Halo para pejuang kampus! Kalau lo seorang
dosen, pasti nggak asing dengan yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ibaratnya,
ini adalah tiga "anak" yang harus lo urus bareng: si sulung Pendidikan & Pengajaran,
si tengah Penelitian,
dan si bungsu Pengabdian
kepada Masyarakat.
Masalahnya, tiga anak ini sering banget
rebutan perhatian. Si sulung cerewet minta diajarin, si tengah manja butuh
waktu lama buat penelitian, si bungsu paling sering keteteran karena dianggap
"tambahan". Hasilnya? Banyak dosen yang merasa kayak badut sirkus yang lagi muterin
piring-piring—takut ada yang jatuh dan pecah!
Nah, artikel ini bakal bahas gimana
caranya jadi "pemain sirkus" yang elegan, yang bisa muterin tiga
piring ini dengan gaya, tanpa harus stres sampai jerawatan. Kita bakal kupas
strategi praktis dengan gaya santai plus contoh yang relatable. Yuk, cari tau
rahasianya!
Bab 1: Kenali Dulu
"Kepribadian" Tiga Anak Ini
Sebelum kita seimbangin, kita musti paham
dulu sifat masing-masing dharma.
1. Si Sulung:
Pendidikan & Pengajaran
·
Sifatnya: Cerewet dan haus
perhatian. Butuh waktu yang TERJADWAL dan KONSISTEN. Nggak bisa diabaikan,
karena kalau nggak, mahasiswa demo, nilai telat masuk, dan reputasi mengajar lo
anjlok.
·
Bentuknya: Mengajar di
kelas, bimbingan skripsi/tesis, bikin modul, evaluasi pembelajaran.
2. Si Tengah:
Penelitian
·
Sifatnya: Pendiam tapi
demanding. Butuh waktu yang DALAM dan FOKUS. Nggak bisa dicicil 5 menit sekali.
Butuh flow yang nggak boleh sering terinterupsi.
·
Bentuknya: Menulis proposal,
ngumpulin data, analisis, publikasi jurnal, presentasi di konferensi.
3. Si Bungsu:
Pengabdian kepada Masyarakat
·
Sifatnya: Fleksibel tapi
sering dianggap remeh. Padahal, dia yang bikin ilmu lo nggak melangit doang.
Butuh perencanaan yang MATANG.
·
Bentuknya: Pelatihan untuk
masyarakat, pendampingan UMKM, konsultasi gratis, karya pengabdian.
Ilustrasi:
Bayangkan Pak Andi, dosen muda yang idealis. Dia ngajar 4 matakuliah (si
sulung), dibebani target publikasi 2 jurnal setahun (si tengah), dan dikasih
tanggung jawab pengabdian masyarakat di desa (si bungsu). Dalam seminggu, dia
kayak orang kebingungan: Senin-Rabu fokus ngajar, Kamis-Jumat buru-buru riset,
Sabtu-Minggu ke desa untuk pengabdian. Hasilnya? Tiga-tiganya mediocre. Ngajarnya
kurang persiapan, penelitiannya asal jadi, pengabdiannya sekadar pencitraan.
Burnout!
Kunci Bab 1: Sadari bahwa
masing-masing dharma punya karakter dan kebutuhan waktu yang berbeda. Treat
them differently!
Bab 2: Strategi Integrasi -
Jurus Sakti "Kill Two Birds with One Stone"
Inilah seni sebenarnya! Daripada ngelakuin
tiga hal secara terpisah, kenapa nggak diintegrasikan?
Contoh Integrasi yang
Brilliant:
Skema 1: Penelitian →
Pengabdian Masyarakat
·
Langkah 1: Lo penelitian
tentang "Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong jadi Pakan Ternak" (dharma
2).
·
Langkah 2: Hasil penelitian
lo pakai buat program pengabdian: latih ibu-ibu PKK buat bikin pakan ternak
dari limbah itu (dharma 3).
·
Bonus: Lo bisa sekalian
libatin mahasiswa KKN buat bantu program ini (sebagian dari dharma 1).
Skema 2: Pengabdian
Masyarakat → Penelitian
·
Langkah 1: Lo ngabdi di
desa, nemuin masalah sampah plastik yang parah (dharma 3).
·
Langkah 2: Lo jadikan
masalah itu sebagai topik penelitian: "Strategi Pengelolaan Sampah Plastik
Berbasis Komunitas" (dharma 2).
·
Langkah 3: Lo ajak mahasiswa
skripsi ikut penelitian ini (dharma 1).
Skema 3: Pendidikan →
Penelitian
·
Langkah 1: Lo ngajar
matakuliah metodologi penelitian (dharma 1).
·
Langkah 2: Tugas akhir
mahasiswa lo arahkan ke topik yang relevan dengan riset lo.
·
Langkah 3: Data dari tugas
mahasiswa bisa lo pakai sebagai data preliminary buat penelitian lo yang lebih
besar (dharma 2).
Ilustrasi Nyata:
Ibu Sari, dosen Teknologi Pangan, punya penelitian tentang inovasi selai dari
buah lokal. Daripada penelitiannya berakhir di jurnal doang, dia:
1.
Integrasi dengan
Pengajaran: Mahasiswanya diajak praktikum bikin selai ini.
2.
Integrasi dengan
Pengabdian: Dia latih para ibu rumah tangga buat produksi dan jual
selai ini, jadi sumber penghasilan tambahan.
3.
Integrasi dengan
Penelitian: Dia terus kembangkan resepnya dan publikasi hasilnya.
Dengan satu topik, tiga dharma jalan!
Efisiensi level dewa.
Kunci Bab 2: Jangan berpikir
linear. Pikirkan siklus yang saling terhubung. Cari "common ground"
dari ketiga dharma.
Bab 3: Strategi Time Blocking
- Jangan Ditumpuk, Dipilah!
Ini adalah strategi praktis buat ngatur
waktu. Kuncinya: BEKERJA
DENGAN FOKUS, BUKAN BEKERJA LAMA.
Cara Menerapkannya:
1. Time Blocking
Mingguan:
·
Blok Hijau
(Pendidikan): 2-3 hari dalam seminggu khusus untuk ngajar, bimbingan,
dan persiapan mengajar. Di hari ini, lo fokus urus mahasiswa dan kelas. Jauhkan
diri dari urusan penelitian.
·
Blok Merah
(Penelitian): 2 hari khusus untuk penelitian. Di hari ini, lo tutup
email pengajaran, nggak terima bimbingan (kecuali darurat), fokus nulis,
analisis data, atau baca jurnal.
·
Blok Biru (Pengabdian): 1 hari atau
beberapa jam di akhir pekan untuk urusan pengabdian. Karena pengabdian biasanya
lebih fleksibel.
2. Time Blocking Harian
(Pomodoro Technique):
·
Kerja fokus 25 menit, istirahat 5 menit.
·
Kalau ada tugas administratif kecil (balas
email, koreksi tugas kecil), masukin di slot istirahat.
Ilustrasi:
Jadwal Pak Andi setelah pake time blocking:
·
Senin & Selasa
(Hijau): Ngajar, bimbingan skripsi, rapat jurusan.
·
Rabu & Kamis
(Merah): Nulis artikel jurnal, analisis data, submit proposal
hibah. No teaching!
·
Jumat (Campuran): Pagi buat
persiapan mengajar minggu depan, siang buat urusan pengabdian.
·
Sabtu-Minggu: Keluarga dan diri
sendiri.
Hasilnya? Kerja lebih fokus, produktivitas
naik, stres berkurang.
Kunci Bab 3: Jadikan waktu
sebagai sekutu, bukan musuh. Dengan memblok waktu, lo memberi perhatian penuh
pada setiap dharma.
Bab 4: Strategi "Jangan
Jadi Superman" - Seni Mendelegasikan dan Berkolaborasi
Banyak dosen terjebak mentality
"semua harus aku yang kerjain". Hasilnya? Kelelahan dan hasilnya
nggak optimal.
1. Delegasi ke
Mahasiswa:
·
Libatkan mahasiswa dalam penelitian lo
sebagai asisten riset.
·
Ajak mahasiswa KKN atau PKL membantu
program pengabdian masyarakat.
·
Ini bukan eksploitasi, tapi bagian dari
proses pendidikan mereka.
2. Kolaborasi dengan
Rekan:
·
Bentuk tim penelitian dengan dosen lain
yang punya minat serupa. Bagi tugas sesuai keahlian.
·
Untuk pengabdian masyarakat, kolaborasi
dengan lintas jurusan. Misal: dosen teknik ngurus alatnya, dosen ekonomi ngurus
pemasaran, dosen komunikasi ngurus publikasinya.
3. Manfaatkan
Teknologi:
·
Gunakan LMS (Learning Management System)
seperti Moodle atau Google Classroom untuk otomatisasi bagian dari pengajaran
(kumpul tugas, kuis).
·
Gunakan tools manajemen referensi seperti
Mendeley untuk mempercepat penulisan penelitian.
Kunci Bab 4: Lo nggak harus
jadi pahlawan yang membawa segalanya sendiri. Bangun tim dan manfaatkan sumber
daya yang ada.
Bab 5: Strategi "Kualitas
over Kuantitas" - Jangan Asal Ceklis!
Dalam mengejar angka kredit, banyak dosen
terjebak pada kuantitas: publikasi di jurnal abal-abal, pengabdian asal ada
laporannya. Ini strategi yang keliru dalam jangka panjang.
Prinsipnya:
·
Satu penelitian
berkualitas yang terintegrasi dengan pengabdian, lebih baik
daripada tiga
penelitian asal jadi yang nggak jelas manfaatnya.
·
Satu program pengabdian
berkelanjutan yang berdampak nyata, lebih baik daripada lima program sekali datang.
·
Satu inovasi
pembelajaran yang benar-benar diuji dan didokumentasikan dengan baik,
lebih baik daripada gonta-ganti
metode tanpa evaluasi.
Kunci Bab 5: Fokus pada karya
yang meaningful. Kualitas akan berbicara lebih keras, dan biasanya kuantitas
akan mengikuti dengan sendirinya.
Bab 6: Strategi Jaga Diri
Sendiri - Karena Dosen juga Manusia
Ini yang paling sering dilupakan. Lo nggak
bisa ngasih yang terbaik kalau diri lo sendiri sudah kehabisan energi.
Tipsnya:
1.
Set Boundaries: Jangan jawab
email kerja di luar jam kerja. Luangkan waktu untuk keluarga dan hobi.
2.
Physical Health: Olahraga teratur,
makan sehat. Pikiran yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat.
3.
Mental Health: Jangan
banding-bandingkan pencapaian lo dengan dosen lain. Setiap orang punya
journey-nya sendiri.
4.
Refleksi Berkala: Setiap 6 bulan,
evaluasi: Apakah tiga dharma ini sudah seimbang? Apa yang perlu disesuaikan?
Penutup: Keseimbangan itu
Dinamis, Bukan Statis
Menyeimbangkan Tri Dharma itu kayak naik
sepeda. Lo nggak akan pernah benar-benar diam dan seimbang sempurna. Yang ada,
lo terus mengayuh dan melakukan penyesuaian kecil agar tetap stabil.
Terkadang, di satu periode, penelitian
akan lebih dominan (misal lagi mau submit disertasi atau hibah besar). Di periode
lain, pengajaran yang lebih banyak (misal jadi ketua kurikulum). Itu wajar!
Yang penting adalah:
·
Punya awareness tentang kondisi
ketiganya.
·
Punya strategi untuk
mengintegrasikannya.
·
Punya kemauan untuk
menyesuaikan ketika ada yang tidak seimbang.
Jadi, stop jadi badut yang kebingungan
muterin piring. Mulai jadi conductor yang piawai memimpin orkestra tiga
instrumen ini. Dengan perencanaan, integrasi, dan manajemen diri yang baik, lo
bisa menjalankan Tri Dharma bukan sebagai beban, tapi sebagai simfoni karir
akademik yang indah.
Selamat mencari harmoni
dalam peran muliamu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar