Kalau kamu seorang dosen, pasti sudah akrab dengan kalimat legendaris ini:
“Dosen itu harus Tridharma: Mengajar,
meneliti, dan mengabdi.”
Kalimat itu terdengar keren, tapi... realitanya tidak
sesederhana itu, kan?
Setiap minggu rasanya waktu cuma 24 jam tapi tugas dosen seolah 48 jam.
Belum lagi kalau sudah masuk masa penilaian BKD, jadwal bimbingan skripsi,
revisi proposal hibah, dan deadline artikel jurnal yang menatap tajam di layar
laptop.
Lalu, bagaimana cara agar semuanya tetap jalan — tanpa kehilangan akal (dan
semangat)?
Yuk, kita bahas santai tapi serius: bagaimana mengelola
waktu antara mengajar, meneliti, dan menulis — tanpa burnout dan tetap
produktif.
1. Pahami
Bahwa Waktu Tidak Bisa Dikelola, Tapi Diri Sendiri Bisa
Sebenarnya, waktu itu tidak bisa dikelola.
Ia tetap berjalan 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Yang bisa kita kelola adalah bagaimana
diri kita menggunakan waktu itu.
Kuncinya adalah kesadaran prioritas.
Sebagai dosen, kamu harus bisa memisahkan antara urgent dan important.
Contoh:
·
Urgent tapi tidak penting:
balas semua pesan WhatsApp grup dosen 😅
·
Penting tapi tidak urgent:
menyusun draft artikel untuk publikasi.
Sayangnya, banyak dosen kehabisan waktu untuk hal yang urgent
tapi tidak penting, padahal yang penting tapi tidak
urgent justru menentukan karier jangka panjang.
📌 Tips sederhana:
Setiap pagi (atau malam sebelumnya), buat daftar 3 hal terpenting yang ingin
kamu selesaikan hari itu.
Bukan 10, cukup 3 — tapi pastikan itu benar-benar hal yang berdampak besar.
2.
Mengajar: Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Momentum Belajar
Mengajar memang jadi bagian utama dari pekerjaan dosen. Tapi sering kali,
jadwal padat membuat kita merasa “terjebak” di ruang kelas.
Padahal, mengajar bisa jadi momen produktif sekaligus kreatif
— kalau dikelola dengan cerdas.
Ilustrasi:
Bayangkan kamu mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian.
Alih-alih hanya menyampaikan teori, kamu bisa menjadikan perkuliahan itu
sebagai ladang ide penelitian.
Misalnya, dengan meminta mahasiswa mengidentifikasi masalah di sekitar kampus,
lalu kamu bantu arahkan menjadi ide riset kecil.
Siapa tahu, dari situ justru muncul topik penelitian baru untuk kamu
sendiri!
Selain itu, kamu bisa mengintegrasikan hasil riset dalam bahan
ajar.
Jadi, hasil penelitianmu tidak cuma berhenti di jurnal, tapi juga hidup di
ruang kelas.
Efeknya? Mahasiswa merasa belajar hal yang up to date,
dan kamu jadi dosen yang relevan.
🎯 Strategi praktis:
·
Gunakan hasil penelitian
sendiri sebagai contoh studi kasus di kelas.
·
Catat pertanyaan unik
mahasiswa — sering kali bisa jadi ide tulisan baru.
·
Rekam beberapa sesi kuliah
(tentu dengan izin) untuk bahan refleksi atau konten ilmiah populer di blog
dosenmu.
3.
Meneliti: Jadikan Penelitian Sebagai Proyek, Bukan Beban
Banyak dosen merasa penelitian itu rumit dan menyita waktu. Padahal,
kuncinya adalah mengelola penelitian seperti proyek kerja
— dengan perencanaan, pembagian waktu, dan tenggat yang realistis.
Contoh konkret:
Bayangkan kamu punya proposal hibah penelitian dari kampus.
Jangan tunggu “waktu luang” untuk mengerjakannya, karena waktu luang tidak akan
datang.
Jadwalkan waktu khusus setiap minggu, misalnya:
·
Senin sore: rapat tim riset
·
Rabu pagi: analisis data
·
Jumat siang: menulis
laporan kemajuan
Kalau perlu, gunakan manajemen proyek digital
sederhana seperti Trello, Notion,
atau bahkan spreadsheet untuk melacak progres.
Buat kolom “Target Mingguan”, “Progress”, dan “Deadline” agar kamu tidak
kehilangan arah.
Bonus tips:
Jangan meneliti sendirian terus.
Kolaborasi dengan dosen lain atau mahasiswa bisa mempercepat kerja dan menambah
semangat.
Misalnya, kamu fokus pada desain metodologi, mahasiswa bantu pengumpulan
data, dan rekan dosen bantu analisis.
Hasilnya: penelitian selesai, publikasi meningkat, dan semua pihak belajar
bersama.
4. Menulis: Dari Riset ke
Tulisan, dari Ide ke Publikasi
Menulis adalah napas akademik. Tapi jujur saja, ini juga bagian yang paling
sering “keteteran.”
Padahal, penelitian tanpa publikasi itu seperti menanam tapi tidak pernah
memanen.
Masalahnya, menulis butuh fokus dan mood, sementara
dosen sering diganggu hal-hal kecil: bimbingan, rapat, pengisian e-learning,
atau bahkan urusan administrasi yang tak berujung.
💡 Solusinya: Buat “ritual
menulis pribadi.”
Ilustrasi:
Misalnya, kamu tetapkan waktu menulis setiap hari Rabu pagi jam 07.00–09.00.
Di jam itu, kamu matikan notifikasi, tutup WhatsApp, dan fokus menulis satu
halaman saja.
Jangan pikirkan revisi dulu. Menulis dulu, edit belakangan.
Karena tulisan jelek bisa diperbaiki, tapi halaman kosong tidak bisa.
Selain itu, ubah cara pandangmu: menulis bukan sekadar tugas administratif,
tapi proses reflektif dan berbagi ilmu.
Tulisanmu bisa membantu dosen lain, mahasiswa, bahkan masyarakat luas memahami
hasil penelitianmu.
🎯 Tips efektif:
·
Gunakan template jurnal
sejak awal menulis (agar tidak repot format ulang).
·
Pisahkan waktu menulis dan
waktu mengedit.
·
Gunakan tools bantu seperti
Grammarly, Mendeley, atau Zotero untuk manajemen sitasi.
·
Mulai dari tulisan populer
(blog, opini, artikel pendek) kalau belum sempat menulis jurnal ilmiah.
5.
Menyusun Ritme Mingguan Dosen: Biar Semua Dapat Waktu
Coba bayangkan aktivitas dosen seperti lagu — ada iramanya.
Kamu tidak bisa menekan semua not sekaligus, tapi kalau tahu kapan harus “masuk,”
hasilnya harmonis.
Berikut contoh ritme mingguan yang bisa
kamu adaptasi:
|
Hari |
Fokus
Utama |
Kegiatan
Pendukung |
|
Senin |
Mengajar & Rapat |
Menyusun bahan kuliah, evaluasi
mahasiswa |
|
Selasa |
Penelitian |
Analisis data, pertemuan tim riset |
|
Rabu |
Menulis |
Draft artikel, editing, membaca
referensi |
|
Kamis |
Pengabdian/Administrasi |
Rencana kegiatan masyarakat, laporan BKD |
|
Jumat |
Refleksi & Networking |
Diskusi santai dengan kolega,
mentoring mahasiswa |
|
Sabtu |
Waktu fleksibel |
Catch up tugas tertinggal atau istirahat |
Catatan penting:
Jangan isi setiap jam dengan kegiatan produktif.
Waktu istirahat juga bagian dari produktivitas jangka panjang.
Kadang, ide penelitian terbaik muncul justru saat kamu sedang menikmati kopi
sore di teras rumah.
6. Prioritaskan, Delegasikan, dan
Katakan “Tidak” Saat Perlu
Salah satu penyebab dosen sulit mengelola waktu adalah terlalu
sering berkata “iya” untuk semua hal.
Iya diminta jadi panitia, iya jadi pembicara, iya bantu laporan, iya bimbing
tambahan, dan iya untuk semua urusan kampus.
Padahal, tidak semua “iya” membawa manfaat. Kadang justru membuat kita
kehilangan fokus dari tujuan utama.
🧭 Kuncinya: Prioritaskan hal yang berdampak
langsung pada karier dan kontribusi akademikmu.
Contoh:
Kalau kamu sedang mengejar publikasi internasional, mungkin perlu menolak
sementara beberapa kegiatan non-akademik.
Bukan berarti egois, tapi karena kamu sedang menjaga fokus.
Selain itu, delegasikan hal-hal
administratif ke asisten atau mahasiswa.
Misalnya, tugas input data, pengumpulan referensi, atau editing awal dokumen
bisa dibantu oleh mahasiswa bimbingan.
Ini sekaligus jadi proses pembelajaran bagi mereka.
7.
Seimbangkan Produktivitas dan Kesehatan Mental
Mengajar, meneliti, dan menulis itu penting — tapi kamu juga manusia.
Tidak ada gunanya produktif di kampus kalau kelelahan, stres, atau kehilangan
motivasi.
Ingat, kualitas hasil kerja akademik sangat tergantung pada keseimbangan
hidup.
🧘 Beberapa cara sederhana untuk menjaga
keseimbangan:
·
Sisihkan waktu tanpa layar
digital setiap hari.
·
Berjalan kaki 10–15 menit
di sekitar kampus setelah mengajar.
·
Jadikan membaca buku
non-akademik sebagai “pelarian sehat.”
·
Luangkan waktu untuk
keluarga dan teman.
Analogi:
Dosen yang sehat ibarat baterai laptop yang penuh — bisa bekerja cepat dan
efisien.
Tapi kalau kehabisan energi, bahkan mengetik satu paragraf pun terasa berat.
8. Manfaatkan Teknologi untuk
Efisiensi
Zaman sekarang, teknologi bukan lagi musuh, tapi asisten
terbaik dosen.
Kamu bisa pakai:
·
Google
Calendar atau Notion
untuk menjadwalkan aktivitas.
·
Mendeley/Zotero
untuk manajemen referensi.
·
ChatGPT
atau AI writing assistant untuk brainstorming ide tulisan
(bukan untuk menyalin, tentu saja!).
·
Google
Scholar Alerts untuk mengikuti perkembangan riset terbaru.
Ilustrasi:
Misalnya kamu sedang meneliti “pembelajaran berbasis AI.”
Daripada mencari manual tiap minggu, aktifkan Google Scholar Alert.
Nanti kamu akan otomatis menerima notifikasi artikel baru.
Hasilnya? Hemat waktu, tetap update, dan lebih fokus menulis.
9. Ubah Mindset: Bukan Tentang
Sibuk, Tapi Tentang Berkembang
Banyak dosen bangga mengatakan, “Saya sibuk sekali!”
Padahal, sibuk belum tentu produktif.
Lebih baik ganti kalimat itu menjadi:
“Saya sedang berkembang.”
Karena esensi dari mengelola waktu bukan agar kamu terlihat sibuk, tapi agar
kamu tumbuh sebagai akademisi yang berkontribusi nyata.
10. Penutup: Seni Menjadi Dosen
yang Seimbang
Pada akhirnya, mengelola waktu antara mengajar, meneliti, dan menulis bukan
tentang membagi jam, tapi tentang menemukan irama hidup
akademik yang cocok untukmu.
Setiap dosen punya gaya berbeda.
Ada yang paling fokus di pagi hari, ada yang produktif di malam hari.
Ada yang suka bekerja dalam tim, ada yang nyaman sendirian.
Yang penting, kamu tahu kapan harus menekan pedal gas — dan kapan harus menepi
sebentar untuk mengisi bahan bakar.
“Produktivitas dosen bukan diukur dari berapa banyak tugas yang dikerjakan,
tapi dari seberapa bijak ia mengelola waktu untuk berdampak.”
Jadi, mulai hari ini, mari berhenti mengatakan “tidak punya waktu” — karena
waktu itu selalu ada.
Yang kita butuhkan hanyalah kesadaran, prioritas, dan sedikit
keberanian untuk mengatur ulang hidup dosen yang super dinamis ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar