Kurikulum Berbasis Kompetensi vs Berbasis Capaian


Di dunia pendidikan tinggi, istilah kurikulum sering terdengar sangat teknis dan kadang bikin dahi berkerut. Apalagi ketika muncul dua istilah yang mirip tapi tidak sepenuhnya sama: Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran (Outcome-Based Education/OBE). Tidak sedikit dosen yang bertanya, “Ini sebenarnya beda atau cuma ganti nama saja?”

Penerbitan dan Percetakan Buku Cemerlang | CV. Cemerlang Publishing

Jawabannya: beda, tapi saling berkaitan. Artikel ini akan membahas perbedaan, persamaan, dan implikasi praktis antara Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Capaian dengan gaya nonformal, santai, dan disertai ilustrasi agar mudah dipahami, khususnya bagi dosen dan pengelola program studi.

 

Memahami Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lahir dari kebutuhan agar lulusan tidak hanya pintar secara teori, tetapi juga mampu melakukan sesuatu secara nyata. Fokus utama KBK adalah pada kompetensi yang harus dimiliki lulusan.

Kompetensi di sini biasanya mencakup:

·         Pengetahuan

·         Keterampilan

·         Sikap

Dengan kata lain, KBK ingin memastikan bahwa setelah lulus, mahasiswa punya bekal praktis yang bisa digunakan di dunia kerja.

Ilustrasi sederhana:

Mahasiswa pendidikan tidak cukup hanya tahu teori pembelajaran. Ia juga harus mampu merancang RPP, mengelola kelas, dan melakukan evaluasi pembelajaran.

Dalam KBK, daftar kompetensi lulusan menjadi titik awal penyusunan kurikulum, mata kuliah, dan materi ajar.

 

Ciri Khas Kurikulum Berbasis Kompetensi

Beberapa ciri KBK antara lain:

·         Menekankan kemampuan melakukan (performance)

·         Materi disusun untuk mendukung kompetensi

·         Penilaian fokus pada unjuk kerja

·         Dekat dengan kebutuhan dunia kerja

Namun, dalam praktiknya, KBK sering menghadapi satu masalah klasik: kompetensi dirumuskan terlalu umum, sehingga sulit diukur secara konkret.

 

Memahami Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran (OBE)

Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran atau Outcome-Based Education (OBE) berkembang untuk menjawab kelemahan tersebut. Fokus utamanya adalah pada hasil akhir pembelajaran yang dapat diukur dan diamati.

Dalam OBE, pertanyaan utamanya bukan lagi:

“Materi apa yang sudah diajarkan?”

melainkan:

“Apa yang benar-benar bisa dilakukan mahasiswa setelah belajar?”

Ilustrasi:

Bukan sekadar “mahasiswa memahami konsep evaluasi pembelajaran”, tetapi “mahasiswa mampu merancang instrumen evaluasi yang valid dan reliabel”.

OBE menuntut kejelasan hasil belajar sejak awal.

 

Ciri Khas Kurikulum Berbasis Capaian

Beberapa ciri utama OBE antara lain:

·         Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes)

·         Hasil belajar dirumuskan secara spesifik dan terukur

·         Pembelajaran dan penilaian harus selaras dengan capaian

·         Penilaian berbasis bukti (evidence-based)

Dalam OBE, istilah seperti CPL, CPMK, dan Sub-CPMK menjadi sangat penting.

 

Di Mana Letak Perbedaannya?

Meski sering dianggap sama, ada perbedaan penekanan antara KBK dan OBE.

1. Titik Fokus

·         KBK fokus pada kompetensi lulusan

·         OBE fokus pada capaian pembelajaran yang terukur

2. Perumusan Tujuan

·         KBK cenderung menggunakan rumusan umum

·         OBE menuntut rumusan spesifik dan operasional

3. Penilaian

·         KBK menilai apakah kompetensi tercapai

·         OBE menilai sejauh mana capaian pembelajaran terbukti melalui data

Ilustrasi:

Dalam KBK, dosen merasa mahasiswa “sudah kompeten”. Dalam OBE, dosen harus menunjukkan bukti bahwa mahasiswa memang mencapai capaian tertentu.

 

Persamaan Keduanya

Meskipun berbeda, KBK dan OBE punya banyak irisan.

Persamaannya antara lain:

·         Sama-sama berorientasi pada mahasiswa

·         Sama-sama menolak pembelajaran yang hanya berpusat pada materi

·         Sama-sama menuntut keterkaitan antara tujuan, pembelajaran, dan penilaian

Bisa dikatakan, OBE adalah penguatan dan penyempurnaan dari KBK.

 

Implikasi bagi Dosen

Perbedaan pendekatan ini membawa implikasi nyata bagi dosen.

1. Perubahan Cara Mengajar

Dosen tidak bisa lagi hanya fokus menyelesaikan materi. Yang lebih penting adalah memastikan mahasiswa mencapai capaian pembelajaran.

Ilustrasi:

Jika CPMK menuntut kemampuan analisis, maka metode ceramah penuh jelas tidak cukup.

2. Perubahan dalam Penyusunan RPS

Dalam OBE, RPS harus menunjukkan keterkaitan yang jelas antara:

·         CPMK

·         Metode pembelajaran

·         Penilaian

RPS tidak lagi sekadar formalitas, tetapi alat kendali mutu pembelajaran.

3. Penilaian Lebih Menantang

Penilaian dalam OBE menuntut:

·         Rubrik yang jelas

·         Instrumen yang valid

·         Dokumentasi capaian

Ini memang menambah kerja dosen, tetapi juga meningkatkan kualitas pembelajaran.

 

Implikasi bagi Program Studi

Bagi program studi, pergeseran dari KBK ke OBE menuntut:

·         Penyelarasan CPL dengan profil lulusan

·         Pemetaan mata kuliah terhadap CPL

·         Evaluasi kurikulum berbasis data capaian

Ilustrasi:

Prodi tidak cukup mengatakan “lulusan kami kompeten”, tetapi harus menunjukkan data bahwa CPL benar-benar tercapai.

 

Tantangan di Lapangan

Implementasi KBK maupun OBE tidak lepas dari tantangan, seperti:

·         Pemahaman dosen yang belum merata

·         Beban administrasi

·         Budaya penilaian yang masih berorientasi nilai akhir

Namun, tantangan ini adalah bagian dari proses transformasi.

 

Mana yang Lebih Baik?

Pertanyaan ini sering muncul. Jawaban jujurnya: bukan soal memilih salah satu.

KBK memberikan dasar kompetensi yang kuat, sementara OBE memberikan kerangka evaluasi yang lebih sistematis dan terukur. Dalam praktik pendidikan tinggi saat ini, OBE menjadi pendekatan yang lebih relevan, terutama untuk penjaminan mutu dan akreditasi.

 

Penutup: Dari Kompetensi ke Capaian Nyata

Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Capaian sama-sama bertujuan meningkatkan kualitas lulusan. Perbedaannya terletak pada cara memastikan tujuan itu benar-benar tercapai.

Jika KBK menekankan apa yang seharusnya dimiliki lulusan, maka OBE menekankan apa yang benar-benar bisa dibuktikan. Dalam konteks perguruan tinggi modern, pendekatan berbasis capaian membantu dosen dan institusi lebih reflektif, terukur, dan akuntabel.

Pada akhirnya, kurikulum bukan soal istilah, tetapi soal dampak. Selama pembelajaran mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, berkarakter, dan siap menghadapi dunia nyata, maka kurikulum tersebut telah menjalankan fungsinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar