Mengenal Lebih Dalam Dunia Reviewer Jurnal: Penjaga Mutu Ilmu Pengetahuan


Kalau kamu seorang dosen atau peneliti, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah reviewer jurnal.
Tapi, jujur saja, berapa banyak dari kita yang benar-benar memahami apa yang dilakukan seorang reviewer di balik layar?

Kadang reviewer dianggap “penyebab stres” karena ulasan mereka bisa membuat artikel ditolak, direvisi besar-besaran, atau bahkan dibatalkan. Tapi di sisi lain, merekalah penjaga mutu ilmu pengetahuan yang memastikan hasil riset kita benar-benar layak diterbitkan.

Nah, lewat artikel ini, mari kita kenali lebih dalam dunia reviewer jurnal — siapa mereka, bagaimana cara kerjanya, dan apa yang bisa kita pelajari dari profesi ini.
Kita bahas dengan gaya santai, tanpa terlalu kaku, biar dunia “peer review” yang biasanya tegang itu terasa lebih manusiawi.

 

1. Siapa Sebenarnya Reviewer Jurnal Itu?

Secara sederhana, reviewer jurnal adalah rekan sejawat akademik (peer) yang diminta oleh editor jurnal untuk menilai kualitas, keaslian, dan kelayakan sebuah naskah sebelum diterbitkan.
Proses ini disebut peer review — dari kata peer (rekan sejawat) dan review (meninjau ulang).

Reviewer biasanya adalah dosen, peneliti, atau pakar di bidang yang relevan dengan topik artikel tersebut.
Mereka bukan musuh penulis, tapi lebih seperti teman kritis yang membantu memperbaiki kualitas karya ilmiah.

Analogi sederhana:
Bayangkan kamu seorang chef yang baru menciptakan resep baru. Sebelum menyajikannya ke publik, kamu meminta chef lain mencicipi dulu, memberi masukan soal rasa, tampilan, dan keseimbangan bumbu.
Nah, reviewer jurnal itu ibarat “chef penilai” di dunia ilmiah.

 

2. Mengapa Review Jurnal Itu Penting?

Bayangkan kalau semua hasil penelitian bisa diterbitkan tanpa disaring dulu.
Pasti banyak temuan yang salah, data yang tidak akurat, atau kesimpulan yang menyesatkan beredar luas.

Di sinilah fungsi reviewer menjadi filter utama.
Mereka memastikan bahwa setiap artikel yang terbit:

·         Berdasarkan metodologi yang benar,

·         Mengandung kontribusi ilmiah yang jelas,

·         Dan disajikan secara etis serta transparan.

Dengan kata lain, reviewer adalah “quality control”-nya ilmu pengetahuan.
Mereka bekerja di balik layar, tanpa bayaran, hanya demi menjaga integritas akademik.

🎯 Faktanya:
Sebagian besar reviewer bekerja secara sukarela. Mereka tidak dibayar, tapi melakukannya sebagai bentuk kontribusi ilmiah dan pengabdian pada komunitas akademik.
Jadi, kalau suatu hari artikelmu direvisi panjang oleh reviewer — jangan marah dulu. Itu tanda mereka peduli!

 

3. Proses Review Itu Seperti Apa Sih?

Proses review bisa berbeda antara jurnal satu dengan lainnya, tapi umumnya mengikuti pola seperti ini:

1.      Editor menerima naskah.
Editor akan melakukan screening awal: apakah artikel sesuai fokus jurnal dan memenuhi kriteria dasar.

2.      Menunjuk reviewer.
Biasanya 2–3 orang reviewer dipilih berdasarkan bidang keahlian.

3.      Reviewer membaca dan menilai.
Mereka akan menilai aspek-aspek seperti:

o    Kebaruan topik

o    Ketepatan metode

o    Kualitas data

o    Konsistensi hasil dan kesimpulan

o    Gaya penulisan dan struktur artikel

4.      Memberi rekomendasi.
Reviewer biasanya memberi salah satu dari empat keputusan:

o    Diterima tanpa revisi (jarang banget 😅)

o    Revisi kecil (minor revision)

o    Revisi besar (major revision)

o    Ditolak (rejected)

5.      Penulis memperbaiki.
Artikel dikembalikan ke penulis untuk direvisi sesuai masukan reviewer.

6.      Final decision.
Setelah revisi, editor memutuskan apakah naskah diterima untuk publikasi atau tidak.

Ilustrasi lucu tapi nyata:
Reviewer: “Hasil penelitian bagus, tapi perlu perbaikan di bagian metode.”

Penulis: “Bagian metode sudah sempurna, saya hanya menambahkan 5 halaman pembelaan.”

Akhirnya? Direvisi lagi. 😄

 

4. Jenis-Jenis Peer Review: Tidak Semuanya Sama

Tahukah kamu, ada beberapa jenis peer review yang digunakan jurnal akademik?
Masing-masing punya sistem penilaian dan tingkat transparansi berbeda.

Jenis Review

Ciri Utama

Kelebihan

Kekurangan

Single-blind

Reviewer tahu identitas penulis, tapi penulis tidak tahu siapa reviewernya.

Reviewer bebas memberi kritik.

Bisa bias terhadap institusi atau nama besar.

Double-blind

Keduanya tidak saling tahu identitas.

Lebih objektif.

Kadang reviewer bisa menebak identitas penulis dari gaya tulis atau topik.

Open review

Semua pihak tahu identitas masing-masing.

Transparan dan akuntabel.

Reviewer bisa sungkan memberi kritik tajam.

Catatan menarik:
Banyak jurnal internasional sekarang mulai beralih ke open review untuk meningkatkan transparansi dan mengurangi bias.
Bahkan ada yang mempublikasikan komentar reviewer bersamaan dengan artikelnya!

 

5. Tugas dan Etika Reviewer: Antara Objektif dan Empati

Reviewer bukan hakim, tapi juga bukan cheerleader.
Tugas mereka adalah memberi masukan objektif dan konstruktif.

Etika utama seorang reviewer meliputi:

·         Menilai berdasarkan isi, bukan nama atau institusi.

·         Menjaga kerahasiaan naskah.

·         Tidak menggunakan ide penulis untuk kepentingan pribadi.

·         Menyampaikan kritik dengan sopan dan jelas.

Contoh komentar baik:
“Analisis data sudah kuat, namun bagian pembahasan bisa diperluas dengan mengaitkan temuan dengan teori X.”

Contoh komentar buruk:
“Tulisan ini membosankan, tidak layak diterbitkan.”

💬 Pelajaran untuk penulis:
Reviewer yang baik tidak menghancurkan, tapi membangun.
Kalau kamu menerima komentar pedas, anggap saja itu vitamin akademik — terasa pahit, tapi menyehatkan.

 

6. Menjadi Reviewer: Bukan Sekadar Gelar, Tapi Pengakuan

Banyak dosen ingin menjadi reviewer, tapi tidak tahu bagaimana memulainya.
Padahal, menjadi reviewer adalah bukti pengakuan profesional — artinya kamu diakui punya keahlian di bidang tertentu.

Biasanya, kamu bisa jadi reviewer dengan beberapa cara:

1.      Diundang langsung oleh editor (karena melihat publikasimu di bidang relevan).

2.      Mendaftar di situs jurnal atau penerbit besar, seperti Elsevier, Springer, Taylor & Francis, atau DOAJ.

3.      Melalui rekomendasi kolega yang sudah menjadi reviewer.

Contoh nyata:
Misalnya kamu punya beberapa artikel di bidang education technology yang terindeks Scopus.
Editor jurnal “TechEdu Journal” mungkin akan mengundangmu menjadi reviewer karena kesesuaian bidang.

Setelah beberapa kali mereview, kamu bahkan bisa mendapatkan sertifikat reviewer, yang berguna untuk rekam jejak akademik dan poin BKD.

🎓 Fun fact:
Ada juga platform seperti Publons (sekarang bagian dari Web of Science) yang memungkinkan kamu mencatat aktivitas review dan mendapatkan pengakuan internasional.

 

7. Tantangan Jadi Reviewer: Antara Ideal dan Realita

Meski terhormat, tugas reviewer bukan tanpa tantangan.
Beberapa hal yang sering terjadi di lapangan:

·         Beban kerja tinggi: Banyak naskah datang bersamaan.

·         Waktu terbatas: Reviewer juga punya kewajiban mengajar, meneliti, dan menulis.

·         Tekanan moral: Menolak naskah teman sendiri itu tidak enak 😅.

·         Masalah etika: Kadang reviewer tidak objektif, atau justru terlalu “kejam” dalam menilai.

Ilustrasi:
Seorang reviewer pernah menerima 5 artikel dalam satu bulan.
Semua topiknya menarik, tapi waktunya mepet dengan deadline proposal hibah.

Akhirnya ia begadang seminggu penuh — dan ketika hasil review dikirim, masih saja ada penulis yang protes.
“Reviewer tidak paham topik saya!” katanya.

Padahal, reviewer juga manusia, bukan robot Scopus.

 

8. Apa yang Bisa Dipelajari Penulis dari Reviewer?

Kalau kamu penulis artikel ilmiah, reviewer sebenarnya adalah guru tak langsung.
Dari komentar mereka, kamu bisa belajar banyak hal:

·         Cara menulis lebih jelas dan sistematis,

·         Kesalahan umum dalam metodologi,

·         Referensi yang belum kamu ketahui,

·         Bahkan peluang riset baru.

Kisah kecil:
Seorang dosen muda menulis artikel tentang “Kecerdasan Emosional Guru.”
Reviewer memberi komentar, “Coba tambahkan variabel burnout dan resilience agar modelnya lebih lengkap.”

Dosen itu mengubah arah risetnya — dan artikel hasil revisinya justru diterima di jurnal internasional bereputasi.

Jadi, jangan lihat review sebagai hukuman.
Lihatlah sebagai coaching akademik gratis.

 

9. Masa Depan Peer Review: Dulu Manual, Kini Digital

Dunia peer review kini juga ikut bertransformasi.
Kalau dulu semua dilakukan lewat email, sekarang hampir semua jurnal memakai sistem manajemen online seperti Editorial Manager, ScholarOne, atau OJS (Open Journal System).

Bahkan, sudah ada eksperimen menggunakan AI untuk membantu reviewer:

·         Mengecek kesesuaian topik,

·         Mendeteksi plagiarisme,

·         Memberi saran awal tentang kualitas metodologi.

Namun tentu saja, AI belum bisa menggantikan intuisi dan empati manusia.
Reviewer tetap dibutuhkan untuk membaca makna, konteks, dan kontribusi ilmiah secara menyeluruh.

 

10. Penutup: Reviewer, Penjaga Mutu yang Tak Terlihat

Kalau kamu membaca artikel di jurnal ilmiah hari ini, ingatlah — di balik setiap kalimat yang rapi itu ada kerja keras banyak orang: penulis, editor, dan tentu saja reviewer.

Mereka tidak menulis nama di halaman depan, tapi merekalah yang memastikan pengetahuan kita tumbuh dengan sehat.
Mereka bukan polisi akademik, melainkan arsitek kualitas riset.

Jadi, jika suatu hari kamu menerima review yang panjang, penuh catatan merah, dan terasa menyakitkan, ucapkanlah dalam hati:

“Terima kasih, reviewer. Kritikmu menyelamatkan reputasi ilmiahku.”

Dan siapa tahu, suatu hari kamu juga akan menjadi reviewer — membalas jasa dengan menjadi penjaga mutu untuk generasi peneliti berikutnya. 🌱

 

Kesimpulan singkat:

·         Reviewer jurnal = penjaga mutu riset.

·         Bekerja sukarela, tapi berperan vital dalam menjaga integritas akademik.

·         Kritik mereka bukan serangan, tapi bimbingan.

·         Siapa pun dosen/peneliti bisa jadi reviewer jika mau belajar dan berkontribusi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar