Halo para pejuang kampus! Kalau ngomongin
jabatan fungsional akademik, pasti yang keingetan sama yang namanya angka kredit, pak, dan poin KUM. Bikin
pusing, ya? Ibarat naik level di game, dari Asisten Ahli naik ke Lektor, lalu
Lektor Kepala, dan puncaknya jadi Guru Besar. Tapi bedanya, game ini nggak ada
cheat-nya dan bisa bikin stres berat kalau nggak punya strategi.
Tapi tenang! Naik jabatan itu bukan
mission impossible. Artikel ini bakal jadi "panduan main" buat lo
yang pengen naik jabatan dengan lebih efektif, tanpa harus begadang
terus-terusan sampai botak. Kita bakal bahas strategi realistis dengan gaya
santai plus contoh yang relatable. Siap? Let's level up!
Bab 1: Pahami "Rule of
the Game" - Jangan Asal Lari!
Bayangin lo ikut lomba balap mobil tapi
nggak tau aturannya. Bisa-bisa lo didiskualifikasi karena nggak sempat ganti
ban! Sama aja dengan naik jabatan. Hal pertama yang harus lo lakuin
adalah PAHAMI
PERATURAN TERBARU.
Yang Wajib Dipelajari:
·
Permenpan RB No.
17/2013 atau aturan terbaru: Ini adalah kitab sucinya. Pelajari persyaratan minimal
setiap jenjang dengan detail.
·
Buku Pedoman Kampus
Sendiri: Setiap kampus punya interpretasi sedikit berbeda. Ada yang
lebih strict, ada yang lebih relax. Kenali "selera" kampus lo.
·
Unsur-unsur Penilaian: Utamanya
itu TRI DHARMA: Pendidikan
& Pengajaran (P), Penelitian & Karya Ilmiah (R), dan Pengabdian
Masyarakat (M). Pahami proporsinya dan unsur penunjang lainnya.
Ilustrasi:
Bayangkan dua dosen:
·
Pak Andi langsung fokus
ngejar poin penelitian aja, karena dikira itu yang paling tinggi poinnya.
·
Pak Budi baca aturan dulu
dan sadar bahwa untuk naik ke Lektor, dia butuh keseimbangan antara P, R, dan
M.
Siapa yang lebih cepat naik? Pak Budi, karena dia mainnya nggak asal seruduk.
Kunci Bab 1: Jangan malas baca
aturan! Luangkan waktu 1 minggu buat baca, catat, dan pahami aturan mainnya.
Ini investasi waktu yang akan menghemat 1-2 tahun hidup lo!
Bab 2: Strategi "P"
(Pendidikan & Pengajaran) - Jangan Dianggap Sepele!
Banyak dosen mikir, "Ah, ngajar mah
rutinitas, yang penting masuk." BIG MISTAKE! Unsur P ini pondasi dan
biasanya punya porsi besar, terutama di jenjang awal.
Cara Maksimalkan Poin
P:
1.
Bikin Bahan Ajar yang
"WOW": Jangan kasih slide PPT jadul yang itu-itu aja. Bikin
diktat, modul, atau buku ajar. Poinnya lumayan!
2.
Inovasi Pembelajaran: Coba metode
team-based learning, project-based learning, atau flipped classroom.
Lalu, DOKUMENTASIKAN! Buat
laporan inovasi metode pembelajaran. Ini jadi bahan bukti yang kuat.
3.
Membimbing Akademik
dengan Serius: Bimbingan KKN, skripsi, tesis, disertasi itu poin emas.
Tapi jangan asal tandatangan. Bimbing dengan intensif dan buat logbook
bimbingan.
4.
Ikuti Pelatihan &
Workshop Pengajaran: Seminar tentang pedagogi atau workshop online teaching itu
nambah poin dan skill.
Ilustrasi:
Ibu Sari, dosen muda, setiap semester selalu bereksperimen dengan satu metode
pengajaran baru. Semester ini dia coba "Flipped Classroom" untuk
matakuliahnya. Dia rekam penjelasan teorinya dalam video singkat, lalu di kelas
diskusi kasus. Hasilnya, selain mahasiswa lebih aktif, dia juga punya bahan
buat laporan inovasi pembelajaran yang nambah poin KUM-nya.
Kunci Bab 2: Mengajar jangan
jadi robot. Jadikan setiap aktivitas mengajar sebagai bahan untuk portofolio
kenaikan jabatan.
Bab 3: Strategi "R"
(Penelitian & Karya Ilmiah) - Si Raja Poin!
Ini adalah mesin pembuat poin terbesar.
Tapi ingat, yang dibutuhkan adalah KUALITAS
dan KONTINUITAS, bukan cuma kuantitas.
Roadmap Penelitian yang
Cerdas:
1.
Buat Peta Penelitian
(Research Roadmap): Jangan loncat-loncat topik! Pilih satu bidang keahlian,
lalu kembangkan secara bertahap dari tahun ke tahun. Misal: tahun 1-2 fokus
pada metode A, tahun 3-4 kembangkan dengan variabel B, dst. Ini bikin penelitianmu
terdalam dan memudahkan dapat hibah.
2.
Publikasi Berjenjang: Jangan langsung
mematok target jurnal Q1. Mulailah dengan strategi yang realistis:
o Tahap 1: Publikasi di Prosiding Seminar (poin kecil, tapi proses
cepat).
o Tahap 2: Naik level ke Jurnal Nasional Terakreditasi SINTA 3 atau 4.
o Tahap 3: Bidik Jurnal Internasional bereputasi (Scopus Q3/Q4).
o Tahap 4: Level dewa, bidik Scopus Q1/Q2 atau jurnal
internasional terindeks Web
of Science.
3.
Manfaatkan Hibah
Penelitian: Dapatkan hibah internal kampus dulu, lalu naik ke hibah
eksternal seperti DRTPM
(Kemdikbud), LPDP, atau BRIN. Hibah ini bukan cuma buat
dana, tapi juga nambah poin prestasi dan nilai di mata reviewer jabatan.
4.
Kolaborasi!: Jangan jago
kandang. Ajak kolaborasi dosen senior di kampus sendiri, atau peneliti dari
kampus lain (bahkan luar negeri). Kolaborasi mempercepat proses dan
meningkatkan kualitas.
Ilustrasi:
Pak Andi punya roadmap penelitian tentang "Pembelajaran Bahasa Inggris
untuk Anak Disleksia."
·
Tahun 1: Publikasi di prosiding tentang
studi literatur.
·
Tahun 2: Dapat hibah internal, penelitian
kecil, publikasi di SINTA 4.
·
Tahun 3: Kolaborasi dengan psikolog,
penelitian lebih dalam, publikasi di Scopus Q4.
·
Tahun 4: Dapat hibah DRTPM, publikasi di
Scopus Q3.
Dia naik jabatan dengan lancar karena penelitiannya terukur dan berkelanjutan.
Kunci Bab 3: Konsisten di satu
alur penelitian itu seperti investasi—hasilnya akan terlihat dalam 3-4 tahun
dan jauh lebih manis.
Bab 4: Strategi "M"
(Pengabdian Masyarakat) - Jangan Cuma Jadi Pemerhati!
Pengabdian masyarakat itu bukan sekadar
"turun gunung" foto-foto lalu lapor. Kuncinya adalah KEBERLANJUTAN dan DAMPAK.
Gimana Biar Pengabdian
Masyarakat Bermakna dan Berpoin:
1.
Integrasikan dengan
Penelitian: Ini jurus sakti! Jadikan masyarakat sebagai objek penelitian
sekaligus penerima manfaat. Misal: penelitian lo tentang pupuk organik,
sekalian buat program pengabdian untuk melatih petani membuat pupuk organik.
2.
Buat Program
Berkelanjutan: Jangan cuma sekali datang. Buat program jangka panjang.
Misal: "Desa Binaan" selama 3 tahun. Poinnya lebih besar dan
dampaknya nyata.
3.
Output yang Terukur: Hasil pengabdian
jangan cuma laporan. Buat video dokumentasi, artikel di media massa, modul
untuk masyarakat, atau produk yang bisa dimanfaatkan (seperti alat pertanian sederhana).
4.
Libatkan Mahasiswa: Ajak mahasiswa
KKN atau PKL ikut serta. Ini sekaligus membimbing mereka.
Ilustrasi:
Tim dosen dari Teknik Sipil punya penelitian tentang beton ramah lingkungan.
Mereka melakukan pengabdian dengan melatih karang taruna di desa untuk membuat
paving block dari limbah plastik. Hasilnya, selain publikasi jurnal dari
penelitiannya, mereka juga punya laporan pengabdian masyarakat dengan dampak
sosial-ekonomi yang jelas. Dua poin sekaligus!
Kunci Bab 4: Pengabdian
masyarakat adalah bukti bahwa ilmu yang lo kembangkan di kampus bermanfaat
untuk masyarakat luas.
Bab 5: Strategi Manajemen
Waktu & Administrasi - Si Pembunuh Diam-diam
Banyak dosen yang secara ilmu dan karya
udah mumpuni, tapi TERTUNDA naik jabatannya karena MASALAH ADMINISTRASI.
Tips Hindari Jebakan
Administratif:
1.
Dokumentasi Real-Time: Jangan nunggu mau
ngajukan baru cari-cari bukti. Siapkan folder (fisik dan digital) untuk setiap
unsur: Sertifikat mengajar, sertifikat seminar, surat tugas, bukti bimbingan,
draft naskah, dll.
2.
Gunakan Tools Manajemen
Referensi: Seperti Mendeley atau Zotero. Biar daftar publikasi dan
sitasi rapi dan gampang dilacak.
3.
Buat Timeline Pribadi: Tentukan target
kapan lo mau naik jabatan. Misal: "Target naik ke Lektor dalam 3
tahun." Lalu break down: Tahun 1 harus punya apa, Tahun 2 harus selesai
apa.
4.
Rajin Konsultasi dengan
PPK (Pejabat Pembina Kepegawaian): Mereka tahu seluk-beluk proses
penilaian. Tanyakan progress dan kendala yang lo alami.
Kunci Bab 5: Kerapian
administratif adalah 30% dari kesuksesan naik jabatan. Jangan diabaikan!
Bab 6: Mindset &
Mentalitas - Jangan Sampai Kena "Academic Burnout"
Naik jabatan itu marathon, bukan sprint.
Butuh mental yang kuat dan strategi jaga semangat.
1.
Cari Komunitas yang
Supportif: Bergabung dengan kelompok dosen muda atau komunitas
penelitian. Saling support, berbagi info lowongan hibah, dan saling
mengingatkan deadline.
2.
Celebrate Small Wins: Berhasil
publikasi di jurnal SINTA? Rayakan! Dapat hibah internal? Rayakan! Ini buat
menjaga semangat.
3.
Jaga Keseimbangan
Hidup: Jangan sampai karena kejar poin, keluarga dan kesehatan
terbengkalai. Atur prioritas.
4.
Ingat Tujuan Awal: Lo jadi dosen
untuk mencerdaskan anak bangsa, bukan cuma numpuk poin. Jadikan naik jabatan
sebagai konsekuensi, bukan satu-satunya tujuan.
Penutup: Konsistensi adalah
Kunci Raja
Naik jabatan fungsional akademik itu
seperti menanam pohon. Butuh proses, tidak bisa instan. Tidak ada jalan pintas
yang legal dan terhormat.
Strategi terbaik adalah:
·
Pahami aturan main.
·
Buat roadmap yang jelas
untuk P, R, dan M.
·
Jalankan dengan
konsisten dan integritas tinggi.
·
Jaga semangat dan
kolaborasi.
Yang paling penting, nikmati prosesnya.
Karena di balik semua perjuangan naik jabatan itu, yang terpenting adalah kita
menjadi akademisi
yang semakin berkualitas dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi
mahasiswa, ilmu pengetahuan, dan masyarakat.
So, sudah siap menyusun
strategi naik jabatanmu? Semoga dari Asisten Ahli ke Guru Besar perjalanannya
mulus dan penuh makna! Semangat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar