Bayangkan kamu sedang berada di sebuah laboratorium. Di satu meja, ada
seorang ahli bioteknologi yang sibuk meneliti mikroorganisme. Di sebelahnya,
duduk seorang programmer yang menulis baris-baris kode untuk menganalisis data
genetik. Di pojok ruangan, ada desainer produk yang menggambar sketsa alat
pendeteksi penyakit.
Sekilas, mereka seperti bekerja di dunia yang berbeda. Tapi ternyata, mereka
sedang satu tim — mengembangkan alat deteksi dini penyakit
menular berbasis AI.
Nah, itulah gambaran nyata dari kolaborasi riset lintas
disiplin.
Zaman sekarang, riset yang benar-benar berdampak jarang bisa lahir dari satu
bidang ilmu saja. Dunia sudah terlalu kompleks untuk diselesaikan sendirian.
Perubahan iklim, kesehatan global, kecerdasan buatan, bahkan pendidikan —
semuanya butuh kolaborasi dari berbagai perspektif.
1. Apa Itu Riset Lintas
Disiplin?
Sederhananya, riset lintas disiplin (interdisciplinary
research) adalah kerja sama antara dua atau lebih bidang ilmu
yang berbeda untuk menyelesaikan satu masalah yang sama.
Misalnya:
·
Seorang ahli
komputer bekerja sama dengan dokter
untuk menciptakan sistem diagnosis otomatis.
·
Sosiolog
berkolaborasi dengan insinyur lingkungan untuk
mencari solusi pengelolaan sampah di perkotaan.
·
Ahli
bahasa bekerja dengan pakar psikologi
untuk meneliti komunikasi dalam terapi trauma.
Berbeda dengan riset monodisiplin yang fokus pada satu bidang saja, riset
lintas disiplin menggabungkan pengetahuan, metode, dan cara pandang dari
berbagai bidang. Hasilnya? Biasanya lebih kreatif, inovatif, dan
relevan dengan tantangan dunia nyata.
Ilustrasi:
Bayangkan kamu ingin membuat kopi terbaik. Kalau kamu hanya mengandalkan
pengetahuan seorang barista, rasanya mungkin nikmat. Tapi kalau kamu melibatkan
petani kopi, ahli kimia rasa, dan insinyur mesin pembuat kopi, hasilnya bisa
lebih dari sekadar nikmat — bisa revolusioner!
2. Mengapa Kolaborasi
Lintas Disiplin Itu Penting?
a. Masalah Dunia Nyata Itu Kompleks
Ambil contoh isu perubahan iklim. Di situ ada unsur sains
lingkungan, ekonomi, kebijakan publik, teknologi, dan pendidikan.
Kalau hanya satu bidang yang bekerja, solusinya tidak akan menyeluruh.
b. Mendorong Inovasi
Bertemu dengan orang dari bidang lain membuat kita berpikir di luar
kebiasaan. Dari situ muncul ide-ide baru yang mungkin tak pernah terbayang
sebelumnya.
Contohnya, Google Maps lahir dari
gabungan keahlian teknologi komputer, geografi, desain
visual, dan data science.
c. Peluang Pendanaan Lebih Besar
Banyak lembaga hibah penelitian — seperti LPDP, BRIN, dan
Erasmus+ — kini lebih tertarik mendanai riset lintas disiplin.
Karena mereka tahu, riset seperti ini cenderung punya dampak sosial dan ekonomi
yang lebih luas.
d. Jejaring Profesional yang Lebih Luas
Bekerja dengan peneliti dari bidang lain membuka peluang kolaborasi jangka
panjang, publikasi bersama, bahkan proyek internasional.
3. Tantangan Kolaborasi
Riset Lintas Disiplin
Tentu saja, bekerja lintas disiplin tidak semulus jalan tol.
a. Perbedaan Bahasa Akademik
Setiap disiplin punya istilah dan gaya berpikir sendiri. Misalnya, bagi
seorang ahli teknik, “model” berarti rancangan fisik atau simulasi. Tapi bagi
ahli sosial, “model” bisa berarti kerangka teori.
Kalau tidak disepakati di awal, bisa-bisa komunikasi jadi buntu.
b. Egosentris Ilmiah
Kadang, masing-masing bidang merasa pendekatannyalah yang paling benar.
Padahal, tujuan kolaborasi justru saling melengkapi, bukan saling menonjolkan.
c. Pembagian Peran dan Publikasi
Siapa yang jadi penulis pertama? Siapa yang memimpin riset? Di sinilah
dibutuhkan etika kolaborasi dan transparansi sejak awal.
d. Keterbatasan Waktu dan Koordinasi
Tim lintas disiplin sering tersebar di berbagai tempat, sehingga jadwal dan
komunikasi menjadi tantangan tersendiri.
Tips ilustratif:
Bayangkan kamu dan temanmu ingin bikin film pendek. Kamu ahli menulis naskah,
temanmu jago sinematografi, satu lagi pintar edit video. Tapi kalau kalian
tidak punya jadwal yang sinkron dan kesepakatan siapa yang mengerjakan apa,
filmnya bisa molor tanpa hasil.
4. Langkah-langkah
Membangun Kolaborasi Lintas Disiplin
a. Mulai dari Masalah Nyata
Carilah topik riset yang memang membutuhkan lebih dari satu sudut pandang.
Misalnya:
·
“Bagaimana meningkatkan
ketahanan pangan dengan teknologi digital?”
·
“Bagaimana mengurangi stres
belajar mahasiswa melalui aplikasi berbasis psikologi dan pendidikan?”
Ketika masalahnya jelas, kolaborasi pun lebih terarah.
b. Temukan Mitra yang Tepat
Cari rekan dari bidang lain yang:
·
Memiliki minat serupa,
·
Terbuka terhadap ide baru,
·
Dan punya rekam jejak
kolaboratif.
Kamu bisa menemukannya lewat seminar, konferensi, grup riset kampus, atau
platform seperti ResearchGate dan Google
Scholar.
c. Bangun Kepercayaan dan Kesepahaman
Sebelum proyek dimulai, bicarakan hal-hal penting:
·
Tujuan bersama
·
Tugas dan tanggung jawab
·
Mekanisme komunikasi
·
Pembagian hasil dan
publikasi
Kesepakatan yang jelas akan mencegah salah paham di kemudian hari.
d. Gunakan Teknologi Kolaboratif
Manfaatkan tools seperti:
·
Mendeley
atau Zotero untuk referensi bersama,
·
Google
Docs atau Overleaf untuk menulis
kolaboratif,
·
Trello
atau Notion untuk manajemen proyek,
·
Zoom,
Slack, atau Teams
untuk koordinasi lintas lokasi.
e. Bangun Kultur Belajar Bersama
Kolaborasi bukan hanya tentang hasil, tapi juga tentang proses belajar.
Jangan sungkan bertanya tentang hal yang belum kamu pahami dari bidang lain.
Semakin banyak belajar, semakin kaya perspektif risetmu.
5. Contoh Nyata: Inovasi
dari Kolaborasi
Mari lihat beberapa contoh nyata yang menunjukkan kekuatan riset lintas
disiplin.
🌱 Smart Farming
(Pertanian Pintar)
Ahli pertanian bekerja sama dengan ahli teknologi informasi dan data
scientist untuk menciptakan sistem pemantauan kelembapan tanah menggunakan
sensor IoT.
Hasilnya? Petani bisa memantau kondisi lahan dari smartphone dan menghemat air
hingga 40%.
🧠 Riset Otak dan AI
Neuroscientist dan ilmuwan komputer berkolaborasi membangun model kecerdasan
buatan berdasarkan cara kerja otak manusia. Kolaborasi ini melahirkan algoritma
pembelajaran mendalam (deep learning) yang kini digunakan
di berbagai bidang.
💬 Pendidikan dan
Teknologi
Pendidik berkolaborasi dengan pengembang aplikasi untuk membuat media
pembelajaran interaktif berbasis gamifikasi. Hasilnya, siswa lebih termotivasi
belajar dan hasil akademik meningkat.
🌍 Riset Sosial dan
Lingkungan
Ahli ekonomi, antropolog, dan ekolog bekerja bersama untuk memahami dampak
sosial pembangunan bendungan. Mereka menemukan bahwa solusi terbaik tidak hanya
soal teknologi, tapi juga pendekatan budaya dan partisipasi masyarakat.
Ilustrasi Kasus Sederhana:
Di Universitas Al-Asyariah Mandar misalnya, bisa saja terbentuk tim riset
gabungan antara dosen teknik, pendidikan, dan ekonomi. Mereka meneliti
bagaimana teknologi sederhana dapat membantu nelayan lokal meningkatkan
produktivitas tangkapan tanpa merusak ekosistem laut.
Hasilnya tidak hanya berupa inovasi alat, tapi juga peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan — sebuah kolaborasi yang
berdampak nyata!
6. Strategi Publikasi
Hasil Riset Lintas Disiplin
Publikasi lintas disiplin memiliki peluang besar untuk diterima di jurnal
bereputasi internasional, terutama jika topiknya relevan dan menunjukkan
integrasi antardisiplin dengan jelas.
Beberapa tipsnya:
·
Pilih jurnal yang memiliki ruang
lingkup multidisipliner, seperti Nature Sustainability,
PLOS ONE, atau Frontiers in
Interdisciplinary Research.
·
Tekankan kontribusi
tiap bidang ilmu dalam metodologi dan pembahasan.
·
Gunakan bahasa yang mudah
dipahami lintas bidang.
·
Jangan lupa: selalu
cantumkan peran tiap kontributor secara jelas di bagian author
contribution.
7. Penutup: Inovasi Lahir
dari Kolaborasi
Di dunia akademik, kolaborasi lintas disiplin bukan sekadar tren, tapi
kebutuhan. Semakin kompleks persoalan yang dihadapi umat manusia, semakin
penting kerja sama antarilmu untuk menemukan solusi.
Sebagaimana pepatah Afrika bilang,
“If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go
together.”
(Kalau ingin cepat, pergilah sendiri. Tapi kalau ingin jauh, pergilah bersama.)
Jadi, kalau kamu seorang dosen, peneliti, atau mahasiswa yang punya ide
cemerlang — jangan jalan sendiri.
Ajak teman dari jurusan lain, bicarakan ide bersama, dan jadikan kolaborasi
lintas disiplin sebagai kunci menuju inovasi baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar