Halo, para pejuang kampus yang baru saja
bertransformasi dari mahasiswa S3 yang lega menjadi dosen muda yang (agak)
bingung! Selamat ya, posisi baru sebagai dosen sudah di tangan. Gelar "Doctor"
melekat di nama, tugas mengajar mulai berjalan, eh tapi kok ada satu momok yang
bikin deg-degan: PENELITIAN.
Iya, kita tahu. Dulu waktu S3,
penelitian itu fokusnya menyelesaikan disertasi. Tapi sekarang, sebagai dosen,
penelitian adalah napas panjang yang harus terus ditiupkan. Bukan lagi untuk
sekadar lulus, tapi untuk pengembangan karir, kenaikan jabatan fungsional, dan
kontribusi ke ilmu pengetahuan. Bikin pusing tujuh keliling, kan?
Tenang! Artikel ini adalah
"obat" untuk kegalauanmu. Kita akan bahas step-by-step cara memulai
penelitian buat dosen pemula dengan gaya santai, plus contoh ilustrasi supaya
makin jelas. Siap? Yuk, kita mulai perjalanan dari zero to hero di
dunia penelitian!
Bab 1: Mental
Preparation – Ubah Mindset, Hilangkan Mental Block
Sebelum terjun ke hal teknis, yang
paling penting adalah mempersiapkan mental. Banyak dosen pemula terjebak dalam
beberapa pikiran negatif ini:
·
"Saya belum cukup pintar untuk
meneliti." -> Salah! Kamu sudah punya gelar Doktor, itu
bukti kamu mampu.
·
"Topik saya tidak akan menarik
perhatian orang." -> Jangan salah! Kadang justru
topik yang spesifik dan niche malah lebih punya nilai.
·
"Saya takut ditolak jurnal." -> Welcome to
the club! Ditolak jurnal adalah hal yang normal, bahkan bagi profesor
sekalipun. Itu bagian dari proses.
·
"Saya sibuk mengajar, tidak ada
waktu." -> Ini masalah manajemen waktu, bukan ketiadaan waktu.
Ilustrasi:
Bayangkan Budi, dosen baru Teknik Informatika. Dia merasa risetnya di S3
"biasa saja" dan takut tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baru.
Daripada diam, Budi memutuskan untuk menganggap penelitian sebagai "proyek
eksplorasi" saja dulu. Tidak usah muluk-muluk. Mindset-nya berubah dari
"harus menghasilkan karya monumental" menjadi "saya ingin
belajar dan mencoba sesuatu yang baru". Hasilnya? Beban di pikirannya jauh
lebih ringan.
Kunci Bab 1: Mulailah dengan
percaya diri. Anggap penelitian sebagai bagian dari proses belajar seumur
hidup, bukan beban.
Bab 2: Cari Bahan
Bakar: Memilih Topik yang "Nendang" dan Sustainable
Ini dia salah satu bagian tersulit:
menentukan topik. Jangan asal pilih! Topik yang baik adalah bahan bakar yang
akan membuat semangat penelitianmu tetap menyala.
A. Turunkan Level dari Disertasi
Disertasi S3-mu adalah harta karun. Tapi jangan langsung dijual mentah-mentah.
Ambil satu bagian kecil saja yang paling kamu minati atau yang masih menjadi
pertanyaan.
·
Contoh: Jika disertasimu
tentang "Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Pemilih Milenial di Jawa
Barat", kamu bisa mengambil bagian kecil seperti: "Analisis Framing
Berita Politik di Instagram pada Pemilu 2024" atau "Perbandingan
Efektivitas Campaign TikTok antara Partai A dan Partai B".
B. Ikuti "Zaman Now" dan Celah
yang Ada
Baca jurnal-jurnal terkini di bidangmu. Apa yang sedang tren? Apa hot
issue-nya? Identifikasi research gap (celah penelitian).
Biasanya, di bagian akhir artikel jurnal, penulis akan menuliskan saran untuk
penelitian selanjutnya. Itu adalah petunjuk berharga!
·
Contoh: Di bidang
Kedokteran, jika sedang tren penelitian tentang sel punca untuk penyakit
jantung, mungkin ada celah tentang pemanfaatan sel punca dari sumber yang belum
banyak diteliti. Di bidang Pendidikan, dengan maraknya AI seperti ChatGPT,
celah penelitiannya sangat luas: dampaknya terhadap kreativitas siswa, model
evaluasi yang efektif, dll.
C. Kolaborasi dengan Senior atau Rekan
Jangan malu untuk mendekati dosen senior atau rekan sejawat. Ajak mereka ngopi
dan curhat tentang minat penelitianmu. Mereka punya pengalaman dan jaringan
yang bisa membantumu. Siapa tahu mereka punya data lama yang bisa kamu olah
ulang dengan pendekatan baru, atau mengajakmu bergabung dalam proyek mereka.
D. Sesuaikan dengan Sumber Daya
Jangan dulu memimpikan penelitian yang membutuhkan lab super canggih dengan
dana miliaran rupiah jika kenyataannya tidak memungkinkan. Pilih topik
yang feasible. Apa yang bisa kamu lakukan dengan akses perpustakaan
kampus, software gratis, atau survei online?
Ilustrasi:
Sari, dosen baru Akuntansi, bingung mau meneliti apa. Dia lalu mengingat lagi
disertasinya tentang fraud detection. Dia melihat tren big
data dan AI. Akhirnya, dia memilih topik yang feasible:
"Rancangan Model Deteksi Kecurangan Keuangan Sektor UMKM Menggunakan
Algoritma Machine Learning Sederhana Berbasis Data Excel". Topiknya
spesifik, memanfaatkan keahlian lama, mengikuti tren, dan bisa dikerjakan
dengan software yang dia kuasai.
Kunci Bab 2: Pilih topik yang
spesifik, menarik bagimu, mengikuti perkembangan, dan bisa dikerjakan dengan
sumber daya yang ada.
Bab 3: Membaca itu
Wajib, Bukan Pilihan!
Ini kesalahan klasik: langsung ingin
terjun meneliti tanpa membaca yang cukup. Membaca literatur adalah pondasi.
Tanpanya, penelitianmu bisa jadi tidak original atau malah "re-inventing
the wheel" (menemukan kembali roda yang sudah ada).
·
Cara Efisien Membaca Jurnal:
1. Baca Judul dan Abstrak: Ini adalah filter pertama. Jika
tidak relevan, skip.
2. Loncat ke Kesimpulan: Untuk langsung tahu inti temuan
dan research gap-nya.
3. Baca Pendahuluan: Untuk memahami konteks dan peta
penelitian.
4. Lihat Metodologi: Baru baca detail jika metodologinya
menarik dan relevan dengan yang akan kamu lakukan.
·
Gunakan Tools Manajemen Referensi: Jangan andalkan
copy-paste! Gunakan tools seperti Mendeley atau Zotero.
Tools ini akan menyimpan, mengelola, dan membantumu membuat sitasi serta daftar
pustaka dengan mudah. Percayalah, ini adalah lifesaver!
Kunci Bab 3: Luangkan waktu
khusus hanya untuk membaca. 1-2 jam sehari membaca jurnal akan memberimu ide
dan landasan teori yang kuat.
Bab 4: Menulis
Proposal yang Menjual (dan Mendapat Dana!)
Setelah punya topik dan landasan teori,
saatnya menuangkannya dalam proposal penelitian. Proposal yang baik adalah yang
bisa "menjual" idemu kepada pihak lain, misalnya untuk mengajukan
dana hibah.
Struktur Proposal yang Baik:
1. Judul: Jelas, spesifik, dan mencerminkan isi penelitian.
2. Latar Belakang: Ceritakan mengapa penelitian ini
penting. Tunjukkan adanya masalah dan research gap. Ibaratnya, buat
pembaca merasa, "Wah, iya juga ya, ini perlu diteliti!"
3. Rumusan Masalah & Tujuan: Apa pertanyaan yang ingin dijawab
dan apa tujuannya? Tulis dengan kalimat tanya dan pernyataan yang operasional.
4. Tinjauan Pustaka: Tunjukkan bahwa kamu sudah paham
literatur terkini dan posisi penelitianmu dalam peta ilmu tersebut.
5. Metodologi: Ini jantungnya proposal. Jelaskan secara rinci:
jenis penelitian, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, dan metode
analisis data. Buat sejelas mungkin agar reviewer yakin kamu bisa melakukannya.
6. Rencana Anggaran & Jadwal: Realistis dan detail. Jangan
mengada-ada.
7. Output dan Luaran: Apa target akhirnya? Apakah jurnal
nasional terakreditasi? jurnal internasional? prosiding? prototype? Jelaskan
dengan pasti.
Ilustrasi:
Budi, si dosen Informatika, menulis proposal untuk skim hibah internal kampus.
Di bagian latar belakang, dia tidak hanya menulis "Penelitian tentang AI
penting," tapi dia menyajikan data: "Berdasarkan data, 60% UMKM
gulung tikar karena kesalahan prediksi keuangan. Penelitian ini mengusulkan
model AI sederhana yang dapat diakses UMKM dengan biaya murah..."
Proposalnya langsung punya "roh" dan nilai urgensi.
Kunci Bab 4: Tulis proposal
seolah-olah kamu sedang meyakinkan investor. Jelaskan dengan logis, jelas, dan
tunjukkan manfaatnya.
Bab 5: Eksekusi!
Jangan Takut Gagal
Proposal disetujui? Saatnya eksekusi!
Fase ini penuh dengan kejutan.
·
Kumpulkan Data dengan Disiplin: Apakah itu
wawancara, survei, atau eksperimen, lakukan dengan konsisten dan catat semuanya
dengan rapi.
·
Hadapi Kendala dengan Cerdik: Data tidak
sesuai harapan? Responden sedikit? Itu biasa! Jangan menyerah. Cari solusi:
ganti metode sampling, perbaiki kuesioner, atau diskusikan dengan kolega.
·
Analisis Data Perlahan: Pahami betul
alat analisis yang kamu gunakan. Jangan asal "klik" di software
statistik. Jika tidak paham, minta bantuan! Tidak ada dosa bertanya pada ahli
statistik di kampusmu.
Kunci Bab 5: Konsistensi dan
adaptasi adalah kunci. Penelitian adalah proses berliku, nikmati saja
perjalanannya.
Bab 6: Publikasi! Dari
"Laci" ke "Dunia"
Ini adalah tahap yang sering
dilupakan: PUBLIKASI. Hasil penelitian yang hanya disimpan di
laptop atau laci adalah sia-sia. Ilmu pengetahuan harus dibagikan.
·
Pilih Media yang Tepat:
o
Prosiding Seminar/Seminar: Cocok untuk
hasil penelitian awal. Prosesnya cepat, bisa dapat masukan.
o
Jurnal Nasional Terakreditasi (Sinta): Target utama
untuk memenuhi angka kredit. Pahami gaya selingkungnya.
o
Jurnal Internasional: Level
berikutnya. Butuh kualitas dan bahasa Inggris yang baik.
·
Jangan Takut Revisi dan Ditolak: Saat kamu dapat
komentar reviewer, jangan marah! Itu adalah masukan berharga (dan gratis!) untuk
memperbaiki karyamu. Perbaiki dengan sungguh-sungguh.
·
Collaborative Writing: Menulis bersama
dosen senior atau rekan bisa sangat membantu untuk belajar menulis dengan
standar yang lebih tinggi.
Ilustrasi:
Sari, setelah selesai penelitiannya, sempat ditolak 2 kali oleh jurnal.
Reviewer memberinya komentar panjang. Awalnya sedih, tapi kemudian dia melihat
komentar itu sebagai "panduan memperbaiki". Dia revisi total,
perbaiki metodologi, dan akhirnya papernya diterima di jurnal Sinta 3. Rasanya...
LEGA SEKALI!
Kunci Bab 6: Meneliti saja
tidak cukup. Kamu harus punya nyali untuk mempublikasikan dan menerima kritik.
Penutup: Mulai dari
yang Kecil, Konsisten adalah Kunci
Memulai penelitian sebagai dosen pemula
memang seperti mendaki gunung. Jangan langsung memandang puncak yang tinggi.
Fokuslah pada langkah pertama.
1. Set Target Kecil: "Saya akan membaca 5 jurnal
bulan ini." atau "Saya akan menulis 1 paragraf latar belakang hari
ini."
2. Jadwalkan Waktu Khusus: 2-3 jam per minggu, no
excuse. Anggap seperti jadwal mengajar.
3. Cari Komunitas: Bergabunglah dengan kelompok
peneliti muda di kampus atau secara online. Support system itu penting.
4. Rayakan Kemenangan Kecil: Proposal selesai? Yuk, ngopi
cantik! Paper submitted? Makan steak!
Yang paling penting adalah MEMULAI.
Tidak peduli seberapa kecil langkahnya. Dari satu penelitian kecil, akan lahir
ide untuk penelitian berikutnya. Konsistensi akan membuatmu tumbuh dari dosen
pemula yang galau menjadi peneliti yang produktif.
Selamat meneliti! Semoga artikel ini bermanfaat dan semangatmu terus
menyala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar