Kalau kita jujur, banyak mahasiswa masih berpikir bahwa belajar itu punya
garis finis. Masuk kuliah, lulus, wisuda, lalu selesai. Setelah itu, tinggal
kerja dan hidup berjalan seperti biasa. Padahal, di dunia yang berubah sangat
cepat seperti sekarang, pola pikir seperti ini sudah tidak lagi relevan. Di
sinilah konsep lifelong learning atau
pembelajaran sepanjang hayat menjadi sangat penting, terutama bagi mahasiswa.
Lifelong learning bukan istilah baru, tetapi maknanya semakin kuat di era
digital, era disrupsi, dan era ketidakpastian. Artikel ini akan membahas apa
itu pembelajaran lifelong learning, mengapa penting bagi mahasiswa, bagaimana
peran perguruan tinggi, serta contoh-contoh konkret agar konsep ini tidak
berhenti sebagai jargon.
![]() |
| Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing |
Apa Itu Lifelong Learning?
Secara sederhana, lifelong learning adalah
sikap dan kemampuan untuk terus belajar sepanjang hidup, tidak terbatas oleh
usia, jenjang pendidikan, atau ruang kelas. Belajar tidak lagi dipahami sebagai
aktivitas formal di bangku kuliah, tetapi sebagai proses berkelanjutan.
Belajar bisa terjadi di mana saja:
·
Di kampus
·
Di tempat kerja
·
Di komunitas
·
Dari pengalaman hidup
sehari-hari
Ilustrasi sederhana:
Mahasiswa yang belajar desain grafis di kelas, lalu memperdalam skill-nya
lewat YouTube, proyek freelance, dan komunitas online, sebenarnya sedang
mempraktikkan lifelong learning.
Intinya, lifelong learning adalah tentang kemauan dan kesadaran
untuk terus berkembang.
Kenapa Lifelong Learning Penting bagi Mahasiswa?
Mahasiswa hari ini akan hidup dan bekerja di masa depan yang penuh
perubahan. Banyak pekerjaan yang ada sekarang mungkin akan hilang atau berubah
bentuk dalam 10–20 tahun ke depan.
1. Ilmu Cepat Usang
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat. Apa yang dipelajari
di semester awal bisa jadi sudah tidak relevan saat mahasiswa lulus.
Ilustrasi:
Mahasiswa IT yang hanya mengandalkan bahasa pemrograman yang diajarkan di
kelas tanpa belajar mandiri akan tertinggal jauh dari perkembangan industri.
2. Dunia Kerja Tidak Stabil
Karier tidak lagi linear. Orang bisa berpindah profesi beberapa kali dalam
hidupnya.
Lifelong learning membuat mahasiswa lebih siap menghadapi perubahan ini.
3. Persaingan Global
Mahasiswa tidak hanya bersaing dengan lulusan dari kampus lain, tetapi juga
dengan talenta global.
Kemampuan belajar mandiri menjadi keunggulan utama.
Lifelong Learning Bukan Sekadar Rajin Ikut Pelatihan
Kesalahpahaman umum adalah menganggap lifelong learning sebagai rajin ikut
seminar atau pelatihan. Padahal, yang paling penting adalah mindset
belajar.
Ciri mahasiswa dengan mindset lifelong learning:
·
Rasa ingin tahu tinggi
·
Tidak cepat puas dengan
pengetahuan yang ada
·
Mau belajar dari kesalahan
·
Terbuka terhadap kritik dan
masukan
Ilustrasi:
Mahasiswa yang gagal dalam sebuah proyek tidak langsung menyalahkan dosen
atau sistem, tetapi mencoba mengevaluasi dan belajar dari kegagalannya.
Peran Perguruan Tinggi dalam Menumbuhkan Lifelong Learning
Perguruan tinggi memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan belajar
sepanjang hayat.
1. Mengubah Pola Pembelajaran
Pembelajaran tidak seharusnya hanya berfokus pada transfer materi. Yang
lebih penting adalah melatih mahasiswa bagaimana cara belajar.
Contoh:
·
Problem-Based Learning
·
Project-Based Learning
·
Inquiry Learning
Metode ini mendorong mahasiswa mencari, mengevaluasi, dan menggunakan
informasi secara mandiri.
2. Memberi Ruang Eksplorasi
Program seperti Merdeka Belajar–Kampus Merdeka membuka ruang bagi mahasiswa
untuk belajar di luar kelas.
Ilustrasi:
Mahasiswa yang magang, riset, atau mengabdi di masyarakat belajar hal-hal
yang tidak selalu didapatkan dari buku teks.
3. Mengurangi Ketergantungan pada Dosen
Dosen bukan satu-satunya sumber ilmu. Peran dosen bergeser menjadi
fasilitator dan mentor.
Lifelong Learning dalam Aktivitas Sehari-hari Mahasiswa
Lifelong learning tidak selalu berbentuk aktivitas besar. Justru sering
hadir dalam hal-hal kecil.
Contoh konkret:
·
Membaca artikel di luar
bahan kuliah
·
Mengikuti diskusi komunitas
·
Belajar skill baru secara
otodidak
·
Refleksi setelah
menyelesaikan tugas
Ilustrasi:
Mahasiswa pendidikan yang rutin mengevaluasi cara mengajarnya saat PPL
sedang melatih kemampuan reflektif sebagai pembelajar sepanjang hayat.
Tantangan Menerapkan Lifelong Learning pada Mahasiswa
Tidak semua mahasiswa langsung siap dengan konsep ini.
Beberapa tantangan umum:
·
Budaya belajar yang masih
berorientasi nilai
·
Kebiasaan belajar instan
·
Kurangnya motivasi internal
Ilustrasi:
Mahasiswa belajar hanya menjelang ujian, lalu melupakan materi setelah nilai
keluar.
Mengubah pola ini membutuhkan waktu dan pendampingan.
Strategi Menumbuhkan Lifelong Learning pada Mahasiswa
Beberapa strategi yang bisa diterapkan:
1. Menanamkan refleksi diri dalam pembelajaran
2. Memberi tugas terbuka yang mendorong eksplorasi
3. Menghargai proses, bukan hanya hasil
4. Memberi contoh nyata dari dosen
5. Membangun budaya diskusi dan berbagi
Ilustrasi:
Tugas esai reflektif membuat mahasiswa berpikir tentang apa yang dipelajari
dan apa yang perlu dikembangkan lagi.
Lifelong Learning dan Karakter Mahasiswa
Lifelong learning tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga karakter.
Karakter yang tumbuh antara lain:
·
Kemandirian
·
Ketekunan
·
Kerendahan hati intelektual
·
Tanggung jawab terhadap
pengembangan diri
Mahasiswa dengan karakter ini lebih siap menghadapi kehidupan setelah lulus.
Penutup: Mahasiswa sebagai Pembelajar Seumur Hidup
Lifelong learning bukan tuntutan yang membebani mahasiswa, tetapi bekal
hidup. Di dunia yang tidak pasti, kemampuan belajar
terus-menerus adalah aset paling berharga.
Perguruan tinggi bisa menyiapkan kurikulum, dosen bisa mendesain
pembelajaran yang aktif, tetapi pada akhirnya, keputusan untuk menjadi
pembelajar sepanjang hayat ada di tangan mahasiswa sendiri.
Ketika mahasiswa tidak lagi bertanya “ini keluar di ujian atau tidak?”,
tetapi mulai bertanya “ini berguna untuk hidup saya atau tidak?”, di situlah
lifelong learning benar-benar hidup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar