tapi buat penulisnya, publikasi biasanya GRATIS. Nggak ada APC. Lo cuma butuh koneksi ke institusi yang punya akses buat submit dan baca literatur.

Ilustrasi Cepat:
Bayangkan dua restoran:

·         Restoran OA (Open Access): Masuk gratis, makan sepuasnya. Tapi pas mau keluar, lo ditagih masaknya (APC). Cocok buat yang punya duit buat bayar "all-you-can-eat".

·         Restoran Subscription: Lo bayar tiket masuk (langganan perpustakaan) yang mahal. Tapi sekali masuk, lo bisa makan dari banyak buffet (baca banyak jurnal) tanpa ditagih tambahan. Kalau lo mau jual resep masakan lo (publish) ke restoran ini, mereka yang urus, GRATIS.

Kunci Round 1: OA = pembaca gratis, penulis bayar. Subscription = pembaca bayar, penulis gratis.

 

ROUND 2: Pertarungan Kelebihan dan Kekurangan

Mari kita lihat duelnya dari sudut pandang kita sebagai peneliti.

Open Access: Si Cepat, Luas, tapi Relatif Mahal

Kelebihan OA (The Good Stuff):

1.    Jangkauan dan Visibilitas Luas: Karena gratis, artikel lo bisa dibaca oleh siapa saja: peneliti di negara berkembang, praktisi industri, pemerintah, bahkan masyarakat umum. Ini meningkatkan potensi sitasi lo. Riset membuktikan artikel OA rata-rata dapat sitasi lebih banyak (disebut "OA Advantage").

2.    Akses Cepat dan Bebas: Nggak ada lagi drama minta-minta artikel sama temen atau nyari-nyari sci-hub. Semua sudah terbuka lebar.

3.    Dampak Sosial yang Lebih Besar: Penelitian tentang obat kanker atau perubahan iklim bisa langsung diakses oleh yang membutuhkan, bukan cuma terkunci di balik paywall.

4.    Proses Publikasi Cenderung Lebih Cepat: Banyak jurnal OA yang proses dari submit ke terbit lebih cepat karena model bisnisnya mengandalkan volume artikel.

Kekurangan OA (The Dark Side):

1.    Biaya (APC) yang Bisa Menggila: Ini halangan terbesar! Bayangin, lo harus bayar Rp 20-50 juta dari kantong sendiri? Untungnya, banyak hibah penelitian (seperti DRTPM, LPDP) yang bisa dialokasikan buat bayar APC. Tapi tetap aja, kalau dana terbatas, ini beban.

2.    Predatory Journal: Ini adalah "serigala berbulu domba" di dunia OA. Banyak jurnal abal-abal yang cuma mau cari cuan dari APC, tanpa proses peer-review yang proper, bahkan tanpa editing. Mereka sering spam email nawarin publikasi. Hati-hati!

3.    Reputasi yang Masih Dibangun: Meski sudah banyak jurnal OA bereputasi tinggi (contoh: dari PLoS, BioMed Central, Nature Communications), masih ada stigma bahwa "OA itu kurang prestisius". Ini perlahan sudah berubah.

Subscription Journal: Si Bergengsi, Tapi Terkunci

Kelebihan Subscription (The Classic Prestige):

1.    Reputasi dan Prestise yang Tinggi: Jurnal-jurnal legendaris seperti NatureScienceCell adalah jurnal subscription. Nama besar mereka sudah diakui puluhan tahun. Mempublikasi di sini adalah mimpi bagi banyak peneliti.

2.    GRATIS bagi Penulis: Lo nggak perlu pusing mikirin APC. Fokus aja ke penelitian dan menulis.

3.    Kualitas yang Terjaga: Proses seleksi dan peer-review-nya biasanya sangat ketat, yang menjaga kredibilitas dan kualitas jurnal.

Kekurangan Subscription (The Paywall Problem):

1.    Akses Terbatas: Ini masalah terbesarnya! Pengetahuan dikurung. Peneliti di kampus kecil atau negara miskin sering nggak bisa akses. Dampaknya, penelitian lo cuma bisa dibaca oleh segelintir orang yang beruntung punya akses.

2.    Potensi Sitasi yang Terbatas: Karena aksesnya terbatas, jangkauan pembaca juga terbatas, yang berpotensi mengurangi jumlah sitasi.

3.    Proses yang Lambat: Karena model bisnisnya nggak bergantung pada volume, proses review hingga publikasi bisa lebih lama.

Ilustrasi Nyata:
Bayangkan dua orang dosen:

·         Pak Andi publikasi di jurnal OA ternama dengan bayar APC Rp 30 juta dari dana hibah. Artikelnya tentang terapi kanker murah. Dalam setahun, artikelnya dibaca 5000 kali, disitasi 30 kali, dan bahkan dilirik oleh startup farmasi.

·         Pak Budi publikasi di jurnal subscription bergengsi, gratis. Tapi hanya peneliti di 100 universitas top dunia yang bisa baca full text. Artikelnya dibaca 800 kali (kebanyakan cuma baca abstrak), dan disitasi 10 kali.

Siapa yang "lebih unggul"? Tergantung metriknya. Pak Andi punya dampak luas, Pak Budi punya prestise tinggi.

Kunci Round 2: OA menang di jangkauan dan dampak, kalah di biaya. Subscription menang di prestise dan gratis bagi penulis, kalah di akses terbatas.

 

ROUND 3: Strategi Memilih yang Tepat Buat Lo

Nah, sekarang pertanyaannya: "Jadi, gue harus pilih yang mana?"

Jawabannya: Lihat Kondisi dan Tujuan Lo!

PILIH OPEN ACCESS JIKA:

1.    Dana APC Tersedia: Lo punya hibah penelitian yang mencakup biaya publikasi. Atau kampus lo punya program bantuan APC.

2.    Target Pembaca yang Luas: Lo ingin penelitian lo dibaca oleh praktisi, industri, atau masyarakat umum, bukan cuma akademisi.

3.    Topik yang "Panas" dan Cepat Usang: Di bidang yang berkembang cepat seperti AI atau bioteknologi, kecepatan publikasi dan akses luas sangat krusial.

4.    Misi Sosial: Lo punya prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bebas dan terbuka untuk semua.

PILIH SUBSCRIPTION JIKA:

1.    Dana Terbatas: Lo nggak punya dana untuk APC. Pilih jurnal subscription bereputasi yang gratis.

2.    Mengejar Prestise dan Jabatan: Buat kenaikan jabatan fungsional, seringkali nama besar jurnal (apapun model aksesnya) masih punya bobot lebih di mata reviewer.

3.    Penelitian Dasar (Basic Research): Yang target pembacanya memang komunitas akademik spesifik yang sudah pasti punya akses lewat institusi.

Tips Tambahan yang Wajib Dipikirin:

1.    Cek Kebijakan Funder/Institusi Lo! Beberapa pemberi dana (seperti LPDP, DRTPM) sekarang MEWAJIBKAN publikasi di Open Access. Pastikan lo tahu aturannya.

2.    Waspada Predatory Journal! Ciri-cirinya: email spam, scope terlalu luas, APC anehnya murah banget, nama mirip jurnal ternama, website jelek, tidak terindeks di database terpercaya (Scopus/Web of Science). Selalu cek di Scimago Journal Rank (SJR) atau DOAJ (Directory of Open Access Journals) untuk memastikan keabsahan jurnal OA.

3.    Pertimbangkan Hybrid Journal: Ini adalah jurnal subscription yang nawarin opsi "Open Access" dengan bayar APC. Jadi, artikel lo bisa dibuka aksesnya di dalam jurnal yang biasanya berbayar. Tapi hati-hati, model ini sering dituduh "double-dipping" (memungut biaya dari langganan dan APC).

 

PENUTUP: Tidak Ada Pemenang Mutlak, Yang Ada Adalah Pilihan yang Cerdas

Perang antara Open Access dan Subscription bukan tentang siapa yang jahat dan siapa yang suci. Kedua model ini punya tempatnya masing-masing.

Open Access adalah masa depan. Semangatnya tentang demokratisasi pengetahuan, pemerataan akses, dan mempercepat inovasi. Tantangannya adalah membangun sistem pendanaan yang berkelanjutan dan memberantas predator.

Subscription adalah warisan yang telah membangun fondasi sains modern. Dia membawa reputasi, kualitas, dan stabilitas. Tantangannya adalah beradaptasi dengan tuntutan zaman yang menginginkan akses lebih terbuka.

Jadi, sebagai peneliti, lo bukan cuma penonton. Lo adalah pemain yang harus membuat keputusan strategis.

·         Sebagai PEMBACA: Manfaatkan OA untuk memperkaya wawasan. Tapi hargai juga sistem berlangganan institusi lo.

·         Sebagai PENULIS: Tanyakan pada dirimu sendiri: "Apa tujuan publikasi kali ini? Prestise, dampak luas, atau sekadar memenuhi kewajiban?" Sesuaikan pilihan jurnal dengan jawabannya.

Yang paling penting, apapun pilihannya, pastikan lo mempublikasikan di jurnal yang TERPERCAYA dan BERE PUTASI, baik itu OA maupun Subscription. Jangan sampai karir lo rusak karena tergiur janji manis predatory journal atau terhambat oleh paywall yang membatasi dampak penelitian brilian lo.

Selamat memilih, dan semoga artikel lo cepat terbit dan banyak disitasi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar