Halo para akademisi! Kalau kita bicara
tentang publikasi akademik, biasanya yang kepikiran adalah impact factor,
sitasi, dan poin KUM yang mentereng. Tapi ada satu hal yang sering banget
keteteran—seperti nasihat orang tua yang kita anggap remeh—padahal ini
adalah PONDASI dari
segalanya: ETIKA
PUBLIKASI.
Buat sebagian orang, etika itu terdengar
membosankan. Kayak aturan lalu lintas yang bikin gerah. Tapi percayalah,
melanggar etika dalam publikasi akademik itu seperti membangun rumah di atas
tanah longsor. Sekali saja longsor, habislah segalanya: karir hancur, reputasi
runtuh, dan yang paling menyakitkan, kepercayaan orang lain musnah.
Nah, artikel ini akan bahas tuntas tentang
etika publikasi dengan gaya santai dan contoh yang ngena. Kita akan jelajahi
"dos and don'ts" yang wajib kamu tahu, plus konsekuensi mengerikan
kalau sampai melanggarnya. Siap? Yuk, kita main aman!
Bab 1: PLAGIARISME - Si
Pencuri Gagasan yang Bikin Karir Ancur!
Ini adalah "dosa besar" nomor
satu. Plagiarisme bukan cuma copy-paste mentah-mentah. Dia punya banyak wajah,
dan beberapa di antaranya licin banget!
Apa Saja Sih yang
Termasuk Plagiarisme?
·
Copy-Paste Tanpa
Kutipan: Yang ini jelas-jelas maling. Mengambil kalimat atau
paragraf orang lain tanpa tanda kutip dan tanpa menyebut sumber.
·
Parafrase "Ala
Kadarnya": Mengubah beberapa kata dalam kalimat orang lain tapi
struktur dan ide utamanya tetap sama, tanpa menyebut sumber. Ini seperti mengecat
ulang motor curian—tetap aja motor curian!
·
Plagiarisme Diri
Sendiri (Self-Plagiarism): WAHAI, INI SERING BANGET TIDAK DISADARI! Memublikasikan
ulang karya sendiri yang sudah pernah dipublikasi sebelumnya, tanpa memberi
tahu pembaca/penerbit. Iya, penelitianmu sendiri pun tidak boleh kamu
"daur ulang" begitu saja.
·
Ide Plagiarisme: Mengambil ide
orisinal orang lain tanpa memberikan kredit. Ini yang paling sulit dibuktikan,
tapi sangat berbahaya.
Ilustrasi: Bayangkan
Sari
Sari, seorang dosen muda, sedang menulis artikel jurnal. Dia menemukan paragraf
yang bagus banget dari jurnal lain. Daripada repot, dia copy-paste paragraf
itu, lalu mengubah beberapa kata sinonimnya (dari "important" jadi
"crucial", dari "method" jadi "approach"). Dia
pikir aman. Ternyata, reviewer yang jeli langsung tahu. Konsekuensinya? Artikel
langsung ditolak, dan namanya bisa masuk daftar hitam di jurnal tersebut.
Gara-gara malas 30 menit, kerja berbulan-bulan hangus.
Cara Hindari
Plagiarisme:
1.
Selalu, Selalu, Selalu
Sitasi! Jika ragu, sitasi saja. Lebih baik kelebihan sitasi
daripada kekurangan.
2.
Gunakan Tools
Plagiarism Checker: Turnitin, iThenticate, atau yang gratis seperti Plagiarism
Checker X. Ini adalah "kaca spion"mu.
3.
Kalau Mau Kutip
Langsung, PAKAI TANDA KUTIP. Dan jangan lupa sitasi.
4.
Parafrase yang Benar: Baca sumber
aslinya, pahami, tutup bukunya, lalu tulis ulang dengan gaya bahasamu SENDIRI.
Baru setelah itu, beri sitasi. Bukan sekadar ganti kata.
Kunci Bab 1: Jadilah penulis
yang jujur. Orisinilitas adalah mata uang utamamu di dunia akademik.
Bab 2: AUTHORSHIP - Drama
Pembagian Job dan Gengsi
Pertanyaan sederhana yang sering bikin
ribet: "Siapa yang berhak jadi penulis?" dan "Urutannya
gimana?". Banyak pertemanan dan hubungan atasan-bawahan yang retak karena
masalah ini.
Kriteria Penulis yang
Etis:
Seseorang layak jadi penulis jika dia memberikan kontribusi SIGNIFIKAN dalam:
(1) perancangan penelitian, (2) pengumpulan/analisis data, (3) penulisan naskah
atau revisi kritis, DAN (4) menyetujui versi final yang akan dipublikasi.
Siapa Saja yang BUKAN
Penulis?
·
Guest/Gift Authorship: Atasan yang cuma
kasih "nama" doang tanpa kontribusi nyata. Atau temen yang diajak
"numpang" biar keliatan keren.
·
Ghost Authorship: Orang yang
kontribusinya besar (misal asisten penelitian yang analisis datanya) tapi
namanya sengaja dihilangkan.
Ilustrasi: Drama di Lab
Kampus
Bayangkan sebuah tim penelitian yang terdiri dari Prof. Budi (kepala lab), Dr.
Ani (peneliti madya), dan Raka (mahasiswa S2). Raka yang melakukan eksperimen
dan analisis data 90%. Dr. Ani yang menulis naskah hampir seluruhnya. Prof.
Budi hanya datang seminggu sekali dan bertanya "Gimana progresnya?".
Saat naskah mau submit, Prof. Budi memasukkan namanya sebagai penulis pertama,
sedangkan Raka dicoret karena "masih mahasiswa". Ini adalah contoh
NYATA pelanggaran etika yang parah!
Solusi untuk
Menghindari Drama:
·
Diskusikan Authorhip di
AWAL Proyek. Jangan tunggu sampai naskah selesai.
·
Gunakan CRediT
(Contributor Roles Taxonomy): Sistem yang mendefinisikan peran secara detail (contoh: conceptualization,
methodology, formal analysis, writing - original draft, dll). Ini membuat
pembagian peran jadi jelas.
·
Komunikasi Terbuka. Jika merasa hakmu
dirampas, bicaralah dengan baik-baik (meski sulit).
Kunci Bab 2: Authorship adalah
tentang kontribusi, bukan gengsi atau jabatan. Berani berkata tidak untuk
"guest authorship".
Bab 3: DUPLIKASI dan SALAMI
SLICING - Muslihat yang Mematikan
Dua jebakan berikutnya yang sering
menjerat dosen yang kepepet target publikasi.
·
Duplikasi (Duplicate
Publication/Publisikasi Ganda): Memublikasikan naskah yang SAMA PERSIS (atau hampir sama)
di dua atau lebih jurnal yang berbeda. Ini ibarat menjual satu rumah ke dua
pembeli. Sangat tidak etis!
·
Salami Slicing
(Pemotongan Salam): Memotong-motong satu penelitian besar menjadi beberapa
artikel tipis-tipis untuk digelontorkan ke banyak jurnal. Misalnya, satu
dataset besar sengaja dipilah-pilah berdasarkan variabel tertentu lalu dibuat
jadi 5 artikel. Ini mengurangi nilai ilmiah dan membohongi komunitas.
Ilustrasi: Kasus Si Penjual
Sate
Andaikan seorang peneliti punya dataset lengkap tentang "Faktor yang
Mempengaruhi Prestasi Siswa SMP di Jawa" (faktor ekonomi, guru, orang tua,
fasilitas, dll). Daripada membuat satu artikel komprehensif, dia
memotong-motongnya:
·
Artikel 1: Hanya bahas faktor ekonomi.
·
Artikel 2: Hanya bahas faktor guru.
·
...dan seterusnya.
Kelima artikel ini menggunakan pendahuluan dan metodologi yang hampir sama,
hanya fokusnya yang dibedakan. Inilah salami slicing! Seharusnya, dia membuat
satu artikel kuat yang menganalisis semua faktor secara bersamaan.
Kapan Boleh Publikasi
Lebih dari Satu?
·
Jika penelitiannya memang sangat besar dan
masing-masing artikel menjawab pertanyaan penelitian yang BERBEDA dan
SIGNIFIKAN.
·
Selalu transparan: dalam naskah, sebutkan
bahwa ini adalah bagian dari proyek penelitian yang lebih besar.
Kunci Bab 3: Kualitas lebih
penting daripada kuantitas. Satu artikel berkualitas tinggi jauh lebih dihargai
daripada lima artikel "potongan".
Bab 4: CONFLICT OF INTEREST
(Benturan Kepentingan) - Hati-Hati dengan "Bantuan" yang Menjebak
Ini adalah situasi di mana keputusan
profesionalmu (sebagai peneliti atau reviewer) bisa dipengaruhi oleh
kepentingan pribadi (uang, hubungan, rivalitas, dll).
Contoh Benturan
Kepentingan:
·
Pendanaan: Penelitianmu didanai
oleh perusahaan A. Kamu menemukan hasil bahwa produk kompetitor perusahaan A
itu buruk. Apakah kamu akan memublikasikannya? Atau malah menyembunyikannya?
·
Hubungan Pribadi: Kamu mereview
naskah sainganmu di kampus. Apakah kamu akan objektif?
·
Hubungan Finansial: Kamu punya saham
di perusahaan yang produknya kamu teliti.
Mengapa Harus
Dideklarasikan?
Dengan mendeklarasikan Conflict of Interest (COI), kamu membangun transparansi.
Pembaca dan editor bisa menilai karyamu dengan konteks yang lengkap. Tidak ada
yang salah dengan COI, yang salah adalah MENYEMBUNYIKANNYA.
Kunci Bab 4: Kejujuran adalah
kebijakan terbaik. Selalu deklarasikan COI-mu, sekecil apapun itu.
Bab 5: ETIKA DALAM PENULISAN -
Jangan Jadi "Tukang Gosip" Akademik
Menulis penelitian juga punya etikanya
sendiri.
·
Fabrikasi dan
Falsifikasi Data: Ini adalah DOSA PALING BESAR. Fabrikasi = membuat-buat
data yang tidak ada. Falsifikasi = memanipulasi data asli. Dua-duanya adalah
tindak kriminal dalam sains. Ini seperti membangun menara di atas pasir hisap.
·
Kutip yang Benar: Jangan asal
kutip. Baca dulu artikel aslinya, jangan cuma baca abstraknya lalu sok tahu.
Kutipan yang salah konteks juga bisa menyesatkan.
·
Hindari Bahasa yang
Tidak Sopan: Meski kamu tidak setuju dengan peneliti lain, sampaikan
dengan argumen, bukan dengan emosi atau kata-kata menghina.
Penutup: Integritas adalah
Segalanya
Di dunia yang penuh dengan tekanan untuk
"terbit atau musnah" (publish or perish), godaan untuk mengambil
jalan pintas memang besar. Tapi ingatlah:
Karir akademik adalah marathon, bukan
sprint. Reputasi dibangun puluhan tahun, tapi bisa hancur dalam semalam karena
satu pelanggaran etika.
Jadilah peneliti yang tidak hanya pintar,
tetapi juga berintegritas. Yang tidak hanya mengejar impact factor, tetapi juga
memberikan impact yang positif bagi ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Mulai dari hal kecil: biasakan sitasi dengan benar,
diskusikan authorship sejak awal, tolak mentah-mentah ajakan untuk melakukan
kecurangan.
Dengan begitu, kamu
tidak hanya akan selamat dari "amicet-amit" pelanggaran etika, tetapi
juga bisa membangun karir yang kokoh, dihormati, dan membanggakan. Semangat
meneliti dengan jujur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar